Monday, January 30, 2012

Homemade Light Box


Saya ingin sekali memiliki Light Box untuk sarana bermain dan bereksplorasi bagi anak-anakku tercinta, jadi saya super senang saat pertama kali melihat ide DIY-nya di 2 blog favorit saya: Teach Preschool dan Play At Home Mom. Alasan yang membuat perealisasiannya tertunda-tunda adalah karena bahan utamanya belum saya miliki, artinya saya HARUS membeli (yang membuat saya ragu). Namun, membayangkan bahwa anak-anakku akan terpana dalam kekaguman dari pengalaman yang unik, serta keasyikan karena pengalaman baru dalam bermain dan bereksplorasi, membuat saya untuk berusaha mewujudkannya.

Kenapa light box untuk anak-anak? 
Menurut Linda Thornton dan Pat Brunton (penulis buku "Making The Most Of Lights and Mirrors") dalam artikel ini, pengalaman dengan cahaya dan bayangan bagi anak-anak akan menumbuhkan rasa kekaguman akan dunia sekitar mereka dan juga menyediakan lingkungan yang 'kaya' untuk memicu keingintahuan alamiah mereka. Dan juga, material-material yang digunakan untuk mengeksplorasi cahaya juga pada dasarnya bersifat memunculkan kesadaran akan estetika dan  penghargaan akan keindahan. 

Saya akhirnya bisa merealisasikan impian saya, dengan membeli sebuah kotak plastik semi-transparan untuk dibuat dijadikan si light box. Waktu yang dihabiskan kira-kira 1 jam untuk mengerjakannya dan saya merasa puas dengan hasilnya. 

Bahan-bahan:
- 1 buah kotak plastik transparan (yang biasa digunakan untuk menyimpan makanan)
- lampu natal/lampu untuk berkemah/emergency light
- kertas perak/alumunium foil/mylar
- kertas putih polos/wax paper
- gunting
- selotip

Cara membuat:
1. Pertama-tama saya lapisi seluruh bagian dalam kotak dengan lapisan kertas perak, fungsinya untuk memantulkan cahaya lampu dan mengunci cahaya di dalam kotak (cahaya tidak banyak 'terbuang' keluar).
2. Kemudian susun lampu diatas permukaan kertas secara merata di dalam kotak.


3. Berhubung bagian tutup kotak plastik yang saya beli kurang buram, jadi saya menggunakan kertas putih yang diukur sesuai dengan luas tutup untuk ditempelkan ke sisi dalam tutup kotak dengan selotip transparan. Keluarkan kabel lampu pada satu sisi kotak, jika memungkinkan potong sedikit bagian kotak untuk memberi tempat bagi kabel lampu --> disinilah keuntungannya menggunakan camping light/lampu berbaterai karena tidak dipusingkan dengan kabel dan sifatnya bisa lebih portabel - tidak harus mencari stop kontak lisrik terdekat ;p
4. Pasang kembali tutup kotak, nyalakan lampu. Selesai deh! sangat simpel dan mudah, tapi memberikan kesenangan berjam-jam!

Selain sebagai hiburan bagi mata, bermain dengan berbagai material di atas light box memungkinkan  pengalaman multi-sensori (visual (benda-benda aneka warna), sentuhan (pasir, beras, garam), bau-bauan (misalnya kelopak bunga segar) - tergantung kreativitas kita, bahkan taktil -coba gunakan bahan makanan (misalnya jelly, gummy bears dll), bahkan juga auditoris - bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh material berupa benda padat - misalnya bunyi kelereng yang dituang kedalam mangkuk kaca dan plastik). Saya pun senang sekali menggabungkannya dengan beberapa latihan motorik halus, seperti menggunakan sendok, buka-tutup wadah, menuang dsb.

Berikut beberapa ide material untuk bereksplorasi dengan light box yang sudah kami coba:

1. Disk warna yang dibuat dari cellophane. Sangat ideal untuk belajar warna dan pencampurannya (warna-warna primer dan warna sekunder).

2. The amazing Water beads :D dan beberapa wadah dan bingkai transparan.






3. Botol-botol transparan berisikan air yang diwarnai, termasuk beberapa koleksi discovery bottles kami.


4. Sebagai sarana mengagumi dan memahami gambar-gambar karya Arvin :)


5. Kelereng dengan warna metalik.


6. Beras yang sudah diwarnai. 


Kami akan terus mencoba berbagai ide-ide materi lain yang nggak kalah seru. Sejauh ini, Water beads masih menjadi material eksplorasi paling jawara bagi anak-anak saya.

Tertarik mencoba? 
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...