Showing posts with label kasih sayang. Show all posts
Showing posts with label kasih sayang. Show all posts

Friday, March 30, 2012

Ulang Tahun Arvin yang ke-7

my big boy!

Pada tanggal 21 Maret yang lalu, anak pertamaku Arvin genap berusia 7 tahun, betapa bermaknanya ulang tahunnya ini. Tidak hanya menandakan bahwa Arvin telah semakin dewasa dan sudah bisa ini-itu, tapi juga menandakan 7 tahun bagi saya menyandang predikat terhormat menjadi seorang MAMA.

Betapa berharganya 7 tahun yang sudah berlalu itu, semua suka, duka, semuanya becampur aduk dan terangkai menjadi satu, suatu cerita tentang seorang anak yang sungguh amat dicintai.

Tidak hanya ulang tahun Arvin kemarin menandakan 7 tahun menjadi ibu bagi saya, hal itu juga menandakan 7 tahun menjadi papa, oma, opa, paman dan bibi bagi seluruh keluarga, mengingat ia adalah anak/cucu/keponakan pertama bagi semua orang. Seluruh keluarga bersama-sama merayakannya dengan porsi dan cara mereka masing-masing, mengukir bahagia di hati sang anak 7 tahun.

Selamat ulang tahun Arvin, si cintanya mama. Kiranya engkau tumbuh sehat, bahagia dan senantiasa berhasil dalam apa pun yang kamu lakukan. Jadilah anak yang selalu takut akan TuhanMu. Semua kata di dunia tidak bisa menuliskan doa mama untukmu, karena begitu banyak doa yang telah, sedang dan akan terucap seiring dengan perjalanan kehidupanmu ke masa yang akan datang.


Neo serius memperhatikan kakak memotong kuenya



So sweet...!





I love you big boy!

Monday, February 06, 2012

Hal-hal mengejutkan bagi orang tua seiring bertumbuh besarnya anak


Saat saya membaca artikel oleh Rachel Sarah di sini, saya merasa sepenuhnya setuju. Pastinya melihat anak bertumbuh dan berkembang semakin besar setiap harinya adalah hal paling membahagiakan bagi setiap orang tua. Banyak yang berubah pada diri anak semakin dia besar dan diantara banyaknya hal-hal yang indah, ada pula beberapa hal yang lucu, konyol dan bahkan mengesalkan dan semuanya itu menjadi hal-hal yang mengejutkan bagi orang tua. 

Beberapa poin yang diangkat dalam artikel tersebut, diantaranya:


Anak akan mengatakan “I love you” tanpa diminta

Ya… nggak ada yang menandingi hal ini. Saya terus terang tidak ingat kapan persisnya Arvin mulai mengatakan “I love you” tanpa ‘pancingan’ terlebih dahulu. Mungkin sekitar usia 3-4 tahunan. Saat momen itu datang, sungguh, semua jerih payah kita seperti hilang begitu saja. Doa saya adalah untuk mendengar kalimat indah ini dari mulut anak-anak saya, bahkan sampai ia besar nanti dan tidak perlu merasa malu untuk mengucapkannya. Saya pun bertekad mengatakan hal seperti ini setiap hari, setiap saat tanpa diminta.


Anak akan menjadi terlalu besar untuk duduk di pangkuan mama

Betapa cepatnya anak-anak ini bertumbuh besar! Rasanya baru kemarin saya menggendongnya di dalam baby sling kesana kemari, memangkunya saat membaca buku, ngobrol dan menonton film. Tapi sekarang? Bisa-bisa paha saya kesemutan kalau mau memaksakan diri… itu pun kalau anaknya mau. Jadi, nikmati saja bila si kecil sedikit-sedikit minta di pangku, karena akan datang harinya dimana pangkuan kita tidak akan muat lagi untuk tubuhnya yang semakin besar.



Anak akan menginginkan waktu untuk sendirian

Saya masih ingat masa-masa melelahkan dimana Arvin tidak bisa jauh dari saya (bahkan selalu mengikuti dan mengekor saya tiap kali saya berpindah ke ruangan yang lain). Dan saya pun tidak bisa ingat kapan persisnya fase itu berakhir sampai dia mulai suka menghabiskan waktu sendiri, menghibur dirinya sendiri dan mampu mencari kegiatan dan memutuskan apa yang ingin dia lakukan secara mandiri.  Jam-jam berlalu dan bahkan tidak sekalipun terdengar panggilan “Mama!”. Sungguh melegakan dan (sesungguhnya) agak sedikit mengharukan.


Anak akan mengajari beberapa hal pada kita.

Dulu saya-lah sumber pengetahuannya, setidaknya saya juga yang mengkoordinasi materi-materi yang akan dipelajarinya, menjadi satu-satunya tempat untuk mencari jawaban baginya tiap kali ada hal yang kurang ia pahami. Kini dia jadi asisten pengingat untuk segala detail kecil yang sering saya lupakan. Sekarang dia mengajari saya bahwa sauropod adalah sebutan untuk sekumpulan dinosaurus herbivora yang berleher panjang dan berjalan di atas 4 kaki. Ornithopod adalah sekumpulan dinosaurus yang berparuh seperti bebek dan suka memakai kedua tangannya untuk mencapai tumbuhan pendek.  Theropod adalah sekumpulan dinosaurus yang karnivora dan bertubuh raksasa. WoW! Terima kasih nak! Sampai kapanpun, mama belum tentu tahu tentang informasi ini! :D


Anak akan menyakiti perasaan kita

Kenyataan yang pahit memang, tapi pada suatu ketika, saat anak seang marah atau kecewa pada kita, ia pun berkata: “Arvin nggak sayang lagi sama mama…”. Belum lagi kejujuran khas anak kecil yang mewarnai hari-hari kita: “Ma, mama mandi dong! Arvin cium mama udah bau!” atau “Kok gigi mama jelek sih? Rusak-rusak?” atau “Ma, Arvin suka mama yang dulu masih cantik...” saat kami bersama-sama melihat foto beberapa tahun yang lalu saat saya jauh lebih memperhatikan penampilan daripada sekarang. Ouch!


Anak akan menunjukkan keberaniannya

Saya paling bangga saat pertama kali masuk Taman Kanak-kanak dan saya tidak bisa mengantar Arvin (karena megurus adiknya yang baru lahir) dan kami langsung mendaftarkannya untuk ikut mobil jemputan sekolah. Sejak malam saya kurang tidur dan membayangkan kemungkinan ‘drama’ yang bisa saja terjadi hingga saya pun siap-siap untuk ikut mengantar membawa bayi saya ke sekolah, kalau-kalau Arvin menangis dan tidak mau ditinggal di kelas. Semua ketakutan saya tidak terbukti! Dengan manisnya ia bersiap-siap, masuk ke dalam mobil jemputannya dan berkata: “Bye-bye mama! Arvin sekolah dulu ya.”. Seiring dengan mobil yang menghilang di sudut jalan, air mata haru saya pun menetes di sudut mata.



Anak akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik
Memiliki anak mendorong saya menjadi lebih baik daripada diri saya sebelum punya anak. Setidaknya mulai dari kebiasaan kecil sehari-hari. Dulu saya sering menggunakan kata-kata yang tidak baik (dan saya tidak bangga) dalam perkataan saya sehari-hari. Sekarang semampunya saya STOP menggunakan kata-kata buruk dan berusaha menyaring tiap perkataan yang keluar dari mulut saya. Begitu juga dengan berbagai kebiasaan harian yang saya ubah untuk memberikan contoh yang baik bagi anak saya. Saya pembenci matematika dulu, tapi sekarang saya bagaikan advokat matematika untuk mempromosikan 'matematika itu asyik' kepada Arvin. 

Sunday, January 01, 2012

2011 dalam kenangan

Tahun ini membawa banyak perubahan dan penyesuaian dalam kehidupan kami. Tidak semua mudah, tapi semuanya berhasil dilalui. Dalam hitungan jam, tahun ini akan segera berakhir dan berganti ke tahun yang baru. Untuk mengenang apa-apa saja yang terjadi sepanjang tahun ini, berikut beberapa hal penting yang akan selalu hidup dalam kenangan dan tercatat dalam sejarah keluarga kami:

1. Ulang tahun Neo yang pertama.
Ya,.. di tahun ini Neo melalui salah satu langkah penting dalam hidupnya: Melepas masa bayi. Bahagianya melihat pertumbuhan dan perkembangan Neo sepanjang tahun keduanya ini. Hari-hari kami diisi dengan keceriaan gerak lincah si balita, kebandelan dan keisengan yang tiada akhir, penasaran akan kata-kata baru yang dikuasainya, permainan seru yang disukai si balita dan teriakan, pekikan, serta gelak tawa setiap saat. 

2. Kepindahan keluarga kami dari kota A ke kota B. 
Bulan Juli di tahun ini keluarga kami pindah kota tinggal. Beberapa penyesuaian mendasar harus dijalani, terutama bagi anak-anak. Kami amat bersyukur atas kepindahan ini, lebih banyak hal untuk disyukuri daripada disesali.  Disini kami bertemu dengan keluarga besar dan anak-anak kami dapat bercengkrama dengan sepupu-sepupu mereka dan kami orang tua bisa dekat dengan keponakan-keponakan kami. Kakak beradik papa dan mama pun sebagian besar ada di sini. Seringkali saya sampaikan pada Arvin, bahwa kami ini bukan pindah, melainkan pulang. 

3. Perpisahan dengan papa yang bekerja di kota lain. 
Berhubung dengan kepindahan kami juga, tahun ini kami (mama dan krucils) berpisah dengan papa yang bekerja di kota lain. Dinamika kehidupan keluarga yang berubah telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi kami. Anak-anak pun jadi dapat belajar untuk memaksimalkan dan menghargai kebersamaan keluarga. 

4. Arvin masuk sekolah baru. 
Serunya memperhatikan si sulung menyesuaikan diri dengan sekolahnya yang baru. Teman-teman, suasana sekolah dan kelas secara umum, guru-guru, peraturan sekolah dan sebagainya. Bagi saya kepindahan adalah suatu kesempatan penting bagi seorang anak, banyak hal yang bisa dipelajari sambil menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi. Terima kasih Tuhan, untuk kesempatan yang berharga ini. 
5. Ulang tahun Arvin yang ke-6.
Tahun 2011 ini Arvin melewati masa balitanya dan menjelma menjadi si anak besar. Tahun ini juga menjadi sangat berarti karena Arvin sudah sepenuhnya mandiri di toilet dan di kamar mandi. Perkembangan besar dari segi intelektualnya, belajar membuat kalimat, mengarang puisi, penjumlahan dan pengurangan yang kompleks dan juga cara menunjukkan waktu secara spesifik. Senangnya mama melihat dan menikmati kompleksitas hasil gambar Arvin yang semakin baik setiap hari.    

6. Meninggalnya kedua oma, lahirnya seorang keponakan lagi. 
Pada bulan Oktober oma saya meninggal dan pada bulan Desember ini, oma dari suami meninggal. Peristiwa kematian sungguh mengajarkan pada kita bahwa hidup ini tidak kekal dan dapat berakhir kapan saja, bertambah lagi alasan untuk menjalani setiap hari dengan positif dan hati yang penuh syukur. kematian juga mengajari kita untuk membangun kenangan setiap hari, karena setelah kehidupan seseorang berakhir, hanya kenanganlah yang tetap hidup selamanya. 
Pada tanggal 13 Desember ini, bertambah seorang lagi keponakan saya, yang juga berarti sepupu bagi Arvin dan Neo, baby Teo. Tahun 2011 memberikan pelajaran yang sangat berharga, Tuhan yang mengambil dan Tuhan jugalah yang memberi.   

7. Lancarnya komunikasi dengan Neo.
Di tahun ke-2nya ini kemampuan komunikasi (memahami pembicaraan dan berbicara) melesat cepat sekali, hasilnya ngobrol dengan Neo sekarang jadi super mudah dan seru, bahkan Neo sudah menjelma jadi si bocah cerewet yang suka berkomentar. Senangnya hati mama! 

8. Natal yang indah. 
Hari Natal di tahun 2011 ini sangat bermakna bagi kami. Di tahun ini kedua orang tua dari keluarga saya dan suami berada di 1 kota yang sama, jadi kami berkesempatan untuk menghabiskan waktu bersama kedua keluarga besar secara bersama-sama. Ini adalah hadiah Natal terindah bagi kami! anak-anak pun berkesempatan menikmati dan merayakan Natal bersama seluruh keluarga, opa, oma, om, tante, dan para sepupu mereka. 

Pada akhirnya tidak ada rasa selain syukur atas perlindungan Tuhan sepanjang tahun 2011 ini bagi keluarga kami. Selamat tinggal 2011 dan selamat datang 2012, tahun baru yang penuh harapan dan kebahagiaan yang menjelang. Mari berharap yang terbaik dan lakukan yang terbaik di tahun rahmat Tuhan yang baru ini. 

Have a joyous new year everyone!

Thursday, December 29, 2011

Homemade gift: The Jar of Joy

 
Di hari Natal tahun ini, saya ingin memberikan hadiah spesial untuk ketiga kakak perempuanku tersayang. Saya ingin hadiah yang berkesan dan tidak habis dipakai (atau dimakan hehe) dan (semoga) dapat digunakan sepanjang tahun atau mungkin lebih lama lagi. Apalagi yang lebih mewakili semua hal itu daripada hadiah Natal buatan sendiri. 

Saya adalah pengumpul wadah kaca/beling bekas makanan dan selalu ingin membuat proyek craft dengan tumpukan wadah-wadah cantik itu, maka setelah saya pikir-pikir, saya pun akhirnya memutuskan untuk membuat The Jar of Joy. Wadah ini berisikan 50 hal (seperti tips/nasehat) yang dapat dilakukan untuk menghadirkan kebahagiaan (Joy) dalam keseharian hidup kita. Ketiga kakak saya ini adalah perempuan bekerja, yang tentu banyak menghadapi banyak tantangan dan  masalah sehari-hari, jadi mereka adalah orang-orang yang tepat untuk menerimanya! 

Adapun daftar 50 hal yang saya masukkan ke dalam The Jar of Joy adalah: 
1. Smile.

2. Write a thank-you note to yourself

3. Venture outside for a 5 minute walk

4. Indulge yourself in a delicious piece of chocolate/smoothie

5. Wear a piece of jewelry you haven’t worn in awhile

6. Send yourself a bouquet of favorite flowers.

7. Laugh – Read, watch, or spend time with someone funny.

8. Go to bed 1 hour early tonight

9. Start a devotional routine. Back to the Bible.

10. Hit the pause button and spend 5 minutes alone

11. Give someone a gift for no particular occasion. Find joy in giving.

12. Discover an uplifting and fun new song

13. Slow down and enjoy a long meal

14. Try a new healthy fitness routine

15. Indulge in watching TV or reading a magazine

16. Declare a vacation day and make it personal

17. Do a good deed — help someone else

18. Enjoy a favorite cup of coffee or tea

19. Be silly & dance to your favorite music

20. Read and explore an inspirational and joyful book

21. Draw for fun

22. Get rid of 2 items in your physical environment that make you feel negative

23. Bite into a piece of fresh fruit

24. Wear a color that makes you feel confident and joyful!

25. Write down three things that you are grateful for

26. Call and reconnect with someone you haven’t spoken to in awhile.

27. Watch the sunset from a beautiful location.

28. Discover something new.

29. Start a book that you’ve been meaning to read.

30. Care for yourself (a massage, bath, body scrub, etc)

31. Frame a photo of a favorite memory.

32. Take five deep breaths and stretch.

33. Go play & dance in the rain!

34. Interview yourself and make a “100 facts about me”

35. Try a new recipe

36. Learn something new (a new hobby or language).

37. Redesign your space (your office or room)

38. Write a thoughtful comment for a friend

39. Create a list of 10 things you love about your significant other – surprise him/her with the list.

40. Look on the bright side.

41. Take a short, relaxing nap. Wake up rejuvenated.

42. Add nature to your life (a potted plant, cut flowers, etc)

43. Disconnect from the online world for a day, turn off the computer & phone, and simply enjoy a peaceful day with people you love.

44. Search for things you haven’t use in a year or more, throw it out or give them away.

45. Look at old pictures and relive the memories

46. Use social media only to send joyful and positive messages.

47. Donate one item (or your time) to a local charity.

48. Browse the inspiring galleries of ideas on Pinterest.

49. Create a list of 10 things that you can get better at everyday

50. Make a commitment to spend less and give more.

Sebagian besar nasehat di atas diadaptasi dari artikel ini, dan sebagian lagi saya tambahkan ide-ide saya sendiri. Saya ketik daftar tips ini di komputer, lalu saya potong masing-masing nomor menjadi 50 potongan tersendiri. Lalu masukkan potongan-potongan itu kedalam wadah dan hiasi dalamnya dengan pernak-pernik cantik, saya memasukkan akordeon kertas dan origami lucky stars

Keindahan wadah kaca ini berbicara dengan sendirinya, jadi rasanya nggak perlu menambahkan terlalu banyak hiasan di bagian kacanya. Saya memutuskan untuk menghias tutupnya saja (sekalian untuk menutup merknya) dengan cara decoupage menggunakan kertas motif batik favorit saya. Potong-potong bentuk lingkaran dan lebihkan luasnya kira-kira 1,5-2cm dari pinggiran tutup wadah. Sebelum membubuhi lem, jangan lupa memotong sekeliling kertas dengan jarak kurang lebih 0,5-1cm agar kertas dapat menutupi seluruh permukaan tutup wadah dengan sempurna. Biarkan hingga lem kering. 

Terakhir tambahkan hiasan pita sutra disekeliling leher wadah untuk menambahkan aksen Natal, saya memilih warna merah dan transparan keemasan. Tidak lupa menempelkan label pada bagian depan wadah kaca agar penerima hadiah mendapat gambaran tentang apa isi dari hadiahnya tersebut. 

**Untuk kakak-kakakku tersayang, selamat Natal 2011 dan menjelang tahun baru 2012,.. semoga kalian suka dan I LOVE YOU all...!! (so much)



Saturday, November 26, 2011

10 Hal kecil yang mama syukuri

Dalam hidup seorang mama, hal-hal kecil dan sederhana sekalipun bisa menjadi sangat penting dan manis. Semuanya spesial dan pantas disyukuri. Penting sekali untuk tetap berada dalam kerangka pikiran 'bersyukur'. Kalau kita lihat lebih jauh, ada banyak sekali hal-hal yang dapat kita syukuri, mulai dari yang sifatnya besar dan mendalam, hinggal hal-hal yang sangat ringan dan kecil.
Berikut beberapa hal kecil dan sederhana yang saya sangat syukuri:

1. Teh.
Betapa sederhana ketenangan dan kehangatan yang bisa diberikan secangkir teh kapan pun saya butuhkan sepanjang hari. Pagi hari setelah bangun- menemaniku membuka mata dan hati untuk hari yang baru, di siang hari untuk menenangkan si lidah setelah menikmati menu makan siang yang pedas, di malam hari, untuk menutup hari, sambil menyusun rencana untuk esok hari sembari memandangi permata-permata kecilku yang tertidur dengan pulasnya.

2. Boo-boo Kiss Arvin & Neo
Kenyataan bahwa Neo selalu merasa sembuh dan jauh lebih baik setelah Arvin mencium bagian yang sakit pada tubuhnya. Tiap benturan, lecet, luka pun tidak terasa sakit lagi. Hanyalah salah satu dari sekian banyak bentuk kasih sayang antara Arvin dan Neo yang saya syukuri bisa saya saksikan setiap kalinya. I'm one happy mama.

3. Pinterest.
Wow, nggak nyangka bisa segitu sukanya pada Pinterest. Keseharian mama yang padat dengan urusan anak-anak yang cukup melelahkan, telah memangkas waktuku untuk sekedar menonton, membaca majalah atau membaca buku. Dengan 1 klik ke halaman pinterest-ku, jutaan inspirasi menyerbu mata lelah ini. Memberi ide, hiburan, kebijaksanaan atau sekedar tawa segar yang sudah semakin jarang terdengar.

4. Anak sekolah yang semakin mandiri.
Tahun ini Arvin mencapai milestone penting dalam hidupnya, yaitu mendeklarasikan bahwa ia bisa bertanggungjawab atas kebersihan dirinya sendiri, alias mandi dan membersihkan diri sendiri di toilet tanpa bantuan mama. Saya bersyukur atas kemandiriannya yang kian tumbuh setiap hari dan satu lagi 'tugas' mama yang semakin berkurang. Betapa hidup mama menjadi lebih mudah sekarang... you have no idea.

5. Messenger lintas sistem operasi.
Canggihnya teknologi kini memungkinkan adanya messenger lintas sistem operasi, sehingga semua pemakai layanan mobile bisa saling terhubung, berkomunikasi, tanpa harus membeli/memiliki handset/handphone yang sejenis. How convinient! Kapan pun, dimana pun, untuk bisa terhubung dengan seluruh anggota keluarga, mengetahui apa yang terjadi dengan mereka, berbagi media bersama-sama, tak ternilai senangnya! :)

6. Cbeebies channel.
Ya, sebuah channel tv kabel. Mungkin aneh kenapa harus secara spesifik menyebutkan namanya, tapi untuk setiap inspirasi kreatif yang diberikan Mister Maker pada kreasi art & craft kami, setiap tetes keringat, kalori yang terbakar dan tawa renyah saat Arvin, Neo dan mama berjoget bersama Boogie Beebies, tiap senyuman dan gelak tawa Neo saat melihat tingkah Teletubbies, Show me Show me dan Karakter-karakter dalam In The Night Garden, untuk setiap cerita yang manis, imajinasi dan pelajaran tentang kasih sayang kakak beradik yang kami dapat dari Charlie and Lola, setiap menu asyik yang dimasak di I Can Cook dan pengetahuan mekanis yang seru dari Nina and The Neurons,.. Ya, saya sangat bersyukur.

7. Musim hujan.
Meskipun banyak yang tidak menyambut gembira si musim hujan yang turut menyebabkan banjir di berbagai tempat, tidak menghalangi saya untuk menyukainya. Selamat tinggal panas terik yang tak tertahankan, selamat tinggal biang keringat yang selalu mengganggu Neo, selamat tinggal rasa lemas setiap siang karena kepanasan, selamat tinggal tanaman dan pohon-pohon yang kering dan layu karena kurang air, selamat tinggal debu-debu yang memancing alergi kami,... Selamat datang hujan yang menyegarkan! Lagipula, saya paling suka bau hujan! ;)

8. Charlie - ikan peliharaan kami.
Acara memberi makan Charlie adalah favorit Arvin dan Neo (dan mama!), sehingga sering membuat rebutan siapa yang mau memberi makan Charlie. Arvin yang suka curi-curi kesempatan untuk memberi makan Charlie lagi dan lagi dan ketakutan mama jangan sampai Charlie mati karena overfed, Neo yang jadi semakin lancar memanjat kursi dan meja karena ingin melihat Charlie yang ditempatkan di atas rak lemari belajar, dan keindahan warna biru dan sirip halfmoon-nya yang setia menemani di malam-malam tanpa tidur mama. Keramahannya yang suka memandang balik setiap kali kami memandanginya dari balik kaca, kegemarannya pamer sirip saat sedang senang dan kerajinannya membuat 'pulau' bubble nest yang indah setiap hari,.. We love you Charlie!

9. Headphones.
Mama tentu akan terganggu kewarasannya kalau harus mendengarkan setiap kali Arvin bermain game di komputer ataupun handphone. Setiap bunyi berbagai jenis Dinosaurus mulai dari yang seram, aneh, hingga konyol yang didengarkan Arvin tiap hari. Juga atas menurunnya tingkat terbangunnya Neo dari tidur karena terganggu oleh bunyi-bunyian dari game/video/lagu kakak Arvin. Untuk kebebasan bagi Arvin untuk mendengarkan apa saja yang dia mau, kapanpun dimana pun dan kebutuhan mama akan ketenangan dan keheningan yang terpenuhi: terima kasih.

10. Mainan mobil-mobilan.
Dengan 2 anak laki-laki yang super aktif di rumah, jarang tidur dan gampang bosan, satu-satunya mainan yang tetap seru dimainkan dan telah melewati ujian waktu bertahun-tahun lamanya, adalah mobil-mobilan. Lagipula dengan jarak usia Arvin dan Neo yang terpaut 5 tahun, selain gelitik seru, main bola, cilukba ekstrim dan kejar-kejaran, agak sulit mencari permainan yang bisa dinikmati keduanya sekaligus. Terima kasih mobil-mobil kecil untuk hari-hari yang seru bagi anak-anakku, baik itu di meja makan, di meja ruang tamu, di lantai, di tempat tidur, di buffet ataupun di kaki dan punggung mama.

Apa hal-hal kecil yang anda syukuri?

Monday, September 12, 2011

Sudahkah kita memeluk si kecil hari ini?


Ilustrasi yang indah tentang pelukan***
Saat bayi dan balita, anak-anak kita begitu sering berada didalam pelukan kita. Alasan yang paling jelas adalah karena mereka begitu kecil, belum mandiri dan bahkan belum bisa berjalan sendiri. Seiring berjalannya waktu dan pertumbuhan fisik dan mental mereka, maka jadi semakin jarang pula kita menggendong, memeluk bahkan bergandengan tangan dengan anak.
Arvin memeluk Neo
Suatu malam, saat kedua putraku sudah tidur, saya menyalakan lampu hanya untuk memandangi dan mengagumi mereka satu persatu, sama seperti waktu mereka masih bayi-bayi kecil. Saya pun mencoba memeluk anak pertamaku yang berusia 6 tahun, tiba-tiba secara refleks, ia pun balik memeluk tanpa tebangun dari tidurnya. Ternyata anak memiliki refleks memeluk, dalam tidurnya sekalipun. Akhirnya kami tidur berpelukan sampai pagi. Begitu juga dengan si kecil, pelukan hangat sesaat setelah ia bangun dari tidurnya selalu membuatnya tersenyum senang.

Memeluk adalah suatu gerakan tubuh yang alami dan dapat memenuhi kebutuhan manusia akan sentuhan fisik. Sama seperti bayi-bayi yang berkembang sangat baik dengan banyak sentuhan (skin-to-skin/kangaroo care, pijat bayi dll), anak-anak dan orang dewasa pun sesungguhnya tidak akan pernah kehilangan kebutuhan ini. Memeluk adalah suatu bentuk pengekspresian kedekatan fisik dan juga mental, hal yang sangat indah antara orangtua dan anak. Rasanya tidak ada ekspresi fisik lain yang bisa menggambarkan kedekatan itu selain sebuah pelukan hangat.


Pelukan memiliki banyak manfaat yang positif lho, jadi jangan ragu untuk memberikannya kapan saja, dimana saja. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa pelukan dapat meningkatkan kesehatan kita. Penelitian mengungkap bahwa mereka yang sering mendapatkan pelukan secara teratur setiap hari dari orang yang dikasihi, memiliki denyut jantung yang lebih rendah, tekanan darah lebih rendah, peningkatan aktivitas sistem syaraf dan mood yang lebih baik. Bahkan mereka yang mendapat pelukan hangat dipagi hari, akan dapat menjalani sepanjang hari dengan lebih bahagia. Hanya dengan pelukan atau bergandengan tangan selama 10 menit, dapat banyak mengurangi efek fisik berbahaya akibat stres. Tiffany Field dari Touch Research Institute di Sekolah Medis Universitas Miami menyatakan bahwa penelitiannya juga menunjukkan bahwa pelukan dapat menurunkan pengeluaran kortisol, hormon stres. Saat hormon kortisol turun, memancarlah 2 macam cairan kimiawi otak lainnya yang berhubungan dengan perasaan senang, yaitu serotonin dan dopamin. Hebat kan?

Memeluk anak pun sebaiknya tidak hanya saat di suasana yang menyenangkan, tapi di segala kesempatan. Terutama di saat anak sedang sedih, takut, sakit ataupun sedang marah. Pelukan hangat dari orang tua memberikan rasa aman kepada anak melebihi apapun juga. Saat kita memeluk anak, kehangatan tubuh kita akan melingkupi anak, memberikan rasa tenang yang instan, saat itu juga. Pelukan menunjukkan pada anak bahwa ia bisa menghadapi apapun, bahwa ia dicintai. Pelukan membuat anak merasa lebih baik, memberikan rasa aman, rasa percaya, menurunkan ketegangan, mengurangi rasa sakit, mendorong keterbukaan antara anak dan orangtua dan yang terpenting membuat anak (dan tentunya, orang tua) lebih bahagia.

Sebuah penelitian ilmiah tentang pelukan menyarankan jumlah pelukan berdasarkan kebutuhan setiap manusia:
-         -  4 pelukan per hari, hanya untuk bertahan(survival) dengan tingkatan emosi minimal
-         -  8 pelukan per hari untuk menjaga tingkatan emosi yang kuat pada diri seseorang
-         -  12 pelukan per hari untuk bertumbuh dan menjadi manusia yang lebih baik
Wow, ternyata tidak ada batas atas sama sekali untuk jumlah pelukan yang bisa kita berikan dan terima setiap harinya! Semakin banyak, semakin baik. Ingat, the best things in life are free!

Penelitian terkini mengungkapkan adanya hubungan yang positif antara pelukan dan emosi positif. Para psikolog anak juga menekankan pelukan orang tua sebagai elemen berharga dalam perkembangan nilai-nilai hidup yang positif pada anak. Anak yang sering dipeluk oleh orang tuanya menjadi lebih komunikatif dan pengasih, tidak hanya kepada orangtuanya, tapi juga terhadap orang lain. Hal ini disebabkan karena pelukan adalah suatu bentuk ucapan syukur, penghargaan dan pengakuan orang tua terhadap anak.

Sebuah pelukan tidak memerlukan biaya sama sekali (modalnya hanya niat dan cinta). Mengapa kita harus pelit untuk melakukan sesuatu yang baik bagi kita sendiri (dan anak)? Tidak membutuhkan keahlian dan peralatan khusus untuk dilakukan (nggak perlu ikut seminar parenting, nggak perlu jadi member). Portabel, karena bisa diberikan kapan aja, dimana saja (nggak perlu simpanan khusus ataupun dibawa-bawa). Serunya lagi, sebuah pelukan sifatnya timbal balik, di saat kita memberikannya, kita juga menerimanya.
Jadi, sudahkah kita memeluk anak hari ini?

Sometimes it’s better to put love into hugs than to put it into words.
~Author Unknown

Sumber bacaan:


Follow my blog with Bloglovin

Wednesday, September 07, 2011

Amarah Orang Tua terhadap Anak


“Pada intinya dari semua amarah adalah sebuah kebutuhan yang tidak terpenuhi.” ~ Marshall B. Rosenberg


Yuk Evaluasi Diri!
Beberapa hari belakangan ini, saya mendapat pencerahan tentang kemarahan orang tua terhadap anak-anak. Sumbernya ini nggak lain dari pengalaman pribadi (memarahi anak) dan beberapa tulisan hebat yang saya baca. Saya terdorong untuk mengevaluasi dan melihat jauh ke dalam diri saya sendiri:
Kapan sih terakhir kali saya marah pada anak?
Apa yang biasanya menjadi sebab kemarahan saya?
Seberapa sering saya marah?
Apa saja yang saya katakan dan lakukan saat saya sedang marah?
Apa yang saya lakukan setelah saya marah?
Dan sayangnya, saya TIDAK BANGGA dengan hasilnya.
Saya ingin berusaha untuk melepaskan diri dari kebiasaan marah terhadap anak dan segala bentuk perilaku bawaannya yang negatif (sikap dan kata-kata yang tidak baik).

Memang menjadi orang tua itu tidak mudah (tidak pernah ada yang berani bilang begitu) dan ketidaksiapan fisik dan mental yang antara lain disebabkan oleh kelelahan dan kewalahan yang terus menerus setiap saat, memang kadang sungguh bisa memendekkan ‘urat’ sabar kita. Kemarahan kita bisa dari skala kecil hingga besar (mulai dari sekedar cemberut dan kernyit dahi pada anak, hingga berteriak dan menghukum anak). Namun satu hal yang saya sadari, meskipun awalnya kecil/remeh, jika kita terus memberi tempat untuk si amarah (misalnya dengan membiarkan diri terus mengomel), betapa mudahnya amarah itu berkembang menjadi besar. Kita tentu tahu bahwa amarah seringkali di analogikan dengan api, karena memang sifatnya sama, semakin dibiarkan, akan semakin ganas dan tentunya berakibat fatal.

Ekspresi kemarahan
Semua orang bisa marah. Itu adalah salah satu bentuk emosi terdasar manusia yang sulit diabaikan. Tapi bagaimana cara kita mengekspresikan rasa marah kita itu, terlebih lagi dalam hal ini terhadap buah hati kita sendiri, anak-anak yang (katanya) ingin kita didik menjadi pribadi yang lebih baik (dari kita!). Perilaku anak yang telah semakin besar, semakin mandiri, semakin pintar bicara, semakin banyak tahu tapi juga sering lupa (hehe), kadang terasa mengetes kesabaran kita dan sungguh memancing emosi. Belum lagi segala kecerobohan, kelalaian dan perilaku di luar aturan yang menyesakkan dada orang tua.

Seringkali bukan hanya perilaku (mata melotot, suara nyaring, membentak, tangan menunjuk, apalagi kalau sampai menyakiti anak secara fisik, seperti menjewer, mencubit, menarik/mendorong dengan kasar, memukul, menampar, dsb) MARAH kita saja yang tidak baik, tapi kata-kata kita yang sifatnya menuduh (”Ini kenapa airnya tumpah semua? Pasti kamu megang gelasnya nggak becus kan?”), menyalahkan (“kalo bukan karena kamu jatuhin, handphone mama kan pasti gak rusak gini!”), mengancam (“kalo sekali lagi mama liat kamu ngompol, awas ya! Kena jewer nanti.”), menghina (“Siapa lagi yang bisa ngeberantakin rumah ini selain kamu?!”), menyudutkan (“Memang dasar kamu aja yang nggak pernah mau dengerin mama, jadinya salah beli kan!”), mempermalukan (“Semua anak kelas 2 nggak ada lagi yang masih ditungguin orang tuanya, Cuma kamu doang! Tau nggak?”), memberi julukan/labelling (“Lagi-lagi mukul teman. Dasar anak nakal!”) dan banyak lagi.

Kenapa kita marah? 
Seperti yang jelas diungkapkan dalam kutipan di atas, adalah kemarahan muncul sesungguhnya dari sebuah kebutuhan yang tidak terpenuhi. Misalnya, di rumah kita memiliki kebutuhan untuk dapat memiliki rumah yang rapi dan bersih, jadi saat kebutuhan itu tidak bisa dipenuhi karena anak-anak kita menumpahkan minuman/makanannya di karpet kesayangan atau membiarkan mainannya berceceran di seluruh penjuru rumah, tentu dengan mudahnya kita akan marah kan? Sebagai orang tua kita juga punya kebutuhan untuk dihormati dan didengar oleh anak, jadi saat anak menolak untuk mendengarkan perkataan anda dan justru melawan, kemarahan menjadi respon otomatis kita.  

Memahami pentingnya mendewasakan diri sendiri
Satu fakta penting tentang kemarahan kita sebagai orang tua, adalah bahwa kita ini adalah role model bagi anak dalam mengatasi rasa marah dan mengendalikan emosi.  Hal ini sangat menginspirasi saya karena coba anda pikir, jika anda selalu menghadapi suatu setiap ketidaknyamanan emosional dengan marah-marah dan sikap yang lepas kendali, kira-kira akankah anak kita tumbuh memiliki pengendalian emosi yang baik? Rasanya nggak mungkin deh.

Jangan pernah lupa, dalam hubungan kita dengan anak, kitalah orang dewasanya. Hal ini berarti kita tidak bisa mengharapkan anak memahami segala keberadaan kita dan maklum. Dewasalah dan jadilah contoh.

Satu cara yang efektif untuk menempatkan diri di posisi anak anda saat anda sedang memarahinya adalah dengan mencoba membayangkan dirinya melihat anda sebagai orang tuanya (yang nota bene adalah satu-satunya SUMBER MAKANAN, TEMPAT BERTEDUH, RASA AMAN, PERLINDUNGAN, SUMBER SEGALA CINTA DAN KASIH SAYANG, SUMBER UTAMA AKAN INFORMASI TENTANG DUNIA INI DAN ORANG YANG PALING BERPERAN DALAM MEMBENTUK GAMBARAN DAN HARGA DIRINYA) berteriak-teriak dan mengatakan hal-hal yang tidak baik dan menyakitkan di depan wajah anda. Kalau menurut anda, bagaimana kira-kira perasaannya?

Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa sesungguhnya kita tidak perlu mengekspresikan kemarahan kita pada saat kita merasakannya. Karena penelitian tersebut membuktikan bahwa justru dengan mengekpresikan kemarahan pada saat itu juga, justru membuat kita lebih marah dari sebelumnya. Hal ini justru membahayakan hubungan kita karena akan membuat orang lain merasa takut, tersakiti dan bahkan merasa marah juga. Jadi adalah lebih baik untuk menyalurkan kemarahan kita secara fisik (misalnya memukul bantal, tanpa terlihat anak tentunya!) jika sangat perlu, tapi selanjutnya kita harus kembali menenangkan diri kita. Cara yang terbaik untuk mengahadapi kemarahan adalah dengan membatasi ekspresi kita seminimal mungkin dan pada saat kita sudah tenang, pelajari amarah itu dengan menanyakan pada diri kita sendiri; Apa yang membuatku begitu marah? Apa perasaan yang sebenarnya di balik kemarahanku; rasa takut atau sakit hati? Apa yang bisa kulakukan untuk memenuhi kebutuhanku yang tak terpenuhi dan apa yang bisa kulakukan untuk mengubahnya?

Saat kita marah, secara biologis, tubuh kita pun bereaksi. Jantung berdetak lebih cepat, pernafasan dan suhu tubuh meningkat, karena itulah kita cenderung ingin melepaskan ketegangan itu segera. Cara paling baik adalah dengan mengendalikan reaksi tubuh kita dan menarik nafas dalam-dalam, bila perlu hitung di dalam hati, jika masih belum hitung lagi lebih banyak, supaya kita bisa tetap mengendalikan diri. Jika benar-benar tak tertahankan, tinggalkan ruangan dan tenangkan diri. Lebih hebat lagi kalau bisa dibawa lucu, tertawa untuk melepaskan ketegangan dan mengubah mood kita.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengendalikan kemarahan, adalah bahwa kita harus menetapkan batasan pribadi bagi kita sendiri. Misalnya kita bisa menentukan, kalau kita benar-benar marah, kita mungkin akan menaikkan volume suara kita dan mengubah nada suara kita, tapi berkomitmenlah anda tidak akan memberlakukan hukuman fisik, menggunakan julukan, hinaan dan juga kata-kata yang sekiranya kasar dan menyakiti anak. Berikan juga batasan toleransi atas hal-hal apa yang sekiranya ‘layak’ membuat anda marah dan melakukan perilaku yang tidak dapat diterima, misalnya apabila perilaku anak sudah sampai membahayakan dirinya sendiri dan orang lain atau sangat merugikan dan berbahaya.
Bisa juga berkaitan dengan nilai-nilai moral yang dianut keluarga (contoh: menghormati orang yang lebih tua, tidak boleh memukul orang lain, harus bermain bergantian/tidak boleh berebutan, tidak boleh mengejek/menghina orang lain, dst), dan anda hanya akan marah apabila terjadi pelanggaran terhadap nilai-nilai tersebut. Jadi kita bisa fokus pada banyak hal lain yang lebih penting daripada meributkan setiap hal kecil yang muncul.

Perlu juga untuk mengkaji kondisi emosi kita setiap saat, apakah selain dipicu oleh perilaku anak, apakah kemarahan kita itu dipengaruhi oleh, misalnya kita sedang bersitegang/berselisih dengan pasangan, teman, keluarga atau atasan. Apabila hari kita sedang berat, kondisi tidak fit/sakit, lelah bekerja atau karena penyebab lain, jangan ragu untuk menyampaikan dengan jujur pada anak tentang kondisi kita dan bahwa kita sangat mengharapkan mereka untuk bersikap dan berperilaku yang baik. Kejujuran kita adalah hal yang sangat penting dalam menjalin kedekatan dan rasa percaya kita dengan anak. Anak pun belajar bahwa orang tua hanya manusia dan memiliki keterbatasan, bagaimana pun ingat, andalah teladan baginya!

Last but not least, satu lagi yang teramat sangat PENTING untuk diingat adalah jangan pernah malu atau ragu untuk meminta maaf pada anak apabila anda terlanjur marah atau mengucapkan kata-kata yang tidak sepantaskan diucapkan, terlebih lagi bila kita melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan!  Betapa beruntungnya anak mendapat orang tua yang dewasa, berbesar hati dan mau mengakui kesalahannya. Tidak ada yang lebih baik daripada orang tua yang menjadi teladan manajemen kemarahan yang baik bagi anak-anaknya.

Saya ingin sekali berusaha mulai saat ini untuk menyapih diri dari kemarahan terhadap anak-anak saya. Saya tahu ini tidak akan mudah dan adalah proses belajar yang tentunya harus bertahap (persis seperti proses penyapihan pada umumnya) agar saya bisa fokus pada membangun kedekatan dan hubungan yang lebih baik lagi dengan kedua anak laki-lakiku tercinta. 

* Sebagian sumber dan inspirasi: www.ahaparenting.com
** gambar diambil dari sini

Monday, August 08, 2011

"Yup, Arvin is a momma's boy! So what?!": Membesarkan Anak Laki-laki Dengan Hati




Sebagian besar kerabat dan keluarga yang mengenal Arvin (6tahun) dan hubungan antara kami, pasti akan dengan mudah melabelinya dengan sebutan momma's boy atau si anak mama.
Alasannya mungkin karena...
- Sampai sekarang ini Arvin susah banget untuk saya tinggal pergi, biarpun cuma sebentar. Kemana pun mama pergi, dia HARUS ikut.
- kami masih tidur bersama, satu kamar, satu kasur.
- sebelum tidur, biasanya Arvin harus ada waktu khusus untuk ngobrol sedikit dan minta ditepuk pantatnya oleh mama.
- meminta persetujuan mama untuk hampir 80% hal yang mau dia lakukan.
- tidak segan untuk minta dicium, mencium, dipeluk, memeluk dan berbagai bentuk PDPA (Public Display of Parental Affection).
- Arvin tidak masalah jika harus pergi tanpa mama, ke tempat yang mewajibkannya (misalnya ke sekolah), tapi kalau untuk bersenang-senang (seperti jalan-jalan), dia pastikan mama ikut, kalau tidak, dia tidak usah ikut saja.
- suka memilihkan, mengomentari dan memperhatikan penampilan mama :) -> fashion advisor-nya mama!
- gampang tersentuh perasaannya (sensitif) dan tidak ragu untuk menangis jika perasaannya terganggu dan tidak enak.
- kurang/belum minat sama olah raga (yang biasanya digilai anak laki-laki seusianya) dan lebih suka nyanyi, nggambar dan baca buku bareng mama.
- dan beberapa hal lain yang capek kalo harus ditulis semua,.. Hehe :D



Sayangnya, label 'momma's boy' ini tidak dihargai seperti orang menilai label 'daddy's girl' alias si gadis/putri kecil papa. Tidak adil.
Si anak cowok mama, yang sangat dekat dan mengidolai mamanya, dianggap sebagai anak laki yang nempel ke mama, kurang maskulin, manja, dan sifat-sifat negatif lainnya. Orang-orang merasa perlu untuk menggoda, 'menegur' dan mengomentari secara negatif para 'momma's boy ini supaya jadi lebih 'cowok'. ?!?!
Di sisi lain si putri kecil papa dinilai sebagai suatu yang menggemaskan, manis dan bikin orang bilang, "Aww...". Bahkan orang tua justru cenderung mendukung bentuk-bentuk 'pengidolaan' sosok ayah dan kedekatan oleh si anak perempuan. Ini pula yang membuat anak-anak laki-laki menjadi sulit dan canggung untuk menunjukkan emosi di kemudian hari.

Saya sendiri dari dulu selalu ingin membangun kedekatan yang tidak terbatas dengan anak-anak saya. Itu adalah impian saya bahkan sejak belum punya anak. Saya ingin punya kelekatan yang spesial, dimana anak-anak saya merasa nyaman berada di dekat saya, menghabiskan waktu bersama saya, berbagi minat dan kebahagiaan bersama dan yang terpenting, merasa bahwa saya adalah bagian penting dari hidup mereka yang tidak terpisahkan dari kehidupan bersama.
Dan justru mengingat saat ini anak saya keduanya adalah laki-laki, yang suatu saat akan memiliki dan memimpin kehidupan dan keluarganya sendiri, saya merasa perlu terjalinnya kedekatan diantara kami, diantara anak laki-laki dan ibunya. Perempuan pertama dalam kehidupan mereka. Saya hanya bisa berharap, hubungan yang baik, yang indah yang terjalin akan diimpartasikan kelak dalam cara-cara mereka memperlakukan istri-istri mereka (wow, jauh ya?! Tapi ah.. Toh waktu berlalu begitu cepatnya).

Bisa jadi saya akan sangat senang punya anak laki-laki yang maniak olah raga, tidak pernah menangis dan tampak tangguh setiap saat, yang menghabiskan banyak waktu bersama sesama teman-teman lakinya, tidak perlu ada 'drama' tiap kali saya harus pergi meninggalkannya, yang tidak memerlukan persetujuan dan pendapat saya setiap saat, dan seterusnya dan seterusnya... Ya. Bisa jadi.
Tapi bukan itu kondisinya, dan saya LEBIH dari bahagia dengan keadaan kami sekarang.

Saya menikmati tiap bentuk kebutuhannya akan perhatian, persetujuan dan kehadiran saya. Saya lebih dari bahagia untuk menjadi mama yang sebaliknya diperhatikan, dibutuhkan dan dicari-cari. Anak laki-laki saya akan belajar banyak hal dalam tahun-tahun mendatang dalam kehidupannya, kiranya Tuhan yang maha baik memberikan pelajaran terbaik baginya. Tapi biarlah selama masih menjadi bagian saya, biarlah anak lelakiku belajar tentang cinta dari mamanya. Belajar bahwa dalam mencintai, tidak ada ekspresi yang 'salah' atau 'tidak sesuai aturan'. Semuanya sah-sah saja. Semua anak-anakku perlu tahu, bahwa: Tidak ada yang salah dengan kedekatanmu dengan orang tuamu, entah kamu anak laki-laki atau perempuan. Tidak seorang anak pun yang boleh dibuat malu karena kedekatannya pada orang tuanya!

Dalam tahapan-tahapan tertentu dalam perkembangannya, semua anak memiliki kebutuhan akan ketergantungan dalam tingkatan yang berbeda-beda. Kewajiban kitalah sebagai orang tua untuk memenuhi kebutuhan itu. Buat apa merasa perlu membuat anak cepat dewasa, cepat mandiri tapi dipaksakan. Menurut saya kita nikmati saja tahapan ini, toh tanpa kita sadari anak-anak kita akan tumbuh dewasa dengan cepatnya. Alangkah indahnya bila ia tumbuh dewasa dengan mengetahui bahwa orang tuanya mencintai apa adanya dan mendukungnya 100%.






Friday, July 15, 2011

Awas! Pesan terselubung dalam obrolan orang tua

Setelah menjadi orang tua (meskipun anda tergolong kuper dan berusaha menghindari kontak dengan orang lain sekali pun) akan selalu ada kesempatan bertemu dengan sesama orang tua lain/keluarga lain dan orang lain. Entah itu di sekolah, tempat ibadah, supermarket, airport dan sebagainya. Ada juga kesempatan dimana keluarga besar berkumpul di hari raya atau di akhir tahun, lengkap dengan anak-anak masing-masing.
Setelah mempunyai anak, mau nggak mau, anak kita (hampir) selalu menjadi topik pembicaraan terhangat, baik digagas oleh kita sendiri ataupun oleh orang lain.memang hal ini tentunya tak terhindarkan dan bukan pula sesuatu yang buruk. Setelah menjalani hidup sebagai orang tua lebih kurang 6 tahun belakangan, saya telah banyak kali terlibat dalam pembicaraan baik dengan keluarga sendiri, tetangga bahkan orang asing, tentang anak-anak saya. Banyak hal bisa dipelajari dan menginspirasi dalam obrolan semacam ini, tidak jarang pula ada tips-tips pengasuhan anak yang didapat. Obrolan ringan bisa jadi ajang berbagi cerita dan pengalaman yang bisa menjadi sangat mengasyikkan.

Namun di sisi lain, seringkali saya perhatikan bahwa banyak orang tua yang terkadang justru tergoda untuk  memanfaatkan situasi ini untuk 'menyerang' kekurangan atau kemalasan anak melalui pembicaraannya dengan orang lain, padahal tujuannya tidak lain untuk menyindir anak dan juga mengeluh.
Contoh:
Seorang gadis kecil berlari-lari lincah di depan anda saat sedang mengantri di tempat praktek dokter anak. Dia juga menyanyikan beberapa lagu dengan lafal yang baik dan suara yang merdu. Anda terpesona. Pembicaraan dengan orang tua si anak segera dimulai.
"Aduh, pinter banget ya anaknya. Nyanyi merdu, hafal banyak lagu lagi! Gemes deh. Gimana ngajarinnya?"
Orang tua si anak dengan penuh kebanggaan menjawab pertanyaan anda lengkap dengan detail yang bahkan sebenarnya tidak terlalu perlu.
Anda: "Wah.. Hebat ya! Kalo anak saya nih, (sambil menepuk pundak anak yang sedang duduk lesu di samping anda sambil asik memainkan HP anda) mana mau diajarin begitu!" agak menaikkan nada suara.
"Pokoknya kalo diajarin nggak pernah serius. Main-main terus! Boro-boro bisa hafal banyak lagu gitu, wong disuruh dengerin aja nggak mau!" bla bla bla.

Atau, beda tema:
"Duh, makannya pinter ya jeung! Anakku ini lho, minta ampun deh makannya susah banget! Kayaknya semua resep udah dicoba nggak ada yang mau juga! Heran deh! Pokoknya kalo urusan makan, aku udah angkat tangan deh!" bla bla.

Atau bahkan pada anak yang masih bayi:
"Ih, bobonya nggak begadang ya? Enak banget ya mbak." muka iri pun dipasang. "Kalo anakku ini bener-bener bikin mamanya stress, tiap hari aku ngelonin ampe jungkir balik, susaaah banget bobonya! Udah nggak tau mau diapain lagi! Udah nyanyi, digendong, diayun-ayun, nggak mau juga! Pusing.".

Atau lain lagi:
"Iih, manis ya dedeknya. Nggak cengeng lagi. Digendong siapa aja mau, nggak kayak si Upik nih, cuma disapa aja langsung nangis deh! Pokoknya sama siapa-siapa aja jutek nih dia. Kerjaannya teriak-teriak nggak jelas."
Dan masih banyak lagi. 

Salah satu nasehat favorit dalam pengasuhan anak yang pernah saya terima adalah: "Pujilah anak di hadapan orang lain dan pastikan ia mendengarnya."
Nasehat ini sangat baik. Karena anak menjadi tahu bahwa ada hal baik yang kita sukai dari dirinya (sifatnya, karakternya, pencapaiannya, prestasinya, sikapnya, kebaikannya dsb). Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan diri dan gambaran diri yang baik. Anak juga jadi tahu bahwa kita sayang dan bangga padanya, hingga tanpa ragu kita pun membaginya dengan orang lain.
Sayangnya, kebanyakan kita kadang melakukan pula apa yang dicontohkan di atas. Membiarkan anak mendengar 'keluh kesah' kita tentang dirinya, pada orang lain, dengan harapan anak merasa buruk dan mengganti perilakunya atau lebih parah lagi, agar kita mendapat simpati orang lain.
Sayangnya, itu tidak akan berhasil. Kita justru membuat anak merasa terpuruk, tidak dihargai, kecewa, malu dan lebih buruk lagi, terhina. Karena bagaimanapun, yang anda bagi dengan orang lain itu adalah kekurangannya, kegagalannya dan hal buruk lain tentang dirinya.

Mari kita sebagai orang tua lebih mawas diri. Hal seperti ini bisa saja terjadi tanpa kita sengaja ataupun sadari. Bisa saja kata-kata kita yang keluar berasal dari akar kelelahan dan kekesalan yang sudah memuncak, tapi selalu perhatikan dan utamakan pula perasaan anak. Kita orang tua yang seharusnya membimbing, mendukung, mengemong anak, tidak pantas bila kita justru 'menjatuhkan' anak kita sendiri. Memang kadang nampak sepele, sesuatu yang hanya sekedar teromong yang kita dan lawan bicara akan lupakan kemudian, tapi anak tidak akan lupa. Jangan seenaknya merasa anda bisa tahu persis bagaimana perasaan anak anda, hanya karena merasa mengenalnya! Perasaan seseorang adalah hal pribadi yang hanya bisa dipahami orang yang bersangkutan, tidak terkecuali pada anak-anak.
Saya pun tentu saja masih berjuang untuk selalu mengingatkan diri sendiri tentang hal ini. Kelelahan dalam menjalani tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua memang tidaklah mudah dan terkadang terasa di luar kemampuan kita. Tapi bukankah kita diberi tugas yang berharga, membesarkan anak-anak kita menjadi pribadi yang kuat, percaya diri dan bangga akan dirinya?
 
Ayo kita jadi penggemar anak-anak kita. Selalu mendukung dan senantiasa setia mendampingi apapun yang terjadi. Seperti layaknya seorang fans sejati, kita 'menutup mata' terhadap kekurangan anak, kegagalan anak dan mari kita justru 'mengumbar' kebaikannya, keunikannya, perilakunya, kesuksesannya dan prestasi-prestasinya yang terkecil dan tersederhana sekalipun! Sebisa mungkin, lupakan sindiran, ejekan dan keluhan yang sia-sia. Jangan menahan pujian dan penghargaan buat anak, biarkan dia dan dunia tahu betapa bangga dan bahagianya kita menjadi orang tua mereka.

Friday, June 24, 2011

Neo 14bulan, Si tarik ulur

Di usia 14 bulannya ini, ada hal menonjol yang saya perhatikan muncul di keseharian Neo. Dia jadi si tukang tarik ulur! :)




Di saat dia lagi asyik berat alias konsentrasi sama sesuatu, biar mamanya treak-treak sampe urat di leher nonjol semua, dia bakalan cuek, bagaikan tak punya kuping! Hehe bikin mama jadi keki berat.. Padahal sebelumnya Neo adalah anak yang selalu ngerespon tiap kali namanya dipanggil, pasti dia akan noleh dan mendatangi si pemanggil. Sekeki-kekinya mama, sadar banget kok kalo masa ini Neo mulai menunjukkan kecenderungan untuk jadi lebih independen. Biasanya nggak ada cerita deh mama lewat-lewat dicuekin, tapi sekarang dia meluangkan waktunya yang berharga untuk melanjutkan observasinya atas anak-anak ayam yang berbaris mengikuti si ibu ayam di halaman depan, atau kupu-kupu yang parkir di langit-langit teras, atau anjing yang mengendus-endus di halaman depan, atau daun-daun pohon yang goyang-goyang tertiup angin dan jutaan hal hebat lainnya. Keingintahuan murni yang semoga saja, tidak akan pernah mudah dipuaskan.

Ada kelegaan tersendiri buat mama yang jadi ada tambahan waktu untuk sekedar ngabisin teh-nya selagi masih hangat (biasanya selalu baru bisa minum setelah dingin ;p), posting twit (halah!), ngelurusin kaki atau sekedar mengagumi Neo dari kejauhan. Tapi tidak dapat dipungkiri ada sebersit cemburu tiap kali panggilan mama diacuhkan sang buah hati.

Sementara itu, ada saatnya Neo jadi si super clingy alias berubah jadi kurcaci kecil yang ngumpet dibelakang kaki mama dan memeluk erat kaki mama, tanpa alasan yang jelas. Minta digendong lebih lama dan minta berlama-lama nemplok di pundak mama dengan santainya sambil bersenandung kecil yang tidak mama pahami.
Mungkin kamu ingin mengingatkan mama, "Tenang aja ma, aku masih bisa kok jadi bayi kecilnya mama!". Hihi.
Jadi mama pun siap berganti mode pula, dari mode si pengamat jarak jauh jadi mode 'pemberi kenyamanan siap sedia 24jam'. Mama akan selalu menyambut gembira Neo di pundak mama, lagian kan Neo sudah tau, mama paling seneng membaui leher dan kepalamu, entah itu baru mandi, bangun tidur ataupun tiap habis main. Mama penggemar berat mukamu yang nempel di dada mama sampe pipimu kegencet dan mulutmu jadi 'monyong'. Dan kaki kecilmu yang melingkar di pinggang, mirip kayak anak orang utan bergelayut di mama orang utan (jangan kecil hati dibilang kayak anak orang utan, karena pencipta kita sama nak, Tuhan Yang Maha Kuasa).

Sementara itu, Mama mau menikmati dulu nih edisi baru, Gaya Tarik-Ulur a la Neo.

Monday, June 13, 2011

Berkaca pada Ibunya Kennedy, ibu tangguh dari Kenya


Hati saya sangat tersentuh kemarin sore.

Saya bersyukur sempat menonton salah satu program televisi yang sangat menginspirasi, yaitu CNN's World Untold Stories: Locked Up and Forgotten.








Program itu berfokus pada kurangnya perhatian (bahkan cenderung mengabaikan) pemerintah Kenya terhadap kesejahteraan warganya yang memiliki gangguan mental & psikologis. Pemaparannya panjang lebar, tapi ada tokoh yang menarik yang terungkap disitu yang membuat saya tersentuh. Ialah seorang ibu dari anak yang memiliki gangguan mental. Di program itu ia mencurahkan perasaannya dan tampak juga kesehariannya mengurusi anak yang meski usianya sudah tidak kecil lagi, tapi sama sekali tidak mampu mandiri dan mengurus dirinya sendiri. Anak itu bernama Kennedy, berusia 17 tahun, menderita cerebral palsy dan keterbelakangan mental.

Ibu ini dengan setia memberi makan, menggendong (Kennedy tidak bisa berjalan), membersihkan tubuhnya dan sebagainya. Belum lagi kemiskinan mereka yang membuat hidup jauh lebih sulit lagi.
Ibu dari Kennedy tiap hari memasak makanan yang sangat sederhana sambil bernyanyi, "God is good..". Kemana-mana ia MENGGENDONG anak 17 tahunnya yang tidak bisa berjalan. Ia adalah orang tua tunggal yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan, terpaksa harus mengurung Kennedy di rumah saat bekerja (karena tidak ada tempat menitipkan anaknya,) sebagai hiburan ia menggantungkan sebuah botol plastik bekas minuman yang sudah usang pada seutas tali di atas tempat Kennedy berbaring, sebagai 'mainan' bagi Kennedy selama ia ditinggal di rumah sendirian. Kennedy pun kesepian dan menangis di pembaringannya.

Meski harapan akan perawatan yang layak bagi putranya tampak jauh dari jangkauan (pemerintah Kenya hanya mengalokasikan 1% anggaran untuk kesehatan mental), ibu ini tampak cukup optimis. "I have hope. I have hope." katanya.

Kita seringkali sulit mengucap syukur apabila selalu melihat orang lain yang serba lebih dari kita. Lebih berhasil, lebih kaya, lebih menarik dan seterusnya. Tontonan ini memberi apa yang saya BUTUHKAN: gambaran & wawasan yang lebih besar dalam melihat hidup.
Betapa mudahnya kita mengeluh akan hidup sehari-hari menjadi orang tua, menjadi ibu. Tentang anak-anak yang menumpahkan makanan/minuman, minta gendong terus, tidak mau tidur siang, susah ngerti waktu diajari, menghilangkan barang, terlalu banyak main dan jutaan hal kecil lainnya.
Betapa kita seperti tidak puasnya membeli dan terus membeli, mencoba dan terus mencoba barang-barang yang sesungguhnya TIDAK kita perlukan, hanya karena orang lain mempunyainya dan sedang tren (termasuk produk untuk anak, mulai dari stroller, carrier dan mainan paling trendy!).

Ada seorang ibu di dunia ini yang meski lelah tetap menggendong anaknya yang berusia 17tahun itu kemanapun! Sementara kita dengan seabrek koleksi carrier & stroller mahal itu, tetap saja tidak puas.
Ada ibu yang tersenyum dan bernyanyi penuh syukur meski hanya bisa memasak 1 bahan makanan sangat sederhana setiap harinya, sementara kita dengan mudahnya membuang-buang makanan sisa atau hanya karena tidak suka.
Ada ibu yang hanya punya sebuah botol plastik bekas untuk mainan anaknya, sementara kita terus menambahkan lemari dan rak penyimpanan baru untuk mainan anak yang semakin banyak.
Ada ibu yang terpaksa meninggalkan anaknya yang cacat di rumah untuk mencari uang, kita seringkali kurang menghargai kebersamaan bersama anak-anak kita. Menyia-nyiakan kesempatan emas untuk menghabiskan waktu dengan mereka.

Sungguh sesuatu hal yang membuka mata, bahwa pelajaran dan pehamanan bukanlah sesuatu yang kita dapatkan hanya dari orang yang serba 'lebih' daripada kita, melainkan mereka yang 'kurang' dari kita.
Bila merasa kurang bahagia dan kurang beruntung, turunkan dagu, belajarlah pada mereka yang kurang beruntung. Karena seburuk apapun keadaan kita, selalu ada yang lebih buruk/tidak seberuntung kita.
Betapa pun sulitnya menjalani tugas dan tanggungjawab besar sebagai orangtua, kita patut malu bila melihat perjuangan dan optimisme ibu dari Kennedy.

*lebih lanjut tentang program tersebut:
http://edition.cnn.com/CNNI/Programs/untoldstories/

Monday, May 30, 2011

Memaknai Keberadaan Sang Bayi

my cute baby Neo
Setelah mendapat kehormatan untuk 2 kali menikmati fase Bayi dalam kehidupan 2 anakku, ada beberapa hal penting yang saya pelajari.
Saat memiliki anak pertama, seiring dengan segala euforia bayi baru yang mengelilinginya, saya jadi terobsesi dengan segala buku-buku panduan perawatan, pengasuhan dan cara-cara mendidik anak. Tentu saja hal ini tidaklah negatif, karena pengetahuan dan wawasan yang luas itu PENTING dalam menjalani 'dunia' yang sama sekali baru ini. Saya bahkan punya buku yang mengajari bagaimana caranya bermain dengan bayi, lengkap dengan panduan menurut usia dari 0 sampai 24 bulannya!

Memiliki bayi adalah salah satu hal paling membahagiakan dan paling spesial dalam kehidupan seorang perempuan (setidaknya bagi saya). Sejak kecil, disadari atau tidak, saya telah mengimpikan untuk menjadi ibu, permainan favorit saya adalah bermain pura-pura menjadi ibu dari si boneka kesayangan. Meskipun keterampilan menjadi ibu, atau orang tua secara umum, sebagian besar harus dipelajari, beberapa hal akan terjadi secara alami. Membuat 'jadwal kegiatan' berdasarkan panduan dari buku, atau mengarahkan tindakan dan pendekatan-pendekatan terhadap bayi seperti yang ditulis para ahli, tidak lantas membuat kehidupan bersama bayi menjadi mudah, sempurna dan serba kondusif untuk tumbuh kembangnya. Tidak ada jaminan semacam itu.


Mengalami dan menikmati keberadaan bayi, sebagaimana adanya ia, adalah hal terbaik yang bisa dilakukan orang tua bagi bayi-bayi mungil, para pendatang baru di dunia ini.

Temukan cara anda sendiri untuk membangun hubungan dan kelekatan dengan bayi. Meskipun masih pendatang baru, bukan berarti dia tidak punya kepribadiannya sendiri. Meski begitu banyak tulisan dan penelitian yang berusaha 'menyederhanakan' dan memetakan dirinya, tapi dia BAYI ANDA, bukan bayinya para ahli ataupun bayi orang lain. Jika ingin mengenalnya, habiskan waktu bersama, bangun antusiasme dan keingintahuan terhadapnya, karena buku-buku itu TIDAK LEBIH TAHU tentang dia daripada kita. Percayalah.

Bayi dengan segala keterbatasannya untuk mengkomunikasikan perasaan dan keinginannya, keterbatasan geraknya; dimana perpindahan dan pergerakan tubuhnya sebagian besar bahkan tergantung pada kita. Begitu rapuh, bergantung, pasrah dan begitu menggemaskan! Melakukan pendekatan terhadap mereka tentu tidak akan sesulit mendekati orang dewasa yang punya agenda dan juga berbagai cara menutup-nutupi dirinya.
Mereka membawa diri mereka apa adanya, terbuka, telanjang, siap untuk diterima dan dicintai sepenuhnya. Sungguh momen membesarkan bayi adalah fase yang istimewa. Fase dimana orang tua, dengan segala keberadaannya menjadi dunia si bayi. Sentuhan, suara, kedekatan, kehangatan dan ekspresi wajah orang tua, adalah hal-hal yang terpenting bagi sang bayi. Kapan lagi dalam hidup ini kita menjadi satu-satunya dan pusat dari segalanya?

Masa bayi yang singkat, hanya 12 bulan, berlalu begitu cepat, tidak terasa. Nikmati dan rayakan setiap bulannya. Seorang teman menilai bahwa terlalu berlebihan merayakan bertambahnya bulan demi bulan bayiku, "Segitunya sih. Biasa aja kali..." katanya. Yang saya tahu, tidak setiap hari ada bayi di pelukan dan pangkuan anda. Sekejap berpaling, dia akan menjelma menjadi si manusia kecil yang berangsur mandiri hari ke hari. Apa salahnya merayakan hadiah terindah dalam hidup ini? Makhluk kecil tak berdaya yang membuat hidup kita berubah 180 derajat. Bagiku, inilah salah satu bentuk ucapan syukurku pada Yang Maha Kuasa, yang telah memberi dan menghadirkannya ke dunia.

Saat ini, bayi saya sudah menjelma menjadi seorang batita berusia 1 tahun yang sudah berjalan sendiri, bermain sendiri dan bahkan makan dan minum sendiri. Banyak hal menarik perhatiannya (yang berharga itu). Matahari, bulan, pohon, burung, anjing, bunga, kupu-kupu dan berjuta benda lainnya yang tiada henti berlomba-lomba memasuki otak mungilnya yang tanpa batas dan senantiasa haus akan pengetahuan. Mungkin saya sedikit iri pada mereka, tapi saya tahu bahwa satu hal penting dalam menjadi orang tua adalah kemampuan berdamai dengan perubahan. Karena setiap perubahan itu penting dan mengarahkan kita kepada hal-hal yang jauh lebih menantang dan mendewasakan.