Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Friday, March 30, 2012

Ulang Tahun Arvin yang ke-7

my big boy!

Pada tanggal 21 Maret yang lalu, anak pertamaku Arvin genap berusia 7 tahun, betapa bermaknanya ulang tahunnya ini. Tidak hanya menandakan bahwa Arvin telah semakin dewasa dan sudah bisa ini-itu, tapi juga menandakan 7 tahun bagi saya menyandang predikat terhormat menjadi seorang MAMA.

Betapa berharganya 7 tahun yang sudah berlalu itu, semua suka, duka, semuanya becampur aduk dan terangkai menjadi satu, suatu cerita tentang seorang anak yang sungguh amat dicintai.

Tidak hanya ulang tahun Arvin kemarin menandakan 7 tahun menjadi ibu bagi saya, hal itu juga menandakan 7 tahun menjadi papa, oma, opa, paman dan bibi bagi seluruh keluarga, mengingat ia adalah anak/cucu/keponakan pertama bagi semua orang. Seluruh keluarga bersama-sama merayakannya dengan porsi dan cara mereka masing-masing, mengukir bahagia di hati sang anak 7 tahun.

Selamat ulang tahun Arvin, si cintanya mama. Kiranya engkau tumbuh sehat, bahagia dan senantiasa berhasil dalam apa pun yang kamu lakukan. Jadilah anak yang selalu takut akan TuhanMu. Semua kata di dunia tidak bisa menuliskan doa mama untukmu, karena begitu banyak doa yang telah, sedang dan akan terucap seiring dengan perjalanan kehidupanmu ke masa yang akan datang.


Neo serius memperhatikan kakak memotong kuenya



So sweet...!





I love you big boy!

Monday, February 06, 2012

Hal-hal mengejutkan bagi orang tua seiring bertumbuh besarnya anak


Saat saya membaca artikel oleh Rachel Sarah di sini, saya merasa sepenuhnya setuju. Pastinya melihat anak bertumbuh dan berkembang semakin besar setiap harinya adalah hal paling membahagiakan bagi setiap orang tua. Banyak yang berubah pada diri anak semakin dia besar dan diantara banyaknya hal-hal yang indah, ada pula beberapa hal yang lucu, konyol dan bahkan mengesalkan dan semuanya itu menjadi hal-hal yang mengejutkan bagi orang tua. 

Beberapa poin yang diangkat dalam artikel tersebut, diantaranya:


Anak akan mengatakan “I love you” tanpa diminta

Ya… nggak ada yang menandingi hal ini. Saya terus terang tidak ingat kapan persisnya Arvin mulai mengatakan “I love you” tanpa ‘pancingan’ terlebih dahulu. Mungkin sekitar usia 3-4 tahunan. Saat momen itu datang, sungguh, semua jerih payah kita seperti hilang begitu saja. Doa saya adalah untuk mendengar kalimat indah ini dari mulut anak-anak saya, bahkan sampai ia besar nanti dan tidak perlu merasa malu untuk mengucapkannya. Saya pun bertekad mengatakan hal seperti ini setiap hari, setiap saat tanpa diminta.


Anak akan menjadi terlalu besar untuk duduk di pangkuan mama

Betapa cepatnya anak-anak ini bertumbuh besar! Rasanya baru kemarin saya menggendongnya di dalam baby sling kesana kemari, memangkunya saat membaca buku, ngobrol dan menonton film. Tapi sekarang? Bisa-bisa paha saya kesemutan kalau mau memaksakan diri… itu pun kalau anaknya mau. Jadi, nikmati saja bila si kecil sedikit-sedikit minta di pangku, karena akan datang harinya dimana pangkuan kita tidak akan muat lagi untuk tubuhnya yang semakin besar.



Anak akan menginginkan waktu untuk sendirian

Saya masih ingat masa-masa melelahkan dimana Arvin tidak bisa jauh dari saya (bahkan selalu mengikuti dan mengekor saya tiap kali saya berpindah ke ruangan yang lain). Dan saya pun tidak bisa ingat kapan persisnya fase itu berakhir sampai dia mulai suka menghabiskan waktu sendiri, menghibur dirinya sendiri dan mampu mencari kegiatan dan memutuskan apa yang ingin dia lakukan secara mandiri.  Jam-jam berlalu dan bahkan tidak sekalipun terdengar panggilan “Mama!”. Sungguh melegakan dan (sesungguhnya) agak sedikit mengharukan.


Anak akan mengajari beberapa hal pada kita.

Dulu saya-lah sumber pengetahuannya, setidaknya saya juga yang mengkoordinasi materi-materi yang akan dipelajarinya, menjadi satu-satunya tempat untuk mencari jawaban baginya tiap kali ada hal yang kurang ia pahami. Kini dia jadi asisten pengingat untuk segala detail kecil yang sering saya lupakan. Sekarang dia mengajari saya bahwa sauropod adalah sebutan untuk sekumpulan dinosaurus herbivora yang berleher panjang dan berjalan di atas 4 kaki. Ornithopod adalah sekumpulan dinosaurus yang berparuh seperti bebek dan suka memakai kedua tangannya untuk mencapai tumbuhan pendek.  Theropod adalah sekumpulan dinosaurus yang karnivora dan bertubuh raksasa. WoW! Terima kasih nak! Sampai kapanpun, mama belum tentu tahu tentang informasi ini! :D


Anak akan menyakiti perasaan kita

Kenyataan yang pahit memang, tapi pada suatu ketika, saat anak seang marah atau kecewa pada kita, ia pun berkata: “Arvin nggak sayang lagi sama mama…”. Belum lagi kejujuran khas anak kecil yang mewarnai hari-hari kita: “Ma, mama mandi dong! Arvin cium mama udah bau!” atau “Kok gigi mama jelek sih? Rusak-rusak?” atau “Ma, Arvin suka mama yang dulu masih cantik...” saat kami bersama-sama melihat foto beberapa tahun yang lalu saat saya jauh lebih memperhatikan penampilan daripada sekarang. Ouch!


Anak akan menunjukkan keberaniannya

Saya paling bangga saat pertama kali masuk Taman Kanak-kanak dan saya tidak bisa mengantar Arvin (karena megurus adiknya yang baru lahir) dan kami langsung mendaftarkannya untuk ikut mobil jemputan sekolah. Sejak malam saya kurang tidur dan membayangkan kemungkinan ‘drama’ yang bisa saja terjadi hingga saya pun siap-siap untuk ikut mengantar membawa bayi saya ke sekolah, kalau-kalau Arvin menangis dan tidak mau ditinggal di kelas. Semua ketakutan saya tidak terbukti! Dengan manisnya ia bersiap-siap, masuk ke dalam mobil jemputannya dan berkata: “Bye-bye mama! Arvin sekolah dulu ya.”. Seiring dengan mobil yang menghilang di sudut jalan, air mata haru saya pun menetes di sudut mata.



Anak akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik
Memiliki anak mendorong saya menjadi lebih baik daripada diri saya sebelum punya anak. Setidaknya mulai dari kebiasaan kecil sehari-hari. Dulu saya sering menggunakan kata-kata yang tidak baik (dan saya tidak bangga) dalam perkataan saya sehari-hari. Sekarang semampunya saya STOP menggunakan kata-kata buruk dan berusaha menyaring tiap perkataan yang keluar dari mulut saya. Begitu juga dengan berbagai kebiasaan harian yang saya ubah untuk memberikan contoh yang baik bagi anak saya. Saya pembenci matematika dulu, tapi sekarang saya bagaikan advokat matematika untuk mempromosikan 'matematika itu asyik' kepada Arvin. 

Tuesday, January 10, 2012

Homemade toy: Car (and Airport) Play Mat dari karton bekas



Ini adalah salah satu proyek mainan saya yang mandeg cukup lama. Dari sejak saya mendapatkan bahan utamanya (karton lembaran), memulai membuat, sampai akhirnya menyelesaikannya, memakan waktu lama, sekitar 1,5 bulan tertunda. Padahal biasanya saya tipe orang yang nggak berhenti kalo belum selesai. Nggak lain karena play mat ini dari segi ukuran memang lebih besar dari proyek-proyek sebelumnya, ditambah dengan keterbatasan waktu saya sehari-hari, tidak mungkin untuk diselesaikan dalam satu hari, jadilah dia sempat di-anak-tiri-kan. bahkan untuk si airport yang sudah lebih dulu dibuat, juga belum sepenuhnya kelar sampai dimainkan oleh Arvin. 
Inspirasi membuat car mat ini banyak sekali saya lihat di berbagai situs blog para mama yang super crafty dan keren, antara lain dari Oopsey daisy Blog dan juga a girl and a glue gun. Namun semuanya berbahan dasar kain felt (memang jauh lebih bagus karena lebih awet, mudah dibersihkan, mudah disimpan dsb). Itu tentu bukan pilihan saya, mengingat harga kain felt yang (bagi saya) relatif mahal. Inti dari mainan-mainan yang saya buat selalu bermodal murah (bahkan gratis! hehe) karena kebanyakan hanya memanfaatkan barang-barang bekas (ingat the real mak irit?). Untuk membuat play mat ini saya nggak keluar uang SAMA SEKALI karena semua bahannya ada di rumah, eits ada sih sekitar 6000 rupiah, itupun buat beli glue stick karena milik saya sudah habis ;p

Si sulung sempat bantuin mama bikin si car mat
Bahan-bahan:
- 1 lembar besar karton (saya menggunakan kardus bekas kotak pigura ukuran sekitar 85x70cm)
- berbagi kertas warna
- stiker label polos
- alat tulis
- penggaris
- lem
- cutter dan gunting
- spidol hitam permanen

Cara membuat: 
1. Pertama-tama dan yang terpenting ukur karton dan tentukan desain letak dan bentuk jalan yang akan dibuat. Saya memilih bentuk jalanan yang super sederhana, hanya jalan lurus dan belok, nggak ada putaran ataupun terowongan dsb.

2. Setelah desain ditentukan, mulailah mengukur dan memotong-motong kertas warna disesuaikan dengan ukuran karton. Proses ini cukup melelahkan karena setelah cukup pusing berpikir, tangan pun cukup pegal mengukur, menggaris dan memotong-motong kertas seharian ;p (kok curcol?)

3. Intinya dengan melihat gambar di foto, cukup jelas bahwa modal utama membuatnya adalah ketekunan dan kreativitas saja. Siapkan bahan-bahan, desain, dan yang terpenting WAKTU (saya menyelesaikannya dengan cara nggak tidur sampai jam 5 pagi. Jangan ditiru!). 
Akhirnya jadi juga deh.. Ta da!

hasil akhir si car mat
Fitur-fitur yang ada di mat sebagian saya sesuaikan dengan koleksi mainan anak  (fire fighter set, construction set, dll)  , sebagian lagi adalah tempat-tempat yang saya sering didatangi anak/familiar (school, church, mall)


Betapa senangnya saya karena saat saya berikan car mat (dan airport mat)-nya Arvin senang sekali. dengan semangat dia langsung cari lokasi, mengumpulkan mainan-mainan mobil dan pesawatnya dan ia pun bermain untuk waktu yang cukup lama. Mama puas banget dan capek-capek begadangnya? ah, sudah lupa tuh! ;)
Arvin sempat kasih saran, menurut dia kok kurang 'hijau' alias nggak ada pepohonan dan bunga-bunga (I love this kid!). Oke lah nak, renovasi selanjutnya akan mama tambahkan hijau-hijauannya.
Saran berikutnya cenderung 'menantang' saya, katanya dia mau sama-sama mama bikin kota yang 3D, jadi bangunan-bangunannya menjulang ke atas, dibuat dari kotak-kotak bekas yang digambari jadi gedung-gedung dan rumah, "Jadi kita harus mulai kumpulin kotak-kotak bekas, ma!" hehehe (I TOTALLY love this kid!) 

Beberapa foto yang sempat diambil waktu Arvin sedang asyik memainkan Car and Airport play mat-nya:
Saya paling suka melihat Arvin serius menyusun-nyusun mainan ;)

Construction set yang sibuk ;)

Armada fire fighter yang lagi siaga

Police station yang juga sibuk dan selalu siaga

Airport yang padat di peak season awal tahun
Ah, senangnya jadi mama.





Sunday, January 01, 2012

2011 dalam kenangan

Tahun ini membawa banyak perubahan dan penyesuaian dalam kehidupan kami. Tidak semua mudah, tapi semuanya berhasil dilalui. Dalam hitungan jam, tahun ini akan segera berakhir dan berganti ke tahun yang baru. Untuk mengenang apa-apa saja yang terjadi sepanjang tahun ini, berikut beberapa hal penting yang akan selalu hidup dalam kenangan dan tercatat dalam sejarah keluarga kami:

1. Ulang tahun Neo yang pertama.
Ya,.. di tahun ini Neo melalui salah satu langkah penting dalam hidupnya: Melepas masa bayi. Bahagianya melihat pertumbuhan dan perkembangan Neo sepanjang tahun keduanya ini. Hari-hari kami diisi dengan keceriaan gerak lincah si balita, kebandelan dan keisengan yang tiada akhir, penasaran akan kata-kata baru yang dikuasainya, permainan seru yang disukai si balita dan teriakan, pekikan, serta gelak tawa setiap saat. 

2. Kepindahan keluarga kami dari kota A ke kota B. 
Bulan Juli di tahun ini keluarga kami pindah kota tinggal. Beberapa penyesuaian mendasar harus dijalani, terutama bagi anak-anak. Kami amat bersyukur atas kepindahan ini, lebih banyak hal untuk disyukuri daripada disesali.  Disini kami bertemu dengan keluarga besar dan anak-anak kami dapat bercengkrama dengan sepupu-sepupu mereka dan kami orang tua bisa dekat dengan keponakan-keponakan kami. Kakak beradik papa dan mama pun sebagian besar ada di sini. Seringkali saya sampaikan pada Arvin, bahwa kami ini bukan pindah, melainkan pulang. 

3. Perpisahan dengan papa yang bekerja di kota lain. 
Berhubung dengan kepindahan kami juga, tahun ini kami (mama dan krucils) berpisah dengan papa yang bekerja di kota lain. Dinamika kehidupan keluarga yang berubah telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi kami. Anak-anak pun jadi dapat belajar untuk memaksimalkan dan menghargai kebersamaan keluarga. 

4. Arvin masuk sekolah baru. 
Serunya memperhatikan si sulung menyesuaikan diri dengan sekolahnya yang baru. Teman-teman, suasana sekolah dan kelas secara umum, guru-guru, peraturan sekolah dan sebagainya. Bagi saya kepindahan adalah suatu kesempatan penting bagi seorang anak, banyak hal yang bisa dipelajari sambil menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi. Terima kasih Tuhan, untuk kesempatan yang berharga ini. 
5. Ulang tahun Arvin yang ke-6.
Tahun 2011 ini Arvin melewati masa balitanya dan menjelma menjadi si anak besar. Tahun ini juga menjadi sangat berarti karena Arvin sudah sepenuhnya mandiri di toilet dan di kamar mandi. Perkembangan besar dari segi intelektualnya, belajar membuat kalimat, mengarang puisi, penjumlahan dan pengurangan yang kompleks dan juga cara menunjukkan waktu secara spesifik. Senangnya mama melihat dan menikmati kompleksitas hasil gambar Arvin yang semakin baik setiap hari.    

6. Meninggalnya kedua oma, lahirnya seorang keponakan lagi. 
Pada bulan Oktober oma saya meninggal dan pada bulan Desember ini, oma dari suami meninggal. Peristiwa kematian sungguh mengajarkan pada kita bahwa hidup ini tidak kekal dan dapat berakhir kapan saja, bertambah lagi alasan untuk menjalani setiap hari dengan positif dan hati yang penuh syukur. kematian juga mengajari kita untuk membangun kenangan setiap hari, karena setelah kehidupan seseorang berakhir, hanya kenanganlah yang tetap hidup selamanya. 
Pada tanggal 13 Desember ini, bertambah seorang lagi keponakan saya, yang juga berarti sepupu bagi Arvin dan Neo, baby Teo. Tahun 2011 memberikan pelajaran yang sangat berharga, Tuhan yang mengambil dan Tuhan jugalah yang memberi.   

7. Lancarnya komunikasi dengan Neo.
Di tahun ke-2nya ini kemampuan komunikasi (memahami pembicaraan dan berbicara) melesat cepat sekali, hasilnya ngobrol dengan Neo sekarang jadi super mudah dan seru, bahkan Neo sudah menjelma jadi si bocah cerewet yang suka berkomentar. Senangnya hati mama! 

8. Natal yang indah. 
Hari Natal di tahun 2011 ini sangat bermakna bagi kami. Di tahun ini kedua orang tua dari keluarga saya dan suami berada di 1 kota yang sama, jadi kami berkesempatan untuk menghabiskan waktu bersama kedua keluarga besar secara bersama-sama. Ini adalah hadiah Natal terindah bagi kami! anak-anak pun berkesempatan menikmati dan merayakan Natal bersama seluruh keluarga, opa, oma, om, tante, dan para sepupu mereka. 

Pada akhirnya tidak ada rasa selain syukur atas perlindungan Tuhan sepanjang tahun 2011 ini bagi keluarga kami. Selamat tinggal 2011 dan selamat datang 2012, tahun baru yang penuh harapan dan kebahagiaan yang menjelang. Mari berharap yang terbaik dan lakukan yang terbaik di tahun rahmat Tuhan yang baru ini. 

Have a joyous new year everyone!

Thursday, December 29, 2011

Homemade gift: The Jar of Joy

 
Di hari Natal tahun ini, saya ingin memberikan hadiah spesial untuk ketiga kakak perempuanku tersayang. Saya ingin hadiah yang berkesan dan tidak habis dipakai (atau dimakan hehe) dan (semoga) dapat digunakan sepanjang tahun atau mungkin lebih lama lagi. Apalagi yang lebih mewakili semua hal itu daripada hadiah Natal buatan sendiri. 

Saya adalah pengumpul wadah kaca/beling bekas makanan dan selalu ingin membuat proyek craft dengan tumpukan wadah-wadah cantik itu, maka setelah saya pikir-pikir, saya pun akhirnya memutuskan untuk membuat The Jar of Joy. Wadah ini berisikan 50 hal (seperti tips/nasehat) yang dapat dilakukan untuk menghadirkan kebahagiaan (Joy) dalam keseharian hidup kita. Ketiga kakak saya ini adalah perempuan bekerja, yang tentu banyak menghadapi banyak tantangan dan  masalah sehari-hari, jadi mereka adalah orang-orang yang tepat untuk menerimanya! 

Adapun daftar 50 hal yang saya masukkan ke dalam The Jar of Joy adalah: 
1. Smile.

2. Write a thank-you note to yourself

3. Venture outside for a 5 minute walk

4. Indulge yourself in a delicious piece of chocolate/smoothie

5. Wear a piece of jewelry you haven’t worn in awhile

6. Send yourself a bouquet of favorite flowers.

7. Laugh – Read, watch, or spend time with someone funny.

8. Go to bed 1 hour early tonight

9. Start a devotional routine. Back to the Bible.

10. Hit the pause button and spend 5 minutes alone

11. Give someone a gift for no particular occasion. Find joy in giving.

12. Discover an uplifting and fun new song

13. Slow down and enjoy a long meal

14. Try a new healthy fitness routine

15. Indulge in watching TV or reading a magazine

16. Declare a vacation day and make it personal

17. Do a good deed — help someone else

18. Enjoy a favorite cup of coffee or tea

19. Be silly & dance to your favorite music

20. Read and explore an inspirational and joyful book

21. Draw for fun

22. Get rid of 2 items in your physical environment that make you feel negative

23. Bite into a piece of fresh fruit

24. Wear a color that makes you feel confident and joyful!

25. Write down three things that you are grateful for

26. Call and reconnect with someone you haven’t spoken to in awhile.

27. Watch the sunset from a beautiful location.

28. Discover something new.

29. Start a book that you’ve been meaning to read.

30. Care for yourself (a massage, bath, body scrub, etc)

31. Frame a photo of a favorite memory.

32. Take five deep breaths and stretch.

33. Go play & dance in the rain!

34. Interview yourself and make a “100 facts about me”

35. Try a new recipe

36. Learn something new (a new hobby or language).

37. Redesign your space (your office or room)

38. Write a thoughtful comment for a friend

39. Create a list of 10 things you love about your significant other – surprise him/her with the list.

40. Look on the bright side.

41. Take a short, relaxing nap. Wake up rejuvenated.

42. Add nature to your life (a potted plant, cut flowers, etc)

43. Disconnect from the online world for a day, turn off the computer & phone, and simply enjoy a peaceful day with people you love.

44. Search for things you haven’t use in a year or more, throw it out or give them away.

45. Look at old pictures and relive the memories

46. Use social media only to send joyful and positive messages.

47. Donate one item (or your time) to a local charity.

48. Browse the inspiring galleries of ideas on Pinterest.

49. Create a list of 10 things that you can get better at everyday

50. Make a commitment to spend less and give more.

Sebagian besar nasehat di atas diadaptasi dari artikel ini, dan sebagian lagi saya tambahkan ide-ide saya sendiri. Saya ketik daftar tips ini di komputer, lalu saya potong masing-masing nomor menjadi 50 potongan tersendiri. Lalu masukkan potongan-potongan itu kedalam wadah dan hiasi dalamnya dengan pernak-pernik cantik, saya memasukkan akordeon kertas dan origami lucky stars

Keindahan wadah kaca ini berbicara dengan sendirinya, jadi rasanya nggak perlu menambahkan terlalu banyak hiasan di bagian kacanya. Saya memutuskan untuk menghias tutupnya saja (sekalian untuk menutup merknya) dengan cara decoupage menggunakan kertas motif batik favorit saya. Potong-potong bentuk lingkaran dan lebihkan luasnya kira-kira 1,5-2cm dari pinggiran tutup wadah. Sebelum membubuhi lem, jangan lupa memotong sekeliling kertas dengan jarak kurang lebih 0,5-1cm agar kertas dapat menutupi seluruh permukaan tutup wadah dengan sempurna. Biarkan hingga lem kering. 

Terakhir tambahkan hiasan pita sutra disekeliling leher wadah untuk menambahkan aksen Natal, saya memilih warna merah dan transparan keemasan. Tidak lupa menempelkan label pada bagian depan wadah kaca agar penerima hadiah mendapat gambaran tentang apa isi dari hadiahnya tersebut. 

**Untuk kakak-kakakku tersayang, selamat Natal 2011 dan menjelang tahun baru 2012,.. semoga kalian suka dan I LOVE YOU all...!! (so much)



Monday, October 24, 2011

The #1 Birthday: Simple. Small. Spontaneous. Sweet. Sanguine.


Pleased to look forward, pleased to look behind,
And count each birthday with a grateful mind.
 - Alexander Pope

Neo couldn't wait to get the Strawberries... ;p

not a wish, actually, but a prayer that said: Thank You God for the past that's gone, because I know the best is always yet to come.

Arvin would've won 'The Best Candle-blowing Award' :D Love my little boys so much!

Super excited to cut the cake ;D

Thank you sis, for such a sweet reminder that I am loved. 

Couldn't ask for more. 

Words are not needed,
Our bond has been seeded.
A special connection,
Happy birthday perfection.
Martin Dejnicki


**Photos by. Echan.

Monday, October 17, 2011

Neo si bocah 1,5 tahun!

Nggak terasa, bulan ke-18 itu sampe juga. 6 bulan lagi, neo udah mau ulang tahun yang ke-2. Perjalanan meninggalkan masa bayi sudah semakin jauh. Seru. Lucu. Heboh. Repot. Capek. Hepi.
bocah yang murah senyum

mulai suka corat-coret

lagi seru main'gitar' pake kotak crayon

Jreng-jreng,... I wanna be a rock n roll star!

bocah dengan sejuta ekspresi

terpana ngeliat si 'kotak ajaib'

capek ah,... baringan dulu

Monday, September 12, 2011

Sudahkah kita memeluk si kecil hari ini?


Ilustrasi yang indah tentang pelukan***
Saat bayi dan balita, anak-anak kita begitu sering berada didalam pelukan kita. Alasan yang paling jelas adalah karena mereka begitu kecil, belum mandiri dan bahkan belum bisa berjalan sendiri. Seiring berjalannya waktu dan pertumbuhan fisik dan mental mereka, maka jadi semakin jarang pula kita menggendong, memeluk bahkan bergandengan tangan dengan anak.
Arvin memeluk Neo
Suatu malam, saat kedua putraku sudah tidur, saya menyalakan lampu hanya untuk memandangi dan mengagumi mereka satu persatu, sama seperti waktu mereka masih bayi-bayi kecil. Saya pun mencoba memeluk anak pertamaku yang berusia 6 tahun, tiba-tiba secara refleks, ia pun balik memeluk tanpa tebangun dari tidurnya. Ternyata anak memiliki refleks memeluk, dalam tidurnya sekalipun. Akhirnya kami tidur berpelukan sampai pagi. Begitu juga dengan si kecil, pelukan hangat sesaat setelah ia bangun dari tidurnya selalu membuatnya tersenyum senang.

Memeluk adalah suatu gerakan tubuh yang alami dan dapat memenuhi kebutuhan manusia akan sentuhan fisik. Sama seperti bayi-bayi yang berkembang sangat baik dengan banyak sentuhan (skin-to-skin/kangaroo care, pijat bayi dll), anak-anak dan orang dewasa pun sesungguhnya tidak akan pernah kehilangan kebutuhan ini. Memeluk adalah suatu bentuk pengekspresian kedekatan fisik dan juga mental, hal yang sangat indah antara orangtua dan anak. Rasanya tidak ada ekspresi fisik lain yang bisa menggambarkan kedekatan itu selain sebuah pelukan hangat.


Pelukan memiliki banyak manfaat yang positif lho, jadi jangan ragu untuk memberikannya kapan saja, dimana saja. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa pelukan dapat meningkatkan kesehatan kita. Penelitian mengungkap bahwa mereka yang sering mendapatkan pelukan secara teratur setiap hari dari orang yang dikasihi, memiliki denyut jantung yang lebih rendah, tekanan darah lebih rendah, peningkatan aktivitas sistem syaraf dan mood yang lebih baik. Bahkan mereka yang mendapat pelukan hangat dipagi hari, akan dapat menjalani sepanjang hari dengan lebih bahagia. Hanya dengan pelukan atau bergandengan tangan selama 10 menit, dapat banyak mengurangi efek fisik berbahaya akibat stres. Tiffany Field dari Touch Research Institute di Sekolah Medis Universitas Miami menyatakan bahwa penelitiannya juga menunjukkan bahwa pelukan dapat menurunkan pengeluaran kortisol, hormon stres. Saat hormon kortisol turun, memancarlah 2 macam cairan kimiawi otak lainnya yang berhubungan dengan perasaan senang, yaitu serotonin dan dopamin. Hebat kan?

Memeluk anak pun sebaiknya tidak hanya saat di suasana yang menyenangkan, tapi di segala kesempatan. Terutama di saat anak sedang sedih, takut, sakit ataupun sedang marah. Pelukan hangat dari orang tua memberikan rasa aman kepada anak melebihi apapun juga. Saat kita memeluk anak, kehangatan tubuh kita akan melingkupi anak, memberikan rasa tenang yang instan, saat itu juga. Pelukan menunjukkan pada anak bahwa ia bisa menghadapi apapun, bahwa ia dicintai. Pelukan membuat anak merasa lebih baik, memberikan rasa aman, rasa percaya, menurunkan ketegangan, mengurangi rasa sakit, mendorong keterbukaan antara anak dan orangtua dan yang terpenting membuat anak (dan tentunya, orang tua) lebih bahagia.

Sebuah penelitian ilmiah tentang pelukan menyarankan jumlah pelukan berdasarkan kebutuhan setiap manusia:
-         -  4 pelukan per hari, hanya untuk bertahan(survival) dengan tingkatan emosi minimal
-         -  8 pelukan per hari untuk menjaga tingkatan emosi yang kuat pada diri seseorang
-         -  12 pelukan per hari untuk bertumbuh dan menjadi manusia yang lebih baik
Wow, ternyata tidak ada batas atas sama sekali untuk jumlah pelukan yang bisa kita berikan dan terima setiap harinya! Semakin banyak, semakin baik. Ingat, the best things in life are free!

Penelitian terkini mengungkapkan adanya hubungan yang positif antara pelukan dan emosi positif. Para psikolog anak juga menekankan pelukan orang tua sebagai elemen berharga dalam perkembangan nilai-nilai hidup yang positif pada anak. Anak yang sering dipeluk oleh orang tuanya menjadi lebih komunikatif dan pengasih, tidak hanya kepada orangtuanya, tapi juga terhadap orang lain. Hal ini disebabkan karena pelukan adalah suatu bentuk ucapan syukur, penghargaan dan pengakuan orang tua terhadap anak.

Sebuah pelukan tidak memerlukan biaya sama sekali (modalnya hanya niat dan cinta). Mengapa kita harus pelit untuk melakukan sesuatu yang baik bagi kita sendiri (dan anak)? Tidak membutuhkan keahlian dan peralatan khusus untuk dilakukan (nggak perlu ikut seminar parenting, nggak perlu jadi member). Portabel, karena bisa diberikan kapan aja, dimana saja (nggak perlu simpanan khusus ataupun dibawa-bawa). Serunya lagi, sebuah pelukan sifatnya timbal balik, di saat kita memberikannya, kita juga menerimanya.
Jadi, sudahkah kita memeluk anak hari ini?

Sometimes it’s better to put love into hugs than to put it into words.
~Author Unknown

Sumber bacaan:


Follow my blog with Bloglovin

Wednesday, September 07, 2011

Amarah Orang Tua terhadap Anak


“Pada intinya dari semua amarah adalah sebuah kebutuhan yang tidak terpenuhi.” ~ Marshall B. Rosenberg


Yuk Evaluasi Diri!
Beberapa hari belakangan ini, saya mendapat pencerahan tentang kemarahan orang tua terhadap anak-anak. Sumbernya ini nggak lain dari pengalaman pribadi (memarahi anak) dan beberapa tulisan hebat yang saya baca. Saya terdorong untuk mengevaluasi dan melihat jauh ke dalam diri saya sendiri:
Kapan sih terakhir kali saya marah pada anak?
Apa yang biasanya menjadi sebab kemarahan saya?
Seberapa sering saya marah?
Apa saja yang saya katakan dan lakukan saat saya sedang marah?
Apa yang saya lakukan setelah saya marah?
Dan sayangnya, saya TIDAK BANGGA dengan hasilnya.
Saya ingin berusaha untuk melepaskan diri dari kebiasaan marah terhadap anak dan segala bentuk perilaku bawaannya yang negatif (sikap dan kata-kata yang tidak baik).

Memang menjadi orang tua itu tidak mudah (tidak pernah ada yang berani bilang begitu) dan ketidaksiapan fisik dan mental yang antara lain disebabkan oleh kelelahan dan kewalahan yang terus menerus setiap saat, memang kadang sungguh bisa memendekkan ‘urat’ sabar kita. Kemarahan kita bisa dari skala kecil hingga besar (mulai dari sekedar cemberut dan kernyit dahi pada anak, hingga berteriak dan menghukum anak). Namun satu hal yang saya sadari, meskipun awalnya kecil/remeh, jika kita terus memberi tempat untuk si amarah (misalnya dengan membiarkan diri terus mengomel), betapa mudahnya amarah itu berkembang menjadi besar. Kita tentu tahu bahwa amarah seringkali di analogikan dengan api, karena memang sifatnya sama, semakin dibiarkan, akan semakin ganas dan tentunya berakibat fatal.

Ekspresi kemarahan
Semua orang bisa marah. Itu adalah salah satu bentuk emosi terdasar manusia yang sulit diabaikan. Tapi bagaimana cara kita mengekspresikan rasa marah kita itu, terlebih lagi dalam hal ini terhadap buah hati kita sendiri, anak-anak yang (katanya) ingin kita didik menjadi pribadi yang lebih baik (dari kita!). Perilaku anak yang telah semakin besar, semakin mandiri, semakin pintar bicara, semakin banyak tahu tapi juga sering lupa (hehe), kadang terasa mengetes kesabaran kita dan sungguh memancing emosi. Belum lagi segala kecerobohan, kelalaian dan perilaku di luar aturan yang menyesakkan dada orang tua.

Seringkali bukan hanya perilaku (mata melotot, suara nyaring, membentak, tangan menunjuk, apalagi kalau sampai menyakiti anak secara fisik, seperti menjewer, mencubit, menarik/mendorong dengan kasar, memukul, menampar, dsb) MARAH kita saja yang tidak baik, tapi kata-kata kita yang sifatnya menuduh (”Ini kenapa airnya tumpah semua? Pasti kamu megang gelasnya nggak becus kan?”), menyalahkan (“kalo bukan karena kamu jatuhin, handphone mama kan pasti gak rusak gini!”), mengancam (“kalo sekali lagi mama liat kamu ngompol, awas ya! Kena jewer nanti.”), menghina (“Siapa lagi yang bisa ngeberantakin rumah ini selain kamu?!”), menyudutkan (“Memang dasar kamu aja yang nggak pernah mau dengerin mama, jadinya salah beli kan!”), mempermalukan (“Semua anak kelas 2 nggak ada lagi yang masih ditungguin orang tuanya, Cuma kamu doang! Tau nggak?”), memberi julukan/labelling (“Lagi-lagi mukul teman. Dasar anak nakal!”) dan banyak lagi.

Kenapa kita marah? 
Seperti yang jelas diungkapkan dalam kutipan di atas, adalah kemarahan muncul sesungguhnya dari sebuah kebutuhan yang tidak terpenuhi. Misalnya, di rumah kita memiliki kebutuhan untuk dapat memiliki rumah yang rapi dan bersih, jadi saat kebutuhan itu tidak bisa dipenuhi karena anak-anak kita menumpahkan minuman/makanannya di karpet kesayangan atau membiarkan mainannya berceceran di seluruh penjuru rumah, tentu dengan mudahnya kita akan marah kan? Sebagai orang tua kita juga punya kebutuhan untuk dihormati dan didengar oleh anak, jadi saat anak menolak untuk mendengarkan perkataan anda dan justru melawan, kemarahan menjadi respon otomatis kita.  

Memahami pentingnya mendewasakan diri sendiri
Satu fakta penting tentang kemarahan kita sebagai orang tua, adalah bahwa kita ini adalah role model bagi anak dalam mengatasi rasa marah dan mengendalikan emosi.  Hal ini sangat menginspirasi saya karena coba anda pikir, jika anda selalu menghadapi suatu setiap ketidaknyamanan emosional dengan marah-marah dan sikap yang lepas kendali, kira-kira akankah anak kita tumbuh memiliki pengendalian emosi yang baik? Rasanya nggak mungkin deh.

Jangan pernah lupa, dalam hubungan kita dengan anak, kitalah orang dewasanya. Hal ini berarti kita tidak bisa mengharapkan anak memahami segala keberadaan kita dan maklum. Dewasalah dan jadilah contoh.

Satu cara yang efektif untuk menempatkan diri di posisi anak anda saat anda sedang memarahinya adalah dengan mencoba membayangkan dirinya melihat anda sebagai orang tuanya (yang nota bene adalah satu-satunya SUMBER MAKANAN, TEMPAT BERTEDUH, RASA AMAN, PERLINDUNGAN, SUMBER SEGALA CINTA DAN KASIH SAYANG, SUMBER UTAMA AKAN INFORMASI TENTANG DUNIA INI DAN ORANG YANG PALING BERPERAN DALAM MEMBENTUK GAMBARAN DAN HARGA DIRINYA) berteriak-teriak dan mengatakan hal-hal yang tidak baik dan menyakitkan di depan wajah anda. Kalau menurut anda, bagaimana kira-kira perasaannya?

Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa sesungguhnya kita tidak perlu mengekspresikan kemarahan kita pada saat kita merasakannya. Karena penelitian tersebut membuktikan bahwa justru dengan mengekpresikan kemarahan pada saat itu juga, justru membuat kita lebih marah dari sebelumnya. Hal ini justru membahayakan hubungan kita karena akan membuat orang lain merasa takut, tersakiti dan bahkan merasa marah juga. Jadi adalah lebih baik untuk menyalurkan kemarahan kita secara fisik (misalnya memukul bantal, tanpa terlihat anak tentunya!) jika sangat perlu, tapi selanjutnya kita harus kembali menenangkan diri kita. Cara yang terbaik untuk mengahadapi kemarahan adalah dengan membatasi ekspresi kita seminimal mungkin dan pada saat kita sudah tenang, pelajari amarah itu dengan menanyakan pada diri kita sendiri; Apa yang membuatku begitu marah? Apa perasaan yang sebenarnya di balik kemarahanku; rasa takut atau sakit hati? Apa yang bisa kulakukan untuk memenuhi kebutuhanku yang tak terpenuhi dan apa yang bisa kulakukan untuk mengubahnya?

Saat kita marah, secara biologis, tubuh kita pun bereaksi. Jantung berdetak lebih cepat, pernafasan dan suhu tubuh meningkat, karena itulah kita cenderung ingin melepaskan ketegangan itu segera. Cara paling baik adalah dengan mengendalikan reaksi tubuh kita dan menarik nafas dalam-dalam, bila perlu hitung di dalam hati, jika masih belum hitung lagi lebih banyak, supaya kita bisa tetap mengendalikan diri. Jika benar-benar tak tertahankan, tinggalkan ruangan dan tenangkan diri. Lebih hebat lagi kalau bisa dibawa lucu, tertawa untuk melepaskan ketegangan dan mengubah mood kita.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengendalikan kemarahan, adalah bahwa kita harus menetapkan batasan pribadi bagi kita sendiri. Misalnya kita bisa menentukan, kalau kita benar-benar marah, kita mungkin akan menaikkan volume suara kita dan mengubah nada suara kita, tapi berkomitmenlah anda tidak akan memberlakukan hukuman fisik, menggunakan julukan, hinaan dan juga kata-kata yang sekiranya kasar dan menyakiti anak. Berikan juga batasan toleransi atas hal-hal apa yang sekiranya ‘layak’ membuat anda marah dan melakukan perilaku yang tidak dapat diterima, misalnya apabila perilaku anak sudah sampai membahayakan dirinya sendiri dan orang lain atau sangat merugikan dan berbahaya.
Bisa juga berkaitan dengan nilai-nilai moral yang dianut keluarga (contoh: menghormati orang yang lebih tua, tidak boleh memukul orang lain, harus bermain bergantian/tidak boleh berebutan, tidak boleh mengejek/menghina orang lain, dst), dan anda hanya akan marah apabila terjadi pelanggaran terhadap nilai-nilai tersebut. Jadi kita bisa fokus pada banyak hal lain yang lebih penting daripada meributkan setiap hal kecil yang muncul.

Perlu juga untuk mengkaji kondisi emosi kita setiap saat, apakah selain dipicu oleh perilaku anak, apakah kemarahan kita itu dipengaruhi oleh, misalnya kita sedang bersitegang/berselisih dengan pasangan, teman, keluarga atau atasan. Apabila hari kita sedang berat, kondisi tidak fit/sakit, lelah bekerja atau karena penyebab lain, jangan ragu untuk menyampaikan dengan jujur pada anak tentang kondisi kita dan bahwa kita sangat mengharapkan mereka untuk bersikap dan berperilaku yang baik. Kejujuran kita adalah hal yang sangat penting dalam menjalin kedekatan dan rasa percaya kita dengan anak. Anak pun belajar bahwa orang tua hanya manusia dan memiliki keterbatasan, bagaimana pun ingat, andalah teladan baginya!

Last but not least, satu lagi yang teramat sangat PENTING untuk diingat adalah jangan pernah malu atau ragu untuk meminta maaf pada anak apabila anda terlanjur marah atau mengucapkan kata-kata yang tidak sepantaskan diucapkan, terlebih lagi bila kita melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan!  Betapa beruntungnya anak mendapat orang tua yang dewasa, berbesar hati dan mau mengakui kesalahannya. Tidak ada yang lebih baik daripada orang tua yang menjadi teladan manajemen kemarahan yang baik bagi anak-anaknya.

Saya ingin sekali berusaha mulai saat ini untuk menyapih diri dari kemarahan terhadap anak-anak saya. Saya tahu ini tidak akan mudah dan adalah proses belajar yang tentunya harus bertahap (persis seperti proses penyapihan pada umumnya) agar saya bisa fokus pada membangun kedekatan dan hubungan yang lebih baik lagi dengan kedua anak laki-lakiku tercinta. 

* Sebagian sumber dan inspirasi: www.ahaparenting.com
** gambar diambil dari sini

Friday, September 02, 2011

Arti Menjadi Kakak Bagi Arvin



Sebagai anak pertama, Arvin selalu menjadi  pusat perhatian kami selama 5 tahun pertama hidupnya, bukankah semua anak pertama mengalami itu? Setelah itu lahirlah adik, yang sekarang telah berusia 1 tahun.
Arvin dan Neo
Sebaik-baiknya kita berusaha mempersiapkan anak sulung dalam menghadapi kehadiran adik, yang mana adalah sesuatu yang SANGAT penting, tetap saja kehadiran anggota baru di dalam kehidupan keluarga membawa BANYAK sekali perubahan, baik itu menyenangkan dan juga yang tidak.

Waktu adiknya masih bayi, perhatian dan waktu saya belum terlalu banyak berkurang untuk Arvin, karena bayi kan masih lebih banyak tidur dan yang lebih penting belum bisa merebut mainan kakaknya! ;p jadi sang kakak pun nampaknya nggak terlalu terpengaruh dan hepi-hepi aja.

Tapi sekarang...
Setelah adiknya bisa berjalan, mengejar, menarik, mengangkat, manjat dan sekian banyak kematangan motorik dan kognitif lainnya, tiba-tiba hidup kakak berubah dan terasa lebih berat.

* Tidak ada waktu untuk sendiri.
Adik selalu mencari, memanggil dan ingin berada di dekat kakak. Kapanpun. Dimanapun.

Awalnya saya (dan juga Arvin) melihat ini sebagai sesuatu yang supercute dan menggemaskan. Neo menjelma jadi bayangan kakak yang mengekor tiap pergerakan kakaknya dengan langkah kecilnya dan pantat yang megal-megol. Tapi, saya pikir-pikir, seperti saya sendiri yang seringkali stres karena nggak bisa ke kamar mandi dengan tenang ataupun berada di dapur tanpa diikuti oleh Neo, menjadi sangat sangat bisa berempati pada si kakak yang tak jarang justru merasa kesal dan terganggu. 

* Tidak bisa punya mainan/barang pribadi.
Di saat kakak sedang  memainkan suatu mainan, atau menggunakan sebuah barang miliknya, dengan ajaib di saat itu juga si adik ngotot ingin main/pakai barang yang sama.

Kita pun pasti pernah mengalami dong, lagi asyik-asyiknya ber-SMS ria, tahu-tahu si balita dengan secepat kilat sudah merebut gadget tercinta atau remote TV. Bisa juga saat sedang makan, si balita nimbrung dan mengacaukan isi piring kita. Dengan nafas panjang dan mengelus dada, kita  mencoba bersabar dan malah dibawa lucu saja. Tapi, apakah si 6 tahun kira-kira bisa punya pemahaman dan kontrol diri yang sama (atau seenggaknya mendekati itu)? I don't think so

* Tidak bisa menyelesaikan ceritanya saat berbicara.
"Ma, tadi di sekolah Arvin belajar tari lho! Namanya tari kodok-kodok!"
"Oh ya? Namanya lucu banget ya? Gimana sih tariannya?"
Lalu kakak melanjutkan cerita dengan semangat, sedetik kemudian Neo menyatakan dia mau menyusu, minta gendong, melihat sesuatu di luar, mengambil suatu mainan dan banyak lagi kemungkinan lainnya.
Pembicaraan yang sudah terbangun sebelumnya pun terhenti, dan kita tentu tahu, tidak ada jaminan pasti bahwa lanjutannya akan ada lagi (~_~")

* Tidak sempat lagi membaca buku cerita dan kruntelan sebelum tidur sama mama.
Co-sleeping & Bed-sharing adalah salah satu hal yang paling terindah dan sungguh saya syukuri. Berbagi tempat tidur dengan para buah hati, jatuh tertidur dan juga terbangun bersama-sama setiap hari adalah hal terbaik yang saya alami setiap hari. 

Dulu, Arvin dan saya selalu membaca buku favoritnya sebelum tidur, bisa 1-3 buku, atau 1 buku yang diulang baca sampai 3 kali hehe. Arvin pun selalu tertidur dengan lullaby yang saya nyanyikan, pelukan dan tepukan ringan di pantat/pahanya. Jelas saja, momen-momen inilah yang paling berharga dan kami nantikan setiap hari. 

Sekarang, setiap malam saya ngelonin Neo sambil menyusuinya (karena memang Neo menyusu sampai tertidur), bisa berkisar 15-40 menit sampai dia benar-benar tertidur lelap. Di saat-saat itulah kakak pun mulai ngantuk dan meminta haknya, hak untuk cerita sebelum tidur dan tepukan pantatnya... (nyanyian sebelum tidur sudah tidak lagi karena Arvin bahkan sekarang bersenandung sendiri sampai ia tertidur!).  Saya sudah mencoba untuk membacakan buku dulu sebelum keduanya tidur, tapi selalu gagal karena selera buku mereka berdua yang berbeda dan Neo seringkali lebih memutuskan bahwa ia lebih ingin merobek si buku daripada membacanya. Awal-awalnya Arvin protes keras, tapi sekarang ia nampaknya sudah pasrah.

* Tidak bisa menggambar tanpa diganggu.
Satu kegemaran Arvin yang tak tergantikan adalah menggambar. Saya pun sangat mendukung hal ini, saya mengusahakan untuk selalu menyediakan suplai alat-alat gambar yang memadai dan mengapresiasi gambar-gambar buatannya dan juga memberi ruang untuk 'pameran'nya. Bahkan di saat semua kegiatan lain tidak memungkinkan, seperti listrik padam, Arvin biasanya tidak akan berkurang minatnya untuk menggambar. 
Sayangnya, Arvin tidak selalu ingin menggambar di meja, dia seringkali menggambar di lantai, yang notabene adalah zona kekuasaan sang adik. Tentu saja, berbagai peristiwa seperti gambar yang dicoret, kertas yang dirobek dan alat gambar yang direbut menjadi konsekuensi yang logis dan harus di terima (ouch!).

* Tidak bisa pakai gadgets dengan aman.
Di usianya ini Arvin sudah sangat familiar dengan gadgets. Bisa berupa komputer, handphone, game konsol dan sebagainya. Nah, melihat Arvin yang rajin memakai/memegang alat-alat ini, Neo pun terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Tidak jarang rebutan berakhir dengan gadget yang jatuh, terbanting, mati tanpa disengaja atau akibat-akibat kurang asyik lainnya. Terus terang, dalam hal ini, bukan hanya Arvin yang jadi gusar... (mama ngacung!). 

Tidak bisa 'mengekspresikan diri' dengan tenang.
Arvin suka sekali lari-lari di ruangan yang luas, memanjati berbagai permukaan yang kelihatannya (atau dia pikir) bisa dipanjat, loncat-loncat di tempat tidur (who doesn't?), membuat gaya-gaya meniru jurus-jurus superhero, berbagai tarian dan gerakan di film favorit atau sekedar duduk dengan posisi setidaknyaman mungkin. Saya sih sebenarnya nggak ada masalah sama sekali dengan segala bentuk pengekspresian dirinya ini, toh nggak berbahaya. 

Tapi sekarang jadi berbahaya, setidaknya meski bukan untuk dirinya langsung.
Neo sang peniru ulung akan ikut memanjat, loncat dan sebagainya, yang karena ukuran tubuh yang jauh lebih kecil, keseimbangan yang belum terlatih dan terbentuk baik, sehingga menyebabkan hal itu jadi berbahaya. 
Alhasil semua orang mengingatkan Arvin untuk tidak melakukan apapun yang bisa ditiru dan sekiranya bisa membahayakan adik! (Ah, beratnya hidupmu nak..).

Banyak bentuk kekecewaan, perilaku kurang baik yang muncul sebagai akumulasi kekesalan dan ketidakpuasan Arvin yang saya lihat. Memang menyebalkan dan tiap orang bisa dengan gampang mencapnya sebagai 'si nakal' atau kakak yang nggak pengertian, kurang baik dan sebagainya karena ia marah dan ngambek kalau diganggu adik. Jauh di dalam hati, saya bisa mengerti kalau dia kesal dimarahi karena dia memarahi adik yang lebih dulu mengganggunya. Bagaimana perasaan kita (orang dewasa) yang dimarahi karena membela diri/memperjuangkan hak kita? Pasti nggak enak. Terus kenapa kita harus mengharapkan seorang anak kecil untuk tidak boleh merasa tidak enak? Kenapa aku harus menanggung konsekuensi dari perbuatan orang lain?
Foto berdua waktu mama masih hamil Neo
Ini sebuah hasil perenungan saja, berawal dari kebingungan saya akan perilaku Arvin yang belakangan kok rasanya jadi lebih sulit dan undesirable. Banyak pemicu perilaku anak yang harus digali lebih dalam dan harus dilihat secara obyektif tanpa menghakimi agar dapat dilihat secara utuh dan jelas. 
Menjadi seorang kakak/memiliki saudara kandung adalah suatu hal yang indah dan tidak semua orang memiliki kesempatan berharga ini, tak ada yang lebih saya inginkan selain melihat Arvin dengan bahagia dan bangga menyandang 'jabatan' ini.  Tidak ada hal yang otomatis, seindah apapun itu dan sealami apapun itu. semua butuh proses belajar yang terus menerus. Untuk seorang anak kecil, hal ini tentu tidak mudah dan mereka butuh orang tua (orang dewasa secara umum) untuk membantu penyesuaian diri mereka.  
Anakku sayang, semoga aku mampu memmbuatnya mengerti bahwa berbagi kini telah menjadi bagian dari kehidupan kami dan apapun yang terjadi, tak pernah sekalipun cinta untuknya berkurang sama sekali.