Showing posts with label toddler. Show all posts
Showing posts with label toddler. Show all posts

Monday, March 05, 2012

Ide belajar balita: Matching Pairs



Kegiatan kali ini melatih anak untuk mencari persamaan/menemukan 2 buah benda yang sama (berpasangan) di antara banyak benda yang dimasukkan dalam 1 wadah. Kegiatan ini sangat bagus untuk melatih diskriminasi visual, ketelitian dan konsentrasi anak.

Saya pun bongkar-bongkar  mencari 2 benda yang sama di sekeliling rumah dan memasukkan benda-benda ini ke dalam keranjang:
- Boneka kepala gajah kecil
- Tutup wadah selai
- Segitiga kuning dari balok kayu
- Botol bekas minuman dan tutupnya
- mainan plastik doraemon
- Spidol kuning
- Mega Blocks satuan
- Bola plastik putih
- Puzzle segitiga
- Klip kertas bentuk gajah kecil
- Tumbuhan plastik
- Gelang dari manik kayu

Saya berikan instruksi sederhana kepada Neo : "Neo, semua barang di keranjang ini ada pasangannya. Neo cari 2 barang yang sama ya". Saya contohkan dengan mencocokkan sampai 2 pasang benda , kemudian menaruhnya kembali ke dalam keranjang untuk Neo lakukan sendiri. Karena kegiatan ini memerlukan banyak tempat (untuk memilah pasangan-pasangan benda), maka saya tidak menaruhnya di meja, tapi dengan menggelar selimut di kasur. 



Neo nampaknya langsung memahami maksudnya dan segera sibuk mencari benda-benda yang sama.  Dia pun sempat mengamati benda-benda yang dipegangnya dan berusaha mengkolaborasikannya dengan beda-benda lain, seperti:
- memasukkan spidol ke dalam botol
- menempatkan bola ke atas lubang botol/menganalisa apakah bola muat dimasukkan ke dalam botol
- memilah-milah jarak yang sesuai untuk tiap-tiap pasangan
dan tak lupa mengeksplorasi tiap-tiap benda yang ditemukannya. Dalam kegiatan seperti ini, orang tua seharusnya memang memberikan waktu sebanyak-banyaknya bagi balita untuk menyelesaikan 'tugas'nya dan biarkan ia berimajinasi dengan benda-benda yang ditemukannya. 
Saya nggak menyangka Neo akan mengerjakan aktivitas ini dengan serius dan sungguh-sungguh menyelesaikannya! :) I'm one happy mama.

Neo berpose setelah selesai merapikan barang-barangnya kembali ke dalam keranjang ;)

Saturday, March 03, 2012

Stik es krim & tumbler untuk latihan motorik halus


2 benda sederhana yang tersedia begitu saja di rumah, namun ternyata bisa menjadi sangat berguna untuk latihan motorik halus dan sangat digemari Neo. Letakkan Tumbler dan stik es krim dalam wadah di atas meja dan ajak anak ke meja. Instruksinya sederhana saja: "Neo, coba masukin stiknya satu-satu ke dalam tumbler ini ya..". Bila perlu, contohkan 1-2 kali. Selanjutnya biarkan si balita mencoba sendiri. Ini penting karena anak perlu belajar mendengarkan dan memahami kalimat instruksi sederhana. 

Anak pasti akan tergoda untuk memasukkan banyak stik sekaligus, tapi salah satu hal yang saya sukai dari tumbler ini, lubangnya cukup kecil, jadi paling banyak hanya bisa muat 2 stik saja. Ini kesempatan untuk mengajari anak kesabaran dan ketelitian, bahwa dia hanya bisa memasukkannya satu persatu.  Jangan lupa sebutkan warna-warna stik (jika menggunakan yang berwarna) yang berhasil dimasukkan anak untuk memantapkan pengenalannya akan warna.
Latihan motorik halusnya bukan hanya terletak pada kegiatan memasukkan stik ke dalam lubang kecil, tapi juga mengambil stik yang pipih dari permukaan wadah yang datar cukup menantang lho untuk balita, apalagi ketika jumlah stik sudah tinggal sedikit (sama seperti kita mau memungut kartu dari atas lantai yang datar, seringkali sulit bukan?). Anak akan belajar untuk memanipulasi posisi stik dan memanfaatkan sudut wadah untuk bisa memungut stik. 

Sejak pertama kali dikenalkan dengan aktivitas ini, hampir setiap hari Neo kembali meminta melakukannya. Dia suka banget! memang sepertinya ada sesuatu antara balita dengan kegiatan mengeluar-masukkan benda ke dalam wadah.


Wednesday, February 29, 2012

Kotak Kuning untuk Neo

Saya lupa mengambil foto benda-benda ini di dalam kotak sebelum diberikan ke Neo, tapi sudahlah,.. you get the point. lol
Setelah sukses dengan kotak merah-nya, saya membuatkan lagi kotak sensoris (=kotak berisi benda-benda yang ditujukan untuk merangsang sensori anak) dengan aneka barang berwarna kuning yang dimasukkan ke dalam Kotak Kuning untuk Neo, si 22 bulanku.

Isinya antara lain:
- boneka Tweety (sebagai pilihan benda yang lembut)
- celana pendek Neo (kain sebagai benda lembut)
- kertas polos kuning
- mega block
- foam block
- tupperware warna kuning (latihan motorik halus saat membuka-tutup wadah)
- tupperware berisikan snack (sebagai rangsangan taktil)
- wadah play dough
- cetakan play dough
- sedotan plastik
- mobil-mobilan
- mainan Bob The Builder
- bola dengan tekstur
- sepotong kertas crepe
- beads kayu dan tali untuk ronce
- botol plastik dari set Mini Bowling kami
- pensil
- jepit jemuran
- tutup botol plastik

Bongkar-bongkar yuuuk! Saya suka sekali menyaksikan antusiasme seorang anak kecil saat melihat barang-barang yang boleh dia buat berantakan. Memberikan kesempatan bagi balita untuk sekedar membongkar-bongkar dan memberantakan barang-barang (dengan tujuan eksplorasi tentunya) adalah salah satu hal yang menurut saya sangat berharga. Melarang balita menyentuh, apalagi membongkar-bongkar barang-barang, tentunya sudah biasa, bahkan itulah yang biasanya mereka hadapi, yaitu batasan-batasan dan larangan-larangan dimana-mana. Kebebasan untuk mengikuti rasa ingin tahunya pastilah terasa melegakan dan memerdekakan bagi mereka.


Wajah bahagianya saat menemukan Tweety, si burung kuning yang sudah lama nggak dilihatnya. "Tweety!" pekiknya. Beberapa saat kemudian ia pun menempelkan Tweety ke pipinya ;) So sweet!

Begitu menemukan sebuah wadah dengan snack di dalamnya, Neo langsung membuka wadah dan memakan beberapa butir snacknya, nggak semua, hanya beberapa butir saja. Saya memang sengaja menaruh wadah dengan isi snack dengan harapan ia menyadari dan memakannya, tapi sungguh nggak menyangka dia benar-benar meluangkan waktu untuk berhenti sejenak, membuka wadah dan mencicipinya :)

Ini adalah salah satu favorit saya. Neo mengumpulkan beberapa benda ke dekat bantal guling kecil miliknya, termasuk Tweety. Setelah membaringkan Tweety di bantal, ia pun menarik celana pendek miliknya dari dalam kotak dan menutupi tubuh Tweety, ternyata celana pendeknya itu menjadi selimut. "Ini Tweety-nya bobo sini ma. Ini blankey-nya." Imanjinasinya bermain di sini, mama pun dengan semangat mendengarkan dan memperhatikan apa yang dibuat oleh Neo.  

Tak lupa Neo ikutan bobo di bantal bareng Tweety. "Neo ikut bobo." ;)

Selanjutnya Neo beralih ke foam blocks untuk menyusun landasan untuk mobil-mobilannya, Tweety pun jadi supervisor khusus ber'topi' kuning! Hihihi. Uber cute!

Saya mengajak Neo untuk bergantian menyusun menara balok yang tinggi, dia pun terpana saat melihat menara yang kami susun jadi cukup tinggi. Tapi bagian favoritnya apalagi kalau bukan merobohkannya!! Ha! Neo pun terkikik geli.

Kertas crepe sempat dicoba dijadikan dasi/kalung, tapi ternyata kurang panjang. 
Bola kuning bertesktur sempat dipegang juga, kata Neo namanya "Bola Geli". ;D 
Saat-saat balita serius dengan suatu benda seperti ini, bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk menjelaskan benda tersebut kepada anak, tentang warnanya, teksturnya, beratnya, namanya, jenisnya dan sebagainya. 


Nah, yang satu ini agak improvisasi sedikit, saat menemukan hanya ada satu buah mega block di dalam kotak (saya hanya ambil satu yang berwarna kuning), ia pun gelisah dan segera minta ke mama, "Mau terowongan ma... bikin." Demi kelancaran permainan dan terpeliharanya keasyikan si balita, mama segera mengambilkan beberapa mega blocks aneka warna yang kemudian dibuat menjadi terowongan bagi mobil-mobilnya Neo. Dasar si anak cowok, buntut-buntutnya tetep main mobil juga! ;) hehe. Permainan mobil dan terowongan inilah yang kemudian menjadi permainan penutupnya hingga ia bosan dan memutuskan untuk berhenti bermain dengan si kotak kuning. 

**catatan:
- ternyata di kotak kuning ini, Neo cenderung untuk memakai benda-bendanya untuk permainan imajinasi. Menakjubkan ya betapa tak terduganya imajinasi seorang anak kecil. Sungguh suatu pengalaman yang indah dan seru di mata mama. Saya yakin, Neo telah belajar sedikit ataupun banyak dari permainan bebasnya ini, begitu juga dengan mama, semakin dalam lagi mengenal Neo dan pikirannya yang luar biasa. 


Monday, February 27, 2012

Kotak Merah untuk Neo

Neo suka sekali dengan warna. Dengan bangga ia menunjukkan bahwa ia  bisa mengenali warna-warna pada berbagai benda. Dalam keseharian kita, kita terpapar pada banyak warna sekaligus, untuk memberikan pengalaman berbeda untuk Neo, saya pun mengumpulkan beberapa benda berwarna sama (merah) di sekitar rumah untuk dimasukkan ke dalam Kotak Merah untuk Neo. Tujuannya supaya ia mendapat pengalaman sensoris yang berbeda dari yang biasa, yaitu mengamati dan mengeskplorasi berbagai benda dalam 1 warna yang sama.


Benda-benda yang di dalamnya antara lain:
- baju merah polos berbahan sangat lembut milik saya
- kertas
- mobil-mobilan
- beads kayu
- sedotan plastik
- foam blocks
- tali sutra
- tali plastik
- pipe cleaner
- wadah yoghurt bekas
- bola plastik
- jepit pakaian
- cetakan play dough
- panci mainan
- pony beads
- tutup botol
- botol
- gantungan kuci
- mega blocks
- link-um discs
Saya juga menambahkan 2 potong kertas bertuliskan "Red" dan "Merah" pada kotak saat diberikan pada Neo.
Tanpa ragu, Neo langsung membongkar-bongkar dengan semangat isi kotak merahnya.  Senyum senang pun menghiasi wajahnya. 

Dengan serius memperhatikan gantungan kunci berbentuk lumba-lumba sambil mendengarkan penjelasan dari mama setelah menanyakan "Ini pain ma?" (baca: ini ngapain ma? yang artinya sama dengan ini apa ma?, red.). 

Menemukan si baju lembut, menyentuhnya dan menempelkannya ke pipi. Pengalaman sensorik yang menyenangkan!
"Ini red truck, mama!"

Suka sekali saat menemukan sedotan plastik, ia meniup, menggigit, pura-pura minum, pura-pura bermain suling dan sebagainya. Cukup lama waktu ia habiskan bersama si sedotan. Menarik bahwa seorang balita pun mengerti kalau sebuah benda sederhana dapat diinterpretasikan dalam banyak cara. 

Saya suka sekali melihat bagaimana pikiran si kecil bekerja tanpa instruksi dan bagaimana ia 'sibuk' mengeksplorasi, menyentuh, melihat, membaui, menyicip/menggigit, memperhatikan, melempar, mengangkat, menyusun benda-benda itu sesukanya. Memang kesempatan untuk bereksplorasi dengan sensory tub adalah salah satu kegiatan yang penting dan sangat menyenangkan untuk balita. 

"Ini pake topi" ujarnya saat menemukan sebuah topi kecil dari plastik dan menaruhnya di kepala. "Ini buat makan" katanya sambil menyuapkan sendok plastik ke mulutnya. Si batita 'pamer' pemahamannya akan fungsi benda-benda kepada mama :)

Senang sekali waktu mama membuatkan dan memasangkan kalung dari tali dan cetakan play dough untuknya. Selalu ada tempat untuk permainan dress-up ;)

Akhirnya, setelah bosan membongkar seluruh isi kotak, ia pun memilih beberapa barang dan membawanya ke atas tempat tidur dan mulai menyusun sebuah tempat pencucian mobil. 
Mobil-mobilannya ditaruh atas tiang hidrolik untuk dicuci dan disemprot menggunakan si sedotan plastik! Yay for imaginative play!

** catatan:
Melihat reaksi Neo yang positif (baca: tertarik untuk mengeksplorasi obyek-obyek di dalam kotak, perhatiannya tersita sampai lebih dari 5 menit) terhadap si kotak merah, saya berencana untuk membuatkan lagi baginya dalam warna-warna yang lain. 
Tidak semua benda disentuh dan dipilih Neo, hanya benda-benda tertentu yang diminatinya saja. Ada baiknya menaruh benda-benda yang sama sekali baru/tidak pernah dilihat oleh anak sebelumnya. 
Semakin sebuah benda dapat di manipulasi, semakin menarik untuk balita. 


Thursday, February 23, 2012

Felt Button Snake untuk latihan motorik halus



Salah satu aktivitas motorik halus yang menantang bagi batita adalah memasang kancing (buttoning), karena itu saya ingin mulai melatih Neo melakukannya. Setelah mencari-cari ide latihan buttoning yang menyenangkan, saya pun menemukan ide tentang button snake ini. 

Bahan-bahan:
- kain felt aneka warna (saya hanya ada 4 warna)
- pita sutra 20-30 cm (lebarnya sama dengan ukuran kancing)
- kancing ukuran besar
- gunting
- benang 
- jarum

Cara membuat:
1. Potong-potong kain felt menjadi bagian-bagian kecil, saya memilih bentuk yang termudah yaitu persegi empat. Tapi bila ingin lebih kreatif, bisa dengan membuat bentuk-bentuk geometri agar bisa sekalian digunakan untuk belajar bentuk (segitiga, lingkaran, pentagon dsb).


2. Jahitkan kancing pada masing-masing ujung pita.
3. Guntinglah lubang kancing pada tiap lembaran kain felt yang sudah dipotong-potong tadi.
4. Jadi deh! siap digunakan untuk berlatih memasangkan kancing ;)
 

kakak Arvin bantu nyobain si Felt button Snake sebelum dikasih ke Neo

Contohkan cara memasangkan kancing ke anak, lalu minta dia  mengikutinya

Arvin sukses menyelesaikan ularnya. 

Neo semangat banget saat inisiasi awal dengan 'mainan baru'nya dan setelah dicontohkan, tak ragu mencoba  untuk segera juga. Saking konsentrasinya, lidahnya pun ikutan 'mikir'.. hehe

Supaya lebih mantap, neo pun memutuskan untuk melakukannya sambil berdiri (ngaruh nggak sih?? hehe). Setelah berhasil memasukkan 3-4 lembar felt dalam waktu yang cukup LAMA, ia pun  akhirnya menyerah dan kehilangan minat.

Saya memang nggak ada harapan yang muluk untuk Neo bisa langsung menguasai kegiatan ini, ini hanya inisiasi awal dan bersifat pengenalan saja. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya akan mempresntasikan kembali latihan ini kepada Neo, sampai kematangan fisik dan otot-otot motorik halusnya berkembang. 




Tingkah Laku si anak usia 22 bulan




Hitung mundur ke ulang tahun Neo yang kedua sudah tambah dekat, tinggal 2 bulan lagi :) Puji Tuhan
saat ini si ocil sehat-sehat dan tambah pintar. Perbendaharaan katanya yang semakin banyak dan juga ekspresinya yang semakin kompleks membawa banyak senyum dan tawa dalam keseharian kami, tak jarang juga kekesalan, hehe. 
Beberapa hal yang cukup menonjol di bulan ke 22 ini, antara lain:

1. Mulai banyak tantrum.
Mengingat komunikasi yang masih belum sepenuhnya lancar, memang wajar jika batita seringkali frustrasi dan marah saat tidak dipahami. Di usia ini juga kata-kata seperti "nggak mau" dan "nggak" kayaknya lagi populer buat Neo. Ajakan rutin seperti mandi, memakai baju dan makan seringkali ditolak mentah-mentah, entah itu untuk menunjukkan independensinya atau hanya ingin menguji kesabaran mama... Pokoknya tidak ada ajakan yang langsung diterima, pasti ditolak dulu. Sigh...

2. Merasakan dan mengungkapkan rasa takut.
Ada beberapa kesempatan saya mendapati Neo mengatakan bahwa ia takut, "Mama, takut Neo.." katanya. Biasanya melihat adegan film atau bertemu dengan binatang yang tidak familiar. Sementara reaksi awal kita sebagai orang tua adalah untuk berkata "Nggak usah takut, nggak apa-apa kok", ternyata menurut para ahli, hal ini adalah NORMAL bagi anak seusianya. Tidak apa-apa untuk mengapresiasi dan mengajarinya untuk memahami rasa takutnya, karena bagaimanapun rasa takut itu penting bagi keselamatannya.  

3. Menunjukkan minat yang sangat besar terhadap tulisan dan huruf-huruf cetak di sekitarnya.
Sekarang ini, Neo suka sekali menunjuk tiap huruf yang dilihatnya, untuk sebagian huruf yang sudah ia kenal akan dia namai dengan semangat, sebagian lagi bila ia tidak tahu, akan ditanyakan ke mama. "Ini apa ma?" atau "Ini pain?" (ia masih bingung pemakaian kata apa dan ngapain?). Saya selalu geli kalau mendengar lagu alfabet versi Neo yang asbun alias asal bunyi.. Hihi, how cute!


4. Membangun minatnya dari minat sang kakak.
Neo tiap hari terpapar pada seluruh aktivitas sang kakak, Arvin the Dino Boy (fans berat dinosaurus dan segala jenis hewan prasejarah lainnya). Jadi ia pun sekarang jadi Dino Boy juga yang sehari-hari menemani sang kakak bermain dengan figurin dinosaurus, membaca buku dinosaurus, menggambar dinosaurus dan menonton film dan video tentang dinosaurus. Dia pun dengan mantap memamerkan pengetahuannya akan beberapa nama dino, seperti: "Tiyeks" untuk Tyrannosaurus Rex, "Atops" untuk Triceratops, "Ofo" untuk Dilophosaurus, "Atus" untuk Stethacanthus, "Opus" untuk Parasaurolophus dan "Akhio" untuk Brachiosaurus.

5. Semakin gemar memanipulasi benda kecil dan menyortir benda-benda.
Di usia ini, Neo suka sekali dengan benda-benda yang bisa dibuka pasang, dibuka tutup, dimasukkan dikeluarkan dan juga menyortir benda-benda kecil. Tentu saja mama menyambut dengan gembira hal ini dan menyiapkan beberapa kegiatan untuk memfasilitasi kegemaran yang positif ini. Sejauh ini favoritnya adalah menyortir benda berdasarkan warna, karena ia sudah menguasai warna-warna. Kegiatan seperti ini sangatlah baik untuk melatih keterampilan motorik halusnya dan merangsang kemampuan kognitifnya untuk pengorganisasian benda-benda.

6. Menggunakan kata "Yuk" dan "Dong"
Neo sedang suka-sukanya membubuhkan 2 kata ini dalam pembicaraannya sehari-hari, seperti:
"Mama, makan yuk!"
"Mama, netek yuk!"
"Kak Arvin, minjem dong!"
"Kak Fael, sama-sama dong!"
Yang membuat saya tersenyum kecil tiap kali mendengarnya.

Sehat terus ya nak ;) God bless you always. 

Monday, January 30, 2012

Homemade Light Box


Saya ingin sekali memiliki Light Box untuk sarana bermain dan bereksplorasi bagi anak-anakku tercinta, jadi saya super senang saat pertama kali melihat ide DIY-nya di 2 blog favorit saya: Teach Preschool dan Play At Home Mom. Alasan yang membuat perealisasiannya tertunda-tunda adalah karena bahan utamanya belum saya miliki, artinya saya HARUS membeli (yang membuat saya ragu). Namun, membayangkan bahwa anak-anakku akan terpana dalam kekaguman dari pengalaman yang unik, serta keasyikan karena pengalaman baru dalam bermain dan bereksplorasi, membuat saya untuk berusaha mewujudkannya.

Kenapa light box untuk anak-anak? 
Menurut Linda Thornton dan Pat Brunton (penulis buku "Making The Most Of Lights and Mirrors") dalam artikel ini, pengalaman dengan cahaya dan bayangan bagi anak-anak akan menumbuhkan rasa kekaguman akan dunia sekitar mereka dan juga menyediakan lingkungan yang 'kaya' untuk memicu keingintahuan alamiah mereka. Dan juga, material-material yang digunakan untuk mengeksplorasi cahaya juga pada dasarnya bersifat memunculkan kesadaran akan estetika dan  penghargaan akan keindahan. 

Saya akhirnya bisa merealisasikan impian saya, dengan membeli sebuah kotak plastik semi-transparan untuk dibuat dijadikan si light box. Waktu yang dihabiskan kira-kira 1 jam untuk mengerjakannya dan saya merasa puas dengan hasilnya. 

Bahan-bahan:
- 1 buah kotak plastik transparan (yang biasa digunakan untuk menyimpan makanan)
- lampu natal/lampu untuk berkemah/emergency light
- kertas perak/alumunium foil/mylar
- kertas putih polos/wax paper
- gunting
- selotip

Cara membuat:
1. Pertama-tama saya lapisi seluruh bagian dalam kotak dengan lapisan kertas perak, fungsinya untuk memantulkan cahaya lampu dan mengunci cahaya di dalam kotak (cahaya tidak banyak 'terbuang' keluar).
2. Kemudian susun lampu diatas permukaan kertas secara merata di dalam kotak.


3. Berhubung bagian tutup kotak plastik yang saya beli kurang buram, jadi saya menggunakan kertas putih yang diukur sesuai dengan luas tutup untuk ditempelkan ke sisi dalam tutup kotak dengan selotip transparan. Keluarkan kabel lampu pada satu sisi kotak, jika memungkinkan potong sedikit bagian kotak untuk memberi tempat bagi kabel lampu --> disinilah keuntungannya menggunakan camping light/lampu berbaterai karena tidak dipusingkan dengan kabel dan sifatnya bisa lebih portabel - tidak harus mencari stop kontak lisrik terdekat ;p
4. Pasang kembali tutup kotak, nyalakan lampu. Selesai deh! sangat simpel dan mudah, tapi memberikan kesenangan berjam-jam!

Selain sebagai hiburan bagi mata, bermain dengan berbagai material di atas light box memungkinkan  pengalaman multi-sensori (visual (benda-benda aneka warna), sentuhan (pasir, beras, garam), bau-bauan (misalnya kelopak bunga segar) - tergantung kreativitas kita, bahkan taktil -coba gunakan bahan makanan (misalnya jelly, gummy bears dll), bahkan juga auditoris - bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh material berupa benda padat - misalnya bunyi kelereng yang dituang kedalam mangkuk kaca dan plastik). Saya pun senang sekali menggabungkannya dengan beberapa latihan motorik halus, seperti menggunakan sendok, buka-tutup wadah, menuang dsb.

Berikut beberapa ide material untuk bereksplorasi dengan light box yang sudah kami coba:

1. Disk warna yang dibuat dari cellophane. Sangat ideal untuk belajar warna dan pencampurannya (warna-warna primer dan warna sekunder).

2. The amazing Water beads :D dan beberapa wadah dan bingkai transparan.






3. Botol-botol transparan berisikan air yang diwarnai, termasuk beberapa koleksi discovery bottles kami.


4. Sebagai sarana mengagumi dan memahami gambar-gambar karya Arvin :)


5. Kelereng dengan warna metalik.


6. Beras yang sudah diwarnai. 


Kami akan terus mencoba berbagai ide-ide materi lain yang nggak kalah seru. Sejauh ini, Water beads masih menjadi material eksplorasi paling jawara bagi anak-anak saya.

Tertarik mencoba?