Showing posts with label Breastfeeding. Show all posts
Showing posts with label Breastfeeding. Show all posts

Wednesday, August 03, 2011

Komunikasikan ASI di Pekan ASI Sedunia

Dalam rangka Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week) pada tanggal 1-7 Agustus 2011 ini, saya ingin turut merayakan dengan menulis sedikit uneg-uneg tentang ASI dan proses menyusui. Adapun tema  tahun ini adalah "Talk to me! Breastfeeding: A 3D Experience" dan memfokuskan pada pentingnya komunikasi dalam melindungi, menggalakkan dan mendukung proses menyusui. 
Hal ini mengingatkan saya tentang kondisi masyarakat kita yang masih banyak saja yang belum 'melek' ASI, bahkan masih ada lho pikiran bahwa memberikan ASI itu tidak modern dan tidak praktis. Ya ampun, ini kan perkara kesehatan dan nutrisi bayi, bukan soal gaya hidup! Pasti kurang informasi deh. Padahal sebenarnya, kalau memang mau, kita bisa kok mencari informasi, penjelasan, komunitas dan segala macam tetek bengek seputar menyusui dan ASI. Buku-buku kesehatan, website, milis dan juga klub, kelas menyusui, asosiasi, semakin mudah diakses dan didapati (terutama di kota-kota besar).
Sebagai seorang mama yang pro-ASI, saya tahu persis bahwa keberhasilan seorang ibu menyusui anaknya sangat banyak ditentukan, antara lain, oleh komitmen dan optimisme ibu. Dimana hal itu mustahil dimiliki kalau ibu itu kurang wawasan tentang ASI, tentang kelebihan ASI, cara pemberian, perlekatan, solusi-solusi atas berbagai problem menyusui (tounge tie, puting datar dsb), cara memerah ASI, penyimpanan, menjaga dan meningkatkan supply ASI, maupun prinsip-prinsip dasar ASI, seperti mekanisme supply dan demand-nya. Juga berbagai kurangnya pemahaman akan kondisi bayi ASI,  yang (misalnya) lebih sering minum (dikira malah ASI kurang/bayi tidak kenyang), sampai pemberian ASI ekslusif 6 bulan yang berarti bayi tidak diberi APAPUN selain ASI (termasuk air putih, jus buah dan pisang!).
Sungguh miris memang, betapa tiap hari kita dibombardir oleh pesan-pesan tersurat maupun tersirat secara komersil dari produk pengganti ASI tanpa henti. Kita hidup dalam lingkungan yang pikirannya sudah ditanamkan (oleh iklan) bahwa memberikan pengganti ASI adalah hal yang lebih modern, instan dan praktis. Begitu bagus dan kerennya iklan produk-produk tersebut seakan bisa sebagus ASI. Tentu saja, kita semua tahu, iklan itu tidak obyektif, bersifat persuasif dan tujuan utamanya adalah untuk menjual produk, BUKAN untuk kebaikan konsumen.
"Ayo ibu, bantu tingkatkan kemampuan berpikirnya!", "Hidup yang sehat di luar, di mulai dari dalam.", "kuberikan yang terbaik untuk bayiku, because you're my everything!", "100% untuk buah hati ibu", "Segalanya yang terbaik untuk dirimu,... Kuberikan segalanya, tuk menjadi yang terbaik", "She's got the whole world in her hands", "Eitss, jangan salah! Tidak semua susu sama loh!" dan seterusnya. 
Semua slogan-slogan itu, bagi saya, justru sangat pas ditujukan untuk ASI.
Miris bahwa para ayah dan ibu muda begitu 'menelan' bulat-bulat apa yang ada di iklan, terpaku pada tambahan AA, DHA, Kolin, FOS, GOS dst dst... Tak tahukah mereka bahwa semua itu terkandung di ASI? Lengkap. Didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan bayi dalam tiap tahap pertumbuhan. GRATIS. Kemungkinan karena minimnya 'iklan' ASI. Ayo kita sosialisasikan ASI!

Menurut saya, pepatah yang mengatakan bahwa semua hal terbaik dalam hidup ini adalah gratis (The best things in life are free) itu benar sekali. Diantaranya, cinta, perhatian, kasih sayang, kejujuran, kelemahlembutan, kebaikan, dan juga ASI. Kita pun semua pasti tahu slogan "Back to nature".
Sebelum produk pengganti ASI dipasarkan secara komersil seperti sekarang ini, sebagian besar bayi diberi ASI sebagai sumber nutrisi utamanya. Karena memang begitulah manusia (perempuan) diciptakan, setelah melahirkan anaknya, tubuhnya pun menghasilkan ASI anaknya. Itu hukum alam yang tak bisa dibantah. Bahkan semua mamalia pun demikian, apalagi manusia. Bila anda bisa memberikan yang terbaik, kenapa memberikan pengganti? Berikut artikel lengkap berisikan alasan-alasan medis untuk tidak menggunakan pengganti ASI.

Seperti tema WBW 2011, memang komunikasi sangat penting dalam menunjang proses menyusui ini. Yang ideal, bahkan sejak kehamilan, selain memantau perkembangan dan kesehatan janin, sebaiknya para praktisi kesehatan (dokter, bidan, suster dsb) sudah mulai mengkomunikasikan tentang pemberian ASI pada ibu-ibu hamil. Begitu pun ibu-ibu hamil harus proaktif mencari informasi, teman maupun dukungan dan belajar sebanyak-banyaknya. Sehingga apabila mengalami masalah, tidak panik dan sudah tahu solusinya. Perlu juga mencari komunitas yang mendukung dan juga perlu mengedukasi suami dan keluarga besar agar bisa turut membimbing dan mendukung keberhasilan proses menyusui. Masyarakat luas pun sangat perlu mendapatkan informasi tentang ASI untuk menambah wawasan dan terlebih penting lagi untuk membentuk kerangka berpikir yang benar tentang ASI dan menyusui. yang tak kalah penting adalah untuk meluruskan miskonsepsi, mitos dan pengetahuan yang salah tentang ASI. Banyak ibu menyusui yang kendor semangatnya karena begitu banyak informasi dan pengaruh yang keliru di masyarakat. Tiap-tiap orang yang punya narasumber dan sumber informasi terpercaya, wajib mengkomunikasikan tentang ASI pada orang lain, minimal berawal dari anggota keluarga dan teman-teman. 
Kenapa? 
Jangan biarkan hak bayi mendapatkan ASI terampas begitu saja. Sejak bayi dilahirkan dan tubuh ibu memproduksi ASI, itu adalah HAK bayi untuk menerimanya. Bukankah sudah jadi kewajiban orang tua pula untuk memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya?
Dalam skala besar, pemberian ASI mendukung generasi penerus yang sehat dan cerdas. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bila pemberian ASI di masyarakat sebanyak 90%, maka sekitar 1000 angka kematian bayi bisa dicegah. Pemberian ASI juga sangat menuntungkan bagi lingkungan hidup kita. Bagaimana tidak, dengan memberikan hanya ASI, maka begitu banyak sampah kemasan, kaleng, botol yang terhindarkan untuk dibuang ke lingkungan. Pemberian ASI juga memberikan keuntungan kesehatan secara umum, karena bayi ASI lebih jarang sakit, maka angka perawatan, konsultasi kesehatan dan pengobatan dapat ditekan. 
Begitu banyak kelebihan ASI yang mungkin belum diketahui banyak orang. Tak kenal maka tak sayang. Sungguh memprihatinkan bila sesuatu hal yang baik, gagal atau batal dilakukan semata-mata hanya karena kurangnya pengetahuan. Marilah kita bersama-sama menjadi duta ASI, demi kebaikan dan kesehatan bangsa kita tercinta ini! 

**Image taken from here and here

celebrate-wbw-npn-450
I’m celebrating World Breastfeeding Week with Natural Parents Network!
You can, too — link up your breastfeeding posts from August 1-7 in the linky below, and enjoy reading, commenting on, and sharing the posts collected here and on Natural Parents Network.

(Visit NPN for the code to place on your blog.)

Wednesday, July 20, 2011

Fakta Seputar Keuntungan Menyusui Lebih Dari 1 tahun (Extended Breastfeeding)



*gambar diambil dari sini

Banyak mama yang merasa risih dan terganggu dengan komentar-komentar miring orang saat mengetahui bahwa mereka masih menyusui anak balitanya. Yah, memang sebagian besar orang sering merasa perlu berkomentar tentang sesuatu, meskipun pendapatnya TIDAK diperlukan dan bahkan lebih parah lagi, pendapatnya TIDAK berdasar. 

Jadi, untuk mendukung para mama, yang seperti saya, masih menyusui balita mereka di usianya yang sudah lebih dari 1 tahun, mari kita lengkapi diri dengan data yang jelas dan penting. Nggak lain untuk menambah PeDe kita dan mendukung pilihan terbaik yang sudah kita buat itu.

Di bawah ini merupakan beberapa fakta penting tentang keuntungan dari extended breastfeeding, yaitu: 

Keuntungan dari segi NUTRISI
·       Meski belum banyak penelitian yang dilakukan pada anak-anak yang menyusu lebih dari usia 2 tahun, informasi yang tersedia kini mengindikasikan bahwa menyusui terus menjadi sumber nutrisi yang berharga dan sumber pencegahan atas berbagai penyakit selama proses menyusui berlangsung. 
·       "ASI perah dari ibu yang telah menyusui > 1 tahun secara signifikan mengalami peningkatan akan kandungan lemak dan energi, bila dibandingkan dengan ASI perah dari ibu yang menyusui dalam jangka waktu yang lebih singkat. Dengan proses menyusui yang lebih lama, kontribusi energi dan lemak dalam ASI bagi diet balita bisa jadi signifikan." --Mandel 2005
·       "ASI terus menyediakan nutrisi kunci substansial dalam jumlah yang cukup setelah bayi berusia lebih dari 1 tahun, terutama protein, lemak dan sebagaian besar vitamin." --Dewey 2001
·       Di tahun kedua (12-23 bulan), 448ml ASI menyediakan:
29% kebutuhan energi
43% kebutuhan protein
36% kebutuhan kalsium
75% kebutuhan vitamin A
76% kebutuhan asam folat
94% kebutuhan vitamin B12
60% kebutuhan vitamin C
--Dewey 2001
·       Penelitian yang dilakukan di rural Bangladesh menunjukkan bahwa ASI terus menjadi sumber vitamin A pada tahun ke-2 dan ke-3 dalam kehidupan anak.
      --Persson 1998
·       Tidaklah jarang bahwa penyapihan direkomendasikan bagi balita yang sudah makan makanan padat. Namun, rekomendasi ini TIDAK didukung oleh penelitian. Menurut Sally Kneidel dalam "Nursing Beyond One Year" (New Beginnings, Vol. 6 No. 4, July-August 1990, pp. 99-103.):
Sebagian dokter mungkin merasa bahwa menyusui dapat mengganggu selera makan anak terhadap makanan lain. Namun belum pernah ada dokumentasi yang menyatakan bahwa anak yang menyusu lebih cenderung menolak makanan tambahan daripada anak yang telah disapih. Nyatanya, kebanyakan menurut para peneliti di dunia ketiga, dimana peningkatan selera makan balita yang mengalami malnutrisi (gizi buruk) merupakan kepentingan mendesak, dianjurkan untuk tetap menyusui, bahkan pada anak yang mengalami malnutrisi berat (Briend et al, 1988; Rhode, 1988; Shattock and Stephens, 1975; Whitehead, 1985). Sebagian besar menyarankan bukan untuk menyapih anak balita yang mengalami malnutrisi, melainkan dengan mensuplemantasi diet ibu untuk meningkatkan kualitas nutrisi ASInya (Ahn and MacLean. 1980; Jelliffe and Jelliffe, 1978) dan dengan menawari anak makanan yang bervariasi untuk meningkatkan selera makannya (Rohde, 1988; Tangermann, 1988; Underwood, 1985).

Anak ASI LEBIH JARANG SAKIT
·     American Academy of Family Physicians mencatat bahwa anak-anak yang disapih sebelum berusia 2 tahun lebih beresiko terhadap penyakit (AAFP, 2001).
·     Anak balita yang disusui antara usia 16 dan 30 bulan telah terbukti lebih jarang mengalami sakit dan kalaupun sakit, durasinya lebih singkat, dibandingkan dengan anak-anak yang tidak disusui. (Gulick, 1986).
·     "Zat-zat Antibodi yang terkandung dalam ASI selama proses menyusui berlangsung adalah sangat banyak"  (Nutrition During Lactation 1991; p. 134). Bahkan faktanya, beberapa faktor-faktor imunitas dalam ASI meningkat konsentrasinya selamat tahun ke-2 dan juga selama proses penyapihan (Goldman 1983, Goldman & Goldblum 1983, Institute of Medicine 1991).
·     Menurut World Health Organization, "Peningkatan kecil saja pada tingkat menyusui/pemberian ASI, dapat mencegah sampai dengan 10% dari seluruh angka kematian anak di bawah usia 5 tahun: Menyusui/pemberian ASI memiliki peran yang esensial dan peran yang kadang diabaikan atas perawatan dan pencegahan penyakit pada anak. " [penekanan ditambahkan]


Anak ASI memiliki kemungkinan ALERGI lebih rendah
·     Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa salah satu cara terbaik untuk mencegah alergi dan asma adalah dengan menyusui ekslusif setidaknya 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI dalam jangka panjang setelahnya.

Menyusui dapat membantu mencegah alergi dengan cara :
1.   mengurangi kemungkinan terpaparnya bayi pada alergen-alergen yang potensial (semakin lama waktunya sampai bayi terpapar, semakin rendah kemungkinan terjadinya reaksi alergi).
2.   mempercepat kematangan pertahanan protektif dari usus pada pencernaan bayi.
3.   melapisi usus dan menciptakan pertahanan terhadap molekul-molekul alergik yang potensial.
4.   menyediakan khasiat anti-inflamasi yang mengurangi berbagai resiko infeksi (yang dapat bertindak sebagai pemicu alergi).

Anak ASI itu PINTAR
·     Penelitian yang menyeluruh atas hubungan antara pencapaian kognitif (skor IQ, peringkat di sekolah) dan pemberian ASI telah menunjukkan bahwa anak-anak yang diberi ASI/disusui dalam jangka waktu lama, memiliki hasil pencapaian kognitif yang terbaik.

Anak ASI memiliki PENYESUAIAN SOSIAL YANG BAIK
·     Menurut Sally Kneidel dalam "Nursing Beyond One Year" (New Beginnings, Vol. 6 No. 4, July-August 1990, pp. 99-103.):


"Riset yang dilakukan tentang aspek psikologis dari menyusui sangatlah luas. Sebuah penelitian yang secara khusus ditujukan pada bayi-bayi yang menyusu lebih lama dari 1 tahun, menunjukkan kaitan yang signifikan antara durasi/lamanya menyusui dan penilaian tingkat penyesuaian sosial anak oleh ibu dan guru, pada anak usia 6 sampai 8 tahun (Ferguson et al, 1987). Dalam kata-kata peneliti sendiri, ‘Ada kecenderungan statistik yang signifikan pada menurunnya jumlah perilaku menyimpang dengan meningkatnya durasi menyusui.”   
·     Menurut Elizabeth N. Baldwin, Esq. dalam "Extended Breastfeeding and the Law":
      "Menyusui adalah suatu cara yang hangat dan penuh cinta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan balita dan anak-anak. Tidak hanya menyusui menyenangkan bagi mereka, tapi juga meningkatkan energi mereka; juga menenangkan keputusasaan mereka, luka dan memar, dan stres yang timbul setiap hari dari masa anak-anak usia dini. Tambahan lagi, menyusui melebihi usia bayi, membantu anak melakukan peralihan secara bertahap menuju masa anak-anak mereka.”
·     Baldwin melanjutkan: "Memenuhi kebutuhan anak akan ketergantungan adalah kunci untuk menolong mereka mencapai kemandirian. Tiap anak akan bertumbuh dan akan meninggalkan kebutuhan akan ketergantungan ini pada jadwal unik mereka masing-masing.” Anak-anak yang mencapai kemandirian dalam waktunya sendiri akan merasa lebih aman dalam kemandiriannya itu dibandingkan mereka yang kemandiriannya dipaksakan sebelum waktunya.

Menyusui anak lebih dari 1 tahun adalah sesuatu yang NORMAL
·     American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa "Menyusui harus dilanjutkan setidaknya selama tahun pertama kehidupan dan setelahnya selama sama-sama diinginkan oleh ibu dan anak… Jangka waktu pemberian ASI yang panjang memberikan keuntungan yang signifikan bagi kesehatan dan pertumbuhan, baik bagi ibu maupun bagi anak… Tidak ada batasan atas tentang jangka waktu/lamanya menyusui, dan tidak ada bukti tentang bahaya psikologis maupun bahaya perkembangan dalam pemberian ASI sampai tahun ke-3 kehidupan ataupun lebih.” (AAP, 2005)
·     American Academy of Family Physicians merekomendasikan pemberian ASI dilanjutkan pada tahun pertama kehidupan dan bahwa "Sebagaimana direkomendasikan oleh WHO, menyusui idealnya dilanjutkan setelah masa bayi, namun ini bukanlah norma budaya umum di Amerika Serikat dan membutuhkan dukungan dan dorongan yang berkesinambungan. Telah diperkirakan bahwa usia penyapihan alami bagi manusia adalah antara usia 2 sampai 7 tahun. Dokter keluarga harus memiliki pengetahuan tentang keuntungan-keuntungan pemberian ASI lanjutan, termasuk di dalamnya kelanjutan perlindungan sistem kekebalan tubuh, penyesuaian sosial yang lebih baik, dan memiliki sumber makanan yang dapat diandalkan pada saat krisis/darurat. Semakin lama seorang ibu menyusui, semakin besar penurunan resiko kanker payudara.” Mereka juga mencatat bahwa "Apabila anak berusia dibawah 2 tahun, ia akan mengalami peningkatan dalam resiko penjangkitan penyakit bila disapih. " (AAFP 2008)
·     US Surgeon General telah menyatakan bahwa bayi yang terus disusui hingga usia 2 tahun adalah bayi yang beruntung. (Novello 1990)
·     World Health Organization menekankan pentingnya menyusui hingga usia 2 tahun atau lebih (WHO 1993, WHO 2002).
·     Riset ilmiah oleh Katherine A. Dettwyler, PhD menunjukkan bahwa 2.5 sampai 7.0 tahun lamanya disusui, adalah bagaimana anak-anak kita telah diciptakan dan dirancang sedemikan rupa (Dettwyler 1995).

Ibu juga diuntungkan dari menyusui lebih dari 1 tahun
·     menyusui jangka panjang menunda pulihnya kesuburan pada beberapa wanita dengan cara menekan ovulasi (References).
·     menyusui menurunkan resiko kanker payudara (References). Beberapa penelitian telah menemukan asosiasi terbalik yang signifikan, antara durasi laktasi dan resiko kanker payudara.
·     menyusui menurunkan resiko kanker ovarium (References).
·     menyusui menurunkan resiko kanker saluran kencing (References).
·     menyusui menurunkan resiko kanker endometris (References).
·     menyusui memberikan perlindungan melawan osteoporosis. Selama laktasi berlangsung, seorang ibu dapat mengalami menurunnya mineral tulang. Kepadatan mineral tulang seorang ibu menyusui dapat berkurang pada seluruh tubuh sampai 1 hingga 2 % selama ia masih menyusui. Hal ini akan didapatkan kembali, bahkan kepadatan mineral tulang akan cenderung meningkat ketika anak telah disapih. Hal ini tidak bergantung pada suplementasi kalsium tambahan dalam menu diet ibu. (References).
·     menyusui menurunkan resiko rheumatoid arthritis. (References).
·     menyusui telah menunjukkan menurunkan kebutuhan insulin pada wanita yang diabetik (References).
·     ibu menyusui cenderung lebih mudah menurunkan berat badan (References).

**Tulisan ini bukan hasil karya saya dan saya terjemahkan dari www.kellymom.com

Tuesday, April 19, 2011

Sukses Menyusui Dengan Anggun


Neo sedang menyusui dengan tenang
Sejak mulai hamil dan merencanakan untuk menyusui anak secara penuh (ASI eksklusif), saya berusaha mempersiapkan dan membekali diri sebaik-baiknya. Mulai dari segala artikel, bacaan dan buku-buku  pengetahuan tentang gangguan-gangguan menyusui dan berbagai tips menyusui dengan benar, saya lahap habis sambil menjalani kehamilan. Tapi ternyata, yang terpenting adalah mempersiapkan mental kita!

Berdasarkan pengalaman pribadi saya menyusui Neo (sudah berjalan 1 tahun lebih sekarang), ada beberapa kerangka berpikir atau mindset penting yang membantu dan memantapkan langkah saya sehingga mampu menikmati dan menjalani proses menyusui ini dengan 'anggun'.

1. Menyusui adalah hal yang normal.
Kita tentu tahu, begitu banyak pandangan salah tentang menyusui, seperti bahwa menyusui itu kuno, kampungan, pelit tidak mau memberi susu formula/alasan ekonomi, menyusui itu repot, membatasi aktivitas ibu dan banyak lagi. 
Hal yang sangat menguatkan saya adalah dengan menyadari bahwa menyusui adalah hal paling normal yang terjadi antara ibu dan bayi yang baru lahir. Semua mamalia menyusui anaknya, begitu pulalah yang NORMAL bagi bayi manusia. Justru bila bayi harus menerima makanan lainnya (padahal ASI tersedia), itu yang merupakan hal TIDAK NORMAL. Breastfeeding is the norm. 

2. Tidak perlu ragu dan malu untuk menyusui ditempat umum.
Banyak ibu menyusui yang ragu, bahkan tidak mau menyusui anak di tempat umum karena merasa malu, tidak pantas dsb. Sehingga pada saat diluar rumah, mereka menggantikan pemberian ASI mereka dengan Susu Formula dengan alasan kenyamanan. Sesungguhnya untuk kenyamanan siapa? Ibu? Orang sekitar? 
Meski belum banyak, di beberapa tempat umum sudah tersedia ruangan menyusui atau biasa dinamakan ruangan Ibu & bayi atau nursery room. Cari tahu keberadaan tempat-tempat ini bila berpergian atau perlengkapi diri dengan nursing cover bila memang diperlukan. Menerima ASI kapanpun dan dimanapun saat dibutuhkan  adalah HAK BAYI. Haruskah mengabaikan kebutuhan dan hak bayi hanya demi kenyamanan? Meski mungkin awalnya mungkin cukup sulit dan ibu merasa agak kaku, dengan persiapan, peralatan dan latihan yang cukup menyusui di tempat umum bukanlah hal yang sulit atau mustahil.

3. Jangan menganggap ini sebuah kompetisi.
Bayi ASI kan? Beratnya sudah berapa? Sudah bisa apa aja? Kalo kamu menyusuinya berapa lama? Stok ASIP di freezer berapa botol? Breastpump-mu merk apa? Kalo tiap mompa dapet ya berapa ml? Bisa berapa kali mompa sehari? Dan berjuta pertanyaan lainnya. Awalnya semua pertanyaan ini bertujuan sharing dan saling mendukung, tapi awas! Para ibu bisa terperangkap dalam persaingan yang tidak sehat.
Semua bayi berbeda dalam pertumbuhannya, gemuk-kurus tidak masalah, yang penting bayi dan ibu sehat. Pamer dan banding-bandingan stok ASIP (Air Susu Ibu Perahan)? Perlukah? Yang terpenting kita tahu kebutuhan bayi tercukupi setiap hari. Berapa lama seorang ibu menyusui pun tentu bervariasi tergantung kebutuhan dan kondisi masing-masing orang yang tidak mungkin bisa kita samakan, ya kan?
STOP menganggap proses menyusui ini sebagai kompetisi. Tidak ada kriteria ibu hebat yang 'paling sukses menyusui' dsb, yang terpenting kita berusaha melakukan yang terbaik semampunya dan hasil terbaik yang kita semua harapkan tentunya adalah bayi yang sehat, pintar dan bertumbuh kembang dengan baik, tanpa gangguan apapun.

4. Sugesti & afirmasi positif setiap hari.
Mensugesti diri dan juga bayi setiap hari sangatlah menguatkan bagi saya. Tiap kali menyusu, selalu saya katakan kata-kata positif, seperti "Neo minum yang banyak ya,.. Jadi anak sehat, pintar. Tenang aja, ASI mama pasti akan selalu cukup untuk Neo" dan juga beberapa afirmasi positif bagi diri saya sendiri, "Aku bisa menyusui Neo sesuai kebutuhannya dan pasti berhasil!". Lama-kelamaan hal ini menjadi kebiasaan yang juga paling penting menjadi doa bagi kami, pada akhirnya afirmasi positif ini menjadi sebuah self fulfilling prophecy. Berikut tulisan saya sebelumnya tentang kekuatan sugesti dalam keberhasilan menyusui.

5. Saling mendukung sesama ibu menyusui.
Bila memang mungkin, bergabung dengan kelompok ibu yang sama-sama menyusui, sehingga bisa saling berbagi, berkeluh-kesah dan merasa tidak sendiri. Saya sendiri tidak terlalu beruntung mendapat kelompok dukungan semacam itu di lingkungan saya, tapi.. Thank God for the internet! Bertemu sesama ibu menyusui (secara online) dengan berbagai pengalaman serupa sangat membantu pikiran saya tetap dalam perspektif yang benar setiap langkahnya. Tentunya yang tak kalah penting adalah mendapatkan dukungan penuh dari suami dan keluarga besar kita.

6. Targetkan yang terbaik sesuai kemampuan dan kebutuhan ibu.
Sebagian orang sudah menyusun rencana kapan mau berhenti menyusui bayi mereka dengan berbagai alasan, ada yang merasa sudah cukup di 6 bulan, 1 tahun atau 2 tahun dan mungkin lebih. Saya menargetkan bukan secara spesifik kapan saya mau, tapi kapan anak mau. Setelah 1 tahun ini, terus terang saya akan mulai memperkenalkan susu cair segar pada Neo, tapi saya akan serahkan semua padanya, entah dia suka atau tidak, yang pasti saya akan tetap menyusuinya selama yang dia butuhkan.
Menargetkan secara tidak realistis (misalnya HARUS berhenti pada usia anak 1 tahun), tentu akan sulit dan sangat mempengaruhi perasaan baik ibu maupun anak. Ibu yang tidak mau 'kelewat target' bisa jadi ngotot dan menghalalkan cara-cara yang kurang baik (misalnya mengolesi puting dengan benda-benda pahit, dsb) dan anak bisa jadi frustrasi. Bila kita memulai proses menyusui ini dengan indah dan penuh cinta, biarlah kita pun mengakhirinya dengan cara yang sama.

Wednesday, March 02, 2011

Against All Odds: Menjadi Orang Tua yang Pintar

Jadi orang tua pintar yuk!
Minggu lalu kami sekeluarga sempat melakukan perjalanan ke luar kota selama seminggu, lebih tepatnya pulang kampung ke rumah orang tua. Banyak hal-hal seru karena yang namanya pulkam itu pasti asyik, ketemu dengan sodara2 yang udah lama gak ketemu, melepas rindu dan gak lupa, jalan-jalan! Hehehe.

Satu hal yang cukup menonjol adalah kenyataan bahwa sebagian dari kami telah menjadi orang tua :) umumnya merupakan orang tua baru dengan 1 anak. Lucu banget liat bayi-bayi dan balita yang saling ketemu. Ada yang cuek, ada yang galak dan sebagainya. Tapi ceritanya jadi lain ketika para orang tua yang bertemu, apa iya semuanya selalu asyik?
Ajang pembandingan dan 'kontes' anak terlucu jadi tidak terelakkan (nggak jauh sama suasana di Play Group dll). 
Anak siapa yang paling gemuk? Paling cakep/cantik? Paling cepet bisa ini dan itu? Paling keren (branded, red) baju-bajunya? Paling oke gadgets-nya (stroller, carrier etc)?

Saya rasa sudah jadi kebiasaan (diakui ataupun tidak) bagi orang tua untuk cenderung membandingkan anaknya dengan anak orang lain, entah itu dikatakan atau di dalam hati. Yah, berakar dari kecintaan kita yang besar pada si buah hati, pusat dunia kita. Kadang mungkin sulit untuk menerima bahwa ada yang lebih 'baik'/'lucu'/'pintar' dari anak-anak kita.
Belum lagi soal kebiasaan maupun gaya parenting masing-masing orang yang pasti berbeda dan mendorong kita untuk cenderung menghakimi cara pengasuhan orang lain.

Saya dan baby Neo jadi 'pusat perhatian' karena menjadi satu-satunya ibu (di keluarga besar) yang setia dengan ASI ekslusif dan MPASI rumahannya. Ada yang bilang, "Ooh, cuma ASI ya? Tapi dikasih minum vitamin khan? Vitaminnya apa?" seakan nggak percaya kalo ada bayi yang bisa hidup 'hanya' dengan ASI, atau "Wuiiih, niat banget sih ampe bawa-bawa panci dan saringan kemana-mana? Bawa-bawa sayuran juga?" dengan muka nggak percaya, "Kalo V***** sih, yang instan-instan aja deh!, kemaren aja kita nyoba beliin dia sup di McD*****s, eh dianya suka malah!" dengan wajah bangga, sambil nuang air panas ke mangkuk plastik berisi Bubur Ayam Instan.
Ada juga komentar sinis karena saya belum memberikan gula dan garam di MPASInya Neo, "Lho?! Kok gak dikasih garam sih? Trus nggak ada rasanya dong? Kasian amat anaknya makan tawar-tawar?!", mata melotot, nada agak tinggi. "Kasih dikit dong, kasian ntar bayinya nggak tau makan enak!".
Belum lagi keputusan saya dan suami yang memberikan vegetarian diet sampai baby Neo berusia 1 tahun, langsung ditanggapi negatif, tanpa menanyakan terlebih dahulu alasannya, "Duh, kalo makanan bayi tuh harus pake ayam dong, pake daging! Ati, ceker! Biar cepet gemuk anaknya!". Oh ya ampun! Setahu saya di bawah 1 tahun makanan bagi bayi lebih pada latihan mencerna makanan dan pengenalan akan berbagai jenis tekstur makanan. 
Belum lagi manakala mereka membahas tentang merk susu formula yang paling bagus. Testimoni dan cerita tetangga tentang sufor merk A yang sukses bikin anaknya gemuk seketika! Juga sufor merk B yang murah tapi bagus. Bla bla bla. Cerita tentang pengalaman eksperimen coba-coba berbagai susu formula, sampai dia menemukan satu yang paling baik karena sukses bikin gemuk anaknya!

Ada juga anjuran yang sifatnya setengah 'memaksa' untuk minumin kopi hitam ke baby Neo, katanya itu obat anti step kalo panas demam ???? Satu lagi dari dunia Mitos.
Ada suatu ketika, baby Neo disuruh-suruh (agak maksa) cicipin jipang, coklat S****r Q***n, bak pao dan pisang goreng! Disertai dengan 'penjelasan', "Bayi tuh nggak boleh dijaga-jagain makanannya! Biarin aja dia makan apa yang kita makan, nanti kan lama-lama biasa dianya!". Saat itu juga terulang kembali di kepala saya, cerita teman tentang bayi 6 bulan yang meninggal karena dikasih makan tahu isi goreng yang dibeli di gerobakan pinggir jalan. Rewel, nggak bisa pup, besoknya dibawa ke dukun, dipijit, besoknya meninggal. Whew!
Bagaimana kalau mereka tahu bahwa tiap kali demam, batuk atau pilek, saya nggak membawa anak saya ke dokter, hanya dirawat di rumah saja (home treatment) ya? Bisa pecah perang antar generasi kali yaa... :-p

Tidak ada satu pun cara membesarkan anak yang paling benar, karena yang terpenting adalah mana yang paling sesuai dengan kebutuhan kita. Saya tidak mau menjalankan sesuatu hal/cara kalau tidak jelas alasannya. 
Sekarang bukan jaman mencoba-coba atau meraba-meraba lagi, tapi perbuatan yang didasarkan pada pengetahuan dengan alasan yang jelas. 
Bukanlah hal yang bijaksana atau adil memaksakan suatu hal kepada orang lain apabila kita tidak punya data penguatnya. Semua pilihan haruslah didasari riset yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan 'katanya' atau 'denger-denger'. Saya bukannya tidak mau menghargai 'apa kata orang tua dulu' tapi saya mau yang terbaik untuk anak saya, jangan salahkan kalau saya lebih percaya riset.

Siapa bilang jadi orang tua nggak harus pintar? Siapa bilang jadi orang tua nggak harus banyak-banyak belajar?

Pekerjaan dengan tanggung jawab terbesar adalah menjadi Orang Tua, karena taruhannya adalah kesehatan tubuh dan juga mental anak. Pengasuhan anak berarti proses belajar terus menerus, jangan puas hanya dengan pengetahuan yang sifatnya turun-temurun saja dan menutup mata dengan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Mau punya anak pintar? Jadi orang tua pinter dulu dong!

* gambar diambil dari sini

Sunday, February 13, 2011

Apa Gaya Menyusui Bayi Anda?

Pernah nggak sih mama merasa kalau si bayi baru punya 'gaya-gaya' unik pada saat menyusui? Bayi-bayi memang tidak ada yang sama, mereka punya kepribadian uniknya masing-masing, begitu juga dalam hal menyusu pada mama. Kita nggak sendiri loh! Sudah ada yang lebih dulu meneliti tentang hal ini :) yuk kita simak...
Diadaptasi dari buku Your Baby's First Year oleh American Academy of Pediatrics (AAP) mengenai 5 kepribadian menyusui pada bayi.
Jenis-jenis gaya menyusui ini dikarakterisasi oleh peneliti dari Universitas Yale, Edith Jackson, M. D, pada tahun 1950-an, saat ia mengobservasi ratusan bayi baru lahir di bagian ibu dan anak di Rumah Sakit universitas Yale.
Gaya-gaya unik tersebut, antara lain:

Si Barakuda (The Barracuda)
Dikenal juga sebagai 'penyedot cilik'. Bayi-bayi ini segera mencaplok areola saat didekatkan ke payudara dan menghisap dengan penuh semangat selama 10 sampai 20 menit.
Bagaimana menolong mereka?
Pastikan perlekatan (latch) yang baik. Si barracuda tampak mudah ditangani, karena mereka tampak tahu apa yang harus dilakukan dan mereka pun melakukannya dengan baik. Namun dengan sifatnya yang bersemangat tinggi ini, "Ibu harus selalu memastikan perlekatannya dalam dan terasa nyaman", menurut Laura Viehmann, M.D anggota AAP dan dokter praktek dari Pawtucket, Rhode Island. "Jika tidak, bayi dapat melukai payudara ibu." Perlekatan yang baik harus nampak seperti mulut yang terbuka lebar, dagu ke atas, kepala ke belakang dan bibir yang terbuka keluar.
Jangan abaikan rasa sakitnya.
Ibu dengan bayi-bayi ini dapat berpikir bahwa rasa sakit ini adalah hal yang normal karena bayi yang tidak sabaran dan tidak punya cukup waktu untuk membentuk perlekatan yang sempurna untuk menyusu. Tidak benar! "Meskipun hisapan pertama mungkin menyakitkan, tapi pada hisapan berikutnya, ibu harusnya sudah merasa nyaman." ujar dokter Viehmann. Jika anda merasa sakit, berarti perlekatannya tidak benar. Lepaskan bayi anda dari payudara (jangan langsung ditarik, tapi masukkan dulu jari kelingking untuk memutus perlekatan), dan ulangi kembali.
Ubahlah posisi menyusui lebih sering jika anda suka. Ganti pegangan ibu, sehingga ibu tidak cepat merasa pegal.

Si bersemangat tapi tidak efektif (The Excited but Ineffective)
Bayi dengan gaya ini akan segera 'menyambar' puting ibu dengan nulutnya, tapi mudah terlepas lagi dan kemudian akan berteriak karena frustrasi. Mereka harus beberapa kali ditenangkan dalam sekali jadwal menyusui.
Bagaimana menolong mereka?
Responi segera.
Cegah frustrasi bayi dengan segera menawarkan payudara sejak bayi menunjukkan tanda-tanda awal ingin menyusui. Beberapa tanda: terbangun saat tidur, rooting (mencari-cari puting dengan mulutnya), merentangkan tangan dan kakinya, memasukkan tangan ke dalam mulut, atau menggerak-gerakkan mulut dan lidah. Bila bayi menunjukkan tanda-tanda ini bahkan saat sedang tidur, segera susui bayi untuk mencegahnya kelaparan.
Prioritaskan menyusui.
Apabila ia bangun dari tidurnya dalam keadaan lapar, jangan menundanya dengan mengganti popok kotornya lebih dulu. Biarkan dia segera menyusu, bersihkan popok kemudian.
Cobalah beberapa strategi menenangkan bayi.
Untuk membantu bayi lebih fokus, cobalah untuk menyusui di kursi goyang, gerakannya akan menenangkan bayi. Menyusui sambil berendam di air hangat atau dalam kondisi kontak kulit bayi dengan kulit ibu (skin to skin) pun dapat menenangkan, ujar Jane Crouse, seorang juru bicara La Leche League. "Apapun yang dapat mengingatkam bayi pada kehidupan di dalam rahim akan sangat menenangkan baginya; rasa hangat, gerakan, bebunyian dan kedekatan."

•Si Penunda (The Procrastinator)
Bayi-bayi ini 'malas' menyusu pada hari-hari pertamanya, mereka lebih suka 'menunggu' sampai ASI ibu tersedia. Setelah itu mereka mungkin akan menangis meminta menyusu, menghisap sekali atau dua kali, kemudian berhenti. Bayi-bayi mungkin nampak seperti bayi yang 'mudah' (mereka tidur lebih lama dan jarang menangis) tapi dibutuhkan perhatian ekstra agar mereka cukup minum (menyusu).
Bagaimana membantu mereka?
Tawarkan untuk menyusu lebih sering.
Bayi-bayi pengantuk ini bisa jadi tidak menunjukkan tanda-tanda lapar, jadi bawa dia pada payudara ibu tiap kali setiap jamnya, baik ketika bayi nampak tertarik ataupun tidak. Menurut Crouse: "Bayi mungkin tidak minum banyak, tapi dia membutuhkan kesempatan dan latihannya." Ibu juga mungkin perlu 'melanggar' aturan "Jangan pernah bangunkan bayi yang tidur" apabila si tukang tidur sudah tidur selama 4 jam lebih tanpa menyusu.
Jangan khawatir tentang kuantitas. Menjadi sangat mudah bagi ibu untuk kuatir akan seberapa banyak ASI yang sudah diminum bayi, bayi baru lahir hanya meminum 1-2 ounces setiap minum selama minggu-minggu awalnya. Meskipun sesi mennyusuinya pendek, kemungkinan besar kebutuhan nutrisinya akan tercukupi.
Perhatikan kotorannya.
"Tanda yang paling reliabel untuk menilai kecukupan nutrisi bayi ASI adalah dengan melihat faecesnya. Berwarna kuning terang, tampak berbiji-biji di hari ke-5," ujar Jane Morton, M.D, seorang profesor klinis pediatri di Stanford University di Palo Alto, California.
Catat pertumbuhannya.
Semua bayi baru lahir kehilangan berat badan pada 3 hari pertama hidupnya, tapi seharusnya tidak turun lebih dari 10% berat lahir mereka dan seharusnya dapat mengembalikan berat lahir itu pada hari yang ke-10, dokter Norton menambahkan.

•Si Suka Memainkan Puting (The Gourmet)
Bayi-bayi ini disebut juga para 'Mouthers'. Mereka suka bermain-main dengan puting ibu dan menyicipi ASI sebelum benar-benar menyusu. Bila diburu-buru, mereka akan berteriak protes, namun begitu mereka rasa ASInya sudah pas sesuai dengan seleranya, mereka akan mulai menyusu dengan baik.
Bagaimana menolong mereka?
Jangan buru-buru.
Ya, memang memain-mainkan puting ibu, baik dengan jari ataupun mulut pasti akan mempersulit proses menyusui (terutama di tempat umum) untuk bisa berjalan dengan lancar dan tenang, namun hal itu akan menstimulasi hormon dan merangsang produksi ASI. Jadi meskipun di dalam hati anda ingin berkata, "Minum aja kenapa sih?!", Tarik nafas yang dalam dan biarkan dia melakukan 'urusannya'.
Tekankan perlekatan yang baik.
Ketika bayi akhirnya mulai menghisap, ibu akan tergoda untuk tidak lagi mengganggu bayi meskipun perlekatannya belum benar. Tapi, lakukanlah! Ulangi proses perlekatan hingga tepat. Penting bagi kenyamanan ibu dan bayi.
Nikmati.
Ambil majalah favorit atau buku, atau perhatikan saja si kecil mengecapkan bibirnya dan menjulurkan lidahnya ke kiri dan kanan dan rileks.

•Si Tukang Istirahat (The Rester)
Juga disebut 'Nipper-Nappers', bayi-bayi ini suka menyusu selama beberapa menit, kemudian beristirahat, kemudian melanjutkan kembali. Sebagian akan tertidur di payudara ibu, dan bangun sejam kemudian, siap untuk 'hidangan penutup'. Pola menyusu yang mereka miliki bisa membuat ibu bingung, namun bayi-bayi ini memang tidak bisa diburu-buru.
Bagaimana membantu mereka?
Bangunkan bayi dengan lembut.
Coba buka baju atau buka bedongan bayi, sehingga kenyamanannya berkurang dan ia terjaga. Bisa juga dengan menggelitik kaki bayi sehingga ia tertarik untuk menyusu dan menunda tidurnya.
Abaikan peraturan 'bergantian' antara payudara kiri dan kanan.
Karena si tukang istirahat menyusu sekitar semenit sebelum berhenti, ibu tidak perlu berganti payudara tiap akan mulai menyusui kembali, atau tiap 10 menit, seperti yang banyak dianjurkan di buku-buku. Jadi, kapan berpindahnya? Berpindahlah 8 kali sehari setelah ASI keluar (let down reflex), kemudian selanjutnya ikuti saja payudara ibu. Berikanlah payudara mana yang terasa penuh. Payudara lain akan 'memberi tanda' jika gilirannya tiba.
Bantu dengan tangan.
"Gunakan tangan untuk memompa ASI ke dalam mulut bayi saat ia mulai menghisap dengan lambat," menurut Dr. Viehmann. Temukan titik yang padat pada payudara, biasanya di dekat ketiak, pijat ke arah puting, sampai saat anda mendengar bayi menelan."
Ikuti saja.
Sebelum akhir dari bulan pertamanya, si tukang istirahat akan mulai membentuk jadwal yang lebih teratur. "Lupakan cucian, memasak, membalas telepon atau e-mail", saran dokter Viehmann. "Ubah mindset anda menjadi 'ini satu-satunya hal yang harus kulakan hari ini'." Jika berbaring seharian dengan bayi anda adalah hal terbaik yang dapat ibu lakukan saat ini, lakukanlah dan nikmati semuanya.

*Diterjemahkan dan disarikan dari "What's your baby's nursing style?" ditulis oleh Patty Onderko, Senior Editor di BabyTalk*

Monday, January 10, 2011

Mengenal "Attachment Parenting"

Attachment Parenting (selanjutnya disebut AP), bukanlah suatu cara atau metode atau pendekatan yang diciptakan atau ditemukan. Jauh sebelum Dr. William Sears mengemukakan tentang AP, sebenarnya dari generasi ke generasi sekian banyak orang tua di dunia sesungguhnya telah menjalankan pendekatan membesarkan anak dengan cara seperti ini.

Sebenernya apa sih AP? AP adalah pengasuhan anak yang kaya akan sentuhan, kasih sayang dan responsifitas yang tinggi terhadap kebutuhan anak. Menurut Organisasi attachment parenting internasional (API), Inti dari AP sesungguhnya adalah membangun dan memelihara hubungan yang kuat antara anak dan orang tua. Dimana dalam hubungan ini tidak ada kekerasan, karena orang tua menghargai dan menjunjung tinggi harga diri dan martabat anak.

Visi jangka panjang dari AP adalah membesarkan anak yang akan menjadi orang dewasa yang berkembang dan memiliki kapasitas memadai untuk berempati dan menjalin hubungan dengan orang lain.


Mengutip dari Attachment Parenting International (API), ada 8 prinsip dasar dari AP, yaitu:
1. Persiapan untuk kehamilan, kelahiran dan pengasuhan.
Orang tua AP terlibat secara emosional dan fisik dalam proses kehamilan dan kelahiran. Peduli dan melakukan yang terbaik dalam menjalani proses ini, seperti menjaga kesehatan, banyak belajar tentang pilihan jasa penyedia kesehatan dan lingkungan untuk persalinan dan mencari informasi tentang cara merawat bayi baru lahir. Secara terus menerus memperkaya diri dengan pengetahuan tentang tahap-tahap perkembangan anak, menetapkan harapan secara realistis dan tetap fleksibel.



2. Memberi makan dengan cinta dan rasa hormat.
Menyusui bayi adalah cara optimal untuk memuaskan kebutuhan nutrisi dan emosional bayi. Menyusui dengan botol dapat mengadaptasi sikap menyusui pada payudara, dapat membantu menciptakan attachment (perlekatan) yang aman.
Perhatikan tanda-tanda lapar pada bayi dan juga anak-anak, dorong mereka untuk makan ketika lapar dan berhenti ketika kenyang. Sediakan pilihan makanan yang sehat dan contohkan sikap makan yang sehat.



3. Merespon secara sensitif.
Membangun dasar bagi rasa percaya dan empati dimulai sejak masih bayi. Perhatikan apa yang disampaikan anak pada kita dan responlah dengan konsisten dan sepatutnya. Bayi tidak dapat diharapkan untuk menenangkan dirinya sendiri, mereka membutuhkan orang tua yang tenang, empatis dan penuh kasih sayang untuk membantu mereka mengatasi emosi mereka. Responlah secara sensitif anak yang terluka atau menunjukkan emosi yang kuat dan ambil bagian dalam kebahagiaan mereka.


4. Menggunakan sentuhan yang nurturing (susah diterjemahkan). Sentuhan dapat memenuhi kebutuhan bayi akan kontak fisik, kasih sayang, rasa aman, stimulasi dan gerakan. Yang paling efektif adalah kontak kulit dengan kulit, seperti saat menyusui, mandi atau pijat. Menggendong bayi (babywearing) juga memenuhi kebutuhan ini saat sedang berpergian. Pelukan, cengkrama, gosokan di punggung, pijat dan permainan fisik dapat memenuhi kebutuhan ini pada anak yang lebih tua.

5. Memastikan kondisi tidur yang aman dan nyaman, secara fisik maupun mental. 
Bayi dan anak-anak memiliki kebutuhan di malam hari seperti juga di siang hari; rasa lapar, kesepian, rasa takut hingga merasa kedinginan atau kepanasan. Mereka butuh orang tua untuk menenangkan dan membuat mereka nyaman sambil membantu mereka menghadapi emosi mereka yang intens. Teknik-teknik latihan tidur dapat memiliki efek tidak baik secara fisiologis dan psikologis. Tidur bersama/berdekatan yang aman memberikan keuntungan baik bagi bayi maupun orang tua.

6. Menyediakan perhatian dan kasih sayang secara konsisten. Bayi dan anak kecil memiliki kebutuhan yang amat besar akan kehadiran fisik figur pengasuh yang konsisten, penuh kasih sayang dan responsif: idealnya, mereka butuh orang tua. Jika memungkinkan, pilihlah pengasuh alternatif yang telah lebih dulu membangun ikatan dengan anak dan yang peduli pada anak, dimana akan memperkuat hubungan kelekatan ini. Buatlah jadwal yang fleksibel, minimalisir stres dan rasa takut anak pada saat berpisah sementara dengan orang tua.

7. Mempraktekkan disiplin secara positif. 
Disiplin positif membantu anak mengembangkan nurani berdasarkan disiplin internal dirinya dan belas kasih pada sesama. Disiplin yang sifatnya empatis, penuh kasih sayang dan penuh hormat memperkuat hubungan antara orang tua dan anak. Alih-alih bereaksi terhadap perilaku anak, temukan kebutuhan yang mengarahkan pada perilaku tersebut. Komunikasikan dan bangun solusi bersama-sama sambil tetap mempertahankan martabat masing-masing.

8. Mengusahakan keseimbangan dalam kehidupan pribadi dan keluarga. 
Saat keseimbangan terjaga, menjadi lebih mudah bagi kita untuk menjadi responsif secara emosional. Ciptakan jaringan dukungan, tetapkan tujuan yang realistis, dahulukan orang daripada benda dan tidak takut berkata 'tidak'. Kenali kebutuhan individual di dalam keluarga dan sedapat mungkin penuhi kebutuhan-kebutuhan itu tanpa mengorbankan kesehatan emosional dan fisik kita. Jadilah kreatif, bersenang-senanglah dengan pengasuhan anak dan sediakan waktu untuk diri sendiri.


Dr. Sears juga mengemukakan tentang 7 alat untuk membantu orang tua untuk menjalankan AP , yaitu:
1. Menjalin ikatan (bonding) sejak kelahiran
2. Menyusui
3. Menggendong bayi melekat pada tubuh (Babywearing)
4. Tidur bersama atau berdekatan dengan bayi (co-sleeping)
5. Percaya akan makna bahasa dari tangisan bayi
6. Waspada terhadap 'pelatihan' terhadap bayi
7. Keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan anak


Saya sendiri sebenarnya sebelum tahu tentang AP, sudah memutuskan membesarkan anak dengan cara-cara seperti itu. Motto-nya : orang tua bertanggungjawab penuh atas keselamatan, kebutuhan dan perkembangan anak. Tanpa tahu bahwa ada 'sebutan' untuk pilihan-pilihan ini. Karena rasanya tidak ada cara paling benar untuk membesarkan anak selain bertolak dari kondisi anak itu sendiri dan menjalani apa yang paling nyaman bagi anak maupun orang tua.

Ikatan bathin dengan bayi sangat penting dijalin bahkan sejak masih dalam kandungan. Memang, awalnya terasa aneh atau bicara dengan perut gendut kita ;p tapi yakinlah, janin mendengar kok. Apalagi sejak menit-menit awal kelahiran, bila mungkin melakukan IMD, awali hari-hari bersama bayi baru dengan menyusuinya, pastikan bayi mendapat kolostrum, membiasakan diri sendiri dan bayi dengan kegiatan menyusui. Syukuri keindahan mahluk yang sudah kita tunggu-tunggu 10 bulan belakangan ini, peluk, belai, beri kehangatan dan kenyamanan yang dia butuhkan. Habiskan waktu memberikan kasih sayang dan perhatian sepenuhnya pada bayi dan ikatan cinta diantara kita. Ini tidak berlebihan, inilah ARTI menjadi ORANG TUA.

Saya menyusui karena saya yakin dan percaya, itulah makanan dan sumber nutrisi yang terbaik untuk bayi. Tidak perlu dijelaskan lagi panjang lebar disini apa keunggulan ASI dan keuntungan dari menyusui. Yang terbaik adalah yang alami yang memang sudah disediakan Tuhan dan sudah dipersiapkan bahkan sejak bayi ada dalam kandungan. Menyusui juga mendorong saya berdekatan dengan bayi, karena memudahkan untuk menyusui tengah malam, sehingga nggak perlu bangun dan bolak-balik kamar. Sejak dulu saya tidak pernah merasa membutuhkan baby monitor dan meletakkan bayi tidur di ruangan yang berbeda. Awalnya lebih pada alasan praktis, tapi kalau ternyata dapat memperkuat ikatan saya dengan anak dan memenuhi kebutuhannya akan rasa aman, berarti lebih bagus lagi kan? ;)

Menuruti insting saya sebagai ibu, tidak pernah setuju dengan perkataan orang-orang "Biarin aja nangis, bagus kok buat paru-parunya!" I was like, "Really?!" Kok kayaknya nggak berperasaan sekali anak dibiarin nangis sampai serak dan mukanya merah begitu. Kejam ah. Bayi menangis karena ia ingin menyampaikan sesuatu, apa rasanya bila kita mengajak orang lain bicara dan tidak direspon? Jangan lakukan itu pada bayi, tolonglah.
Menggendong bayi kemanapun? Ya! Sejak anak pertama saya 'menjunjung tinggi' hal ini. Berapa kali mencoba jalan-jalan bawa stroller, tapi kok setelah bangun dari tidur si malah si bayi rewel dan merengek minta digendong? Akhirnya stroller malah buat ngangkut barang belanjaan! Ya, memang bayi lebih senang digendong dekat dengan kita, dia merasa aman di tempat asing sekalipun. Jadi, kenapa harus mempertaruhkan kenyamanan anak?

Pada akhirnya, orang tua AP tidak henti-hentinya belajar dan peduli akan tahapan perkembangan anak, bahkan sejak bayi masih dalam kandungan. Selalu mengusahakan dan memberikan terbaik dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi, seperti makan-minum dan tidur.

Tidakkah ini normal? Ini bukan sesuatu yang berlebihan, mustahil atau orang bilang cara yang 'memanjakan'. AP fleksibel bagi tiap orang tua, tiap keluarga dalam penerapannya. Interpretasi tiap orang tentu unik akan AP itu sendiri dan disitulah keindahannya. Demikian dalam mengasuh anak, kita perlu menyelami, memahami, menikmati dan bertumbuh bersama anak-anak kita.


Referensi dan bacaan lebih lanjut tentang AP:


















Sunday, January 02, 2011

Bye-bye 2010, Hello 2011!

Tahun 2010, salah satu tahun paling bersejarah dalam hidupku! Tahun ini keluarga kami dapet anggota baru, anak kedua Eugeneo! Banyak kebahagiaan, kejadian lucu, kejadian mengejutkan dan serangkaian kebodohan, keluguan dan bahkan kekesalan terjadi di tahun ini. Hihi mulai seru sejak si gigi dua menampakan diri, kehebohan tengkurap, seseruan duduk sendiri, kecapean ngejar-ngejar mahluk yang 'merayap' kesana-kemari, sampai yang terakhir berdiri dan manjat-manjat furnitur!! Oohh.. Entah berapa liter keringet mama yang sudah dilap, entah karena capek, maupun stres dan cemas! Kehebohan mulai MPASI dengan makanan yang belepotan, berterbangan dan bersemburan dimana-mana.. Ya ampyun! Sibuk bikin pureé tiap kali ada waktu luang, sampe mata udah kayak garfield kurang tidur begadangan bikin MPASI frozen.. Hihi


Tahun ini juga Arvin, anak pertama, akhirnya sukses loncat ke kelas 1 dari TK A. Menjalani hari-harinya bersama anak-anak lain yang lebih tua, mempelajari pelajaran-pelajaran yang baru, seru dan kadang bikin mama deg-degan ngajarinnya! Hehe Setiap mulai yang namanya ujian semester, mid-semester, huh mama langsung panas dingin, migren kiri-kanan! Jungkir balik berusaha meluangkan waktu ngajarin Arvin ^_^" Puji Tuhan, pas bagi rapor nilai Arvin bagus semua! Mama banggaaaaa banget! bener-bener hadiah akhir tahun yang ruarr biasa! Luv you kakak! \(*^_^*)/
Belum lagi pagi-pagi mama yang gelagapan nyiapin bekal sekolah Arvin sambil juga nyiapin MPASI Neo dan sarapan! Phew.. Seru! Nyiapin buku-buku dan seragam sekolah yang cukup bikin pusing penjadwalannya.. Yukk.



Tahun ini juga khusus buat si papa. Ada lonjakan karier yang sangat penting buatnya.. Hmm, Tuhan itu baik sekali kan... ^_^

Untuk aku pribadi, tahun ini nggak ada duanya! Tahun ini sukses membuat diri sendiri bangga karena bisa memberikan ASI ekslusif buat Neo (sekarang 8bulan), memberikan MPASI buatan sendiri, mengurus keluarga- satu suami dan 2 anak- tanpa bantuan siapapun! No babysitter, No ART. Tahun ini lebih banyak belajar multitasking, bagaimana supaya lebih sabar, lebih ikhlas dan lebih menghargai anggota keluarga yang lain. Yang lebih penting dari pada itu, belajar untuk lebih bersyukur lagi!
Bye-bye 2010, tahun penuh kenangan yang tak terlupakan! Welcome 2011, tahun yang akan segera kami penuhi dengan kenangan-kenangan baru yang jauh lebih seru lagi! Amin!

Wednesday, December 29, 2010

Kekuatan sugesti dalam proses menyusui


Menyusui adalah hal yang baru bagi saya. Meskipun sekarang sedang menyusui anak kedua, tapi anak pertama tidak lama menyusu, karena saya harus berpisah dan tinggal di kota yang berbeda. Ketika itu juga terus terang, saya masih awam dan pengetahuan tentang ASI masih sangat minim.
Sejak tahu hamil anak kedua, saya sudah gencar belajar banyak hal tentang menyusui, proses kelahiran dan sebagainya. Saya merasa 100% siap untuk menjalani semua prosesnya. Tapi ada hal yang saya 'temukan' yang menurut saya sangat menarik dan dominan dalam keberhasilan proses menyusui, yaitu SUGESTI. Baik sugesti diri, maupun sugesti kepada bayi.
Satu hal yang sangat ditakuti ibu yang menyusui adalah mengenai "Apakah ASI saya cukup untuk bayi?", "Apakah kebutuhan bayi saya sudah terpenuhi?". Apalagi berbeda dengan susu formula yang bisa ditakar/diukur jelas dalam pemberiannya, sehingga membuat ibu-ibu menyusui agak resah. Tidak terkecuali saya.
Memang salah satu faktor penting untuk supply ASI yang baik adalah nutrisi ibu. Ibu harus cukup makan & minum yang bergizi. Saya sedapat mungkin memenuhi hal itu. Tapi satu hal yang selalu saya lakukan setiap kali sedang menyusui adalah mengatakan dalam hati "ASIku lebih dari cukup untuk bayiku. Pasti!" bisa diucapkan dalam hati atau katakan saja biar lebih mantap! Begitu juga pada bayi, sambil memandang matanya yang jernih, mengelus rambutnya yang halus, saya katakan, "Neo minum yang banyak ya. Biar Neo sehat, pintar, cepat besar. Dedek nggak usah takut, ASI mama PASTI cukup untuk Neo". Selalu begitu berulang-ulang terutama diawal-awal proses menyusui karena tidak ada yang lebih penting daripada OPTIMISME.
Orang banyak yang berusaha 'menggoyang' keyakinan saya, apalagi dengan postur tubuh saya yang kurus (sudah dari sananya), mereka bilang "masa nggak ditambah susu botol? Cukup nggak pake ASI aja?" dan lain sebagainya. Namun saya tetap yakin pasti cukup. Sugesti diri ini juga merupakan doa yang saya panjatkan pada yang Maha Kuasa, pemberi ASI itu sendiri.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kuantitas ASI menurut ilmu yang saya pelajari adalah dengan sering-sering memberikannya. Karena prinsip ASI itu sendiri supply & demand. Semakin tinggi permintaan, persediaannya juga bertambah.
Berdasarkan pengetahuan ini, sebaiknya menyusui bayi secara teratur 2-3jam sekali agar ASI akan terus diproduksi. Malah jika bayi 'melompati' jadwal menyusu, bagusnya diperah/pompa agar si 'pabrik ASI' merasa bahwa permintaannya tetap.

Saya seorang ibu rumah tangga, tidak bekerja dan membawa serta anak kemanapun saya pergi. Jadi saya merasa TIDAK PERLU memerah ASI karena saya akan selalu available kapanpun bayi membutuhkan. Lagipula saya yakin yang 'fresh from the oven' pasti minim kontaminasi yang mungkin terjadi selama penyimpanan/pemindahan.
Sekali lagi, disini peran sugesti benar-benar terasa. Inilah saya sudah 8bulan menyusui bayiku secara ekslusif dan sama sekali TIDAK PERNAH memompa ASI atau bahkan membuat persediaan ASIP (ASI perah). Saya bahkan TIDAK PUNYA breastpump apalagi botol-botol penyimpanan ASIP.
Awalnya sempat ragu waktu mau memulai pemberian MPASI. Karena frekuensi menyusui akan 'tergantikan' dengan jadwal makan. Tapi keraguan saya sama sekali TIDAK TERBUKTI. Sudah 2 bulan sejak Neo mulai MPASI, saya menyusui sekehendak (on-demand). Memang selain karena makanan, di usia ini bayi sudah banyak bereksplorasi di lingkungan sekitarnya, jadi perhatian gampang sekali teralihkan, terutama saat menyusui. Namun saya tetap menawarkan pada bayi dan berkeyakinan teguh bahwa ASI saya tetap cukup dan akan selalu tersedia bagi bayi. Kata-kata sugesti selalu terucap dan terbawa di dalam doa-doa saya. "ASI mama pasti cukup dan akan selalu ada selama Neo membutuhkan. Amin!"
Jadi, yakinlah ASI saja pasti cukup untuk anak kita!