Monday, January 10, 2011

Mengenal "Attachment Parenting"

Attachment Parenting (selanjutnya disebut AP), bukanlah suatu cara atau metode atau pendekatan yang diciptakan atau ditemukan. Jauh sebelum Dr. William Sears mengemukakan tentang AP, sebenarnya dari generasi ke generasi sekian banyak orang tua di dunia 'menjalankan' pendekatan semacam ini.

Sebenernya apa sih AP? AP adalah pengasuhan anak yang kaya akan sentuhan, kasih sayang dan responsifitas yang tinggi terhadap kebutuhan anak. Menurut Organisasi attachment parenting internasional (API), Inti dari AP sesungguhnya adalah membangun dan memelihara hubungan yang kuat antara anak dan orang tua. Dimana dalam hubungan ini tidak ada kekerasan, karena orang tua menghargai dan menjunjung tinggi harga diri dan martabat anak.

Visi jangka panjang dari AP adalah membesarkan anak yang akan menjadi orang dewasa yang berkembang dan memiliki kapasitas memadai untuk berempati dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Mengutip dari Attachment Parenting International (API), ada 8 prinsip dasar dari AP, yaitu:
1. Persiapan untuk kehamilan, kelahiran dan pengasuhan.
Orang tua AP terlibat secara emosional dan fisik dalam proses kehamilan dan kelahiran. Peduli dan melakukan yang terbaik dalam menjalani proses ini, seperti menjaga kesehatan, banyak belajar tentang pilihan jasa penyedia kesehatan dan lingkungan untuk persalinan dan mencari informasi tentang cara merawat bayi baru lahir. Secara terus menerus memperkaya diri dengan pengetahuan tentang tahap-tahap perkembangan anak, menetapkan harapan secara realistis dan tetap fleksibel.

2. Memberi makan dengan cinta dan rasa hormat.
Menyusui bayi adalah cara optimal untuk memuaskan kebutuhan nutrisi dan emosional bayi. Menyusui dengan botol dapat mengadaptasi sikap menyusui pada payudara, dapat membantu menciptakan attachment (perlekatan) yang aman.
Perhatikan tanda-tanda lapar pada bayi dan juga anak-anak, dorong mereka untuk makan ketika lapar dan berhenti ketika kenyang. Sediakan pilihan makanan yang sehat dan contohkan sikap makan yang sehat.

3. Merespon secara sensitif.
Membangun dasar bagi rasa percaya dan empati dimulai sejak masih bayi. Perhatikan apa yang disampaikan anak pada kita dan responlah dengan konsisten dan sepatutnya. Bayi tidak dapat diharapkan untuk menenangkan dirinya sendiri, mereka membutuhkan orang tua yang tenang, empatis dan penuh kasih sayang untuk membantu mereka mengatasi emosi mereka. Responlah secara sensitif anak yang terluka atau menunjukkan emosi yang kuat dan ambil bagian dalam kebahagiaan mereka.

4. Menggunakan sentuhan yang nurturing (susah kalo diterjemahkan). Sentuhan dapat memenuhi kebutuhan bayi akan kontak fisik, kasih sayang, rasa aman, stimulasi dan gerakan. Yang paling efektif adalah kontak kulit dengan kulit, seperti saat menyusui, mandi atau pijat. Menggendong bayi (babywearing) juga memenuhi kebutuhan ini saat sedang berpergian. Pelukan, cengkrama, gosokan di punggung, pijat dan permainan fisik dapat memenuhi kebutuhan ini pada anak yang lebih tua.

5. Memastikan kondisi tidur yang aman dan nyaman, secara fisik maupun mental. Bayi dan anak-anak memiliki kebutuhan di malam hari seperti juga di siang hari; rasa lapar, kesepian, rasa takut hingga merasa kedinginan atau kepanasan. Mereka butuh orang tua untuk menenangkan dan membuat mereka nyaman sambil membantu mereka menghadapi emosi mereka yang intens. Teknik-teknik latihan tidur dapat memiliki efek tidak baik secara fisiologis dan psikologis. Tidur bersama/berdekatan yang aman memberikan keuntungan baik bagi bayi maupun orang tua.

6. Menyediakan perhatian dan kasih sayang secara konsisten. Bayi dan anak kecil memiliki kebutuhan yang amat besar akan kehadiran fisik figur pengasuh yang konsisten, penuh kasih sayang dan responsif: idealnya, mereka butuh orang tua. Jika memungkinkan, pilihlah pengasuh alternatif yang telah lebih dulu membangun ikatan dengan anak dan yang peduli pada anak, dimana akan memperkuat hubungan kelekatan ini. Buatlah jadwal yang fleksibel, minimalisir stres dan rasa takut anak pada saat berpisah sementara dengan orang tua.

7. Mempraktekkan disiplin secara positif. Displin positif membantu anak mengembangkan nurani berdasarkan disiplin internal dirinya dan belas kasih pada sesama. Disiplin yang sifatnya empatis, penuh kasih sayang dan penuh hormat memperkuat hubungan antara orang tua dan anak. Alih-alih bereaksi terhadap perilaku anak, temukan kebutuhan yang mengarahkan pada perilaku tersebut. Komunikasikan dan bangun solusi bersama-sama sambil tetap mempertahankan martabat masing-masing.

8. Mengusahakan keseimbangan dalam kehidupan pribadi dan keluarga. Saat keseimbangan terjaga, menjadi lebih mudah bagi kita untuk menjadi responsif secara emosional. Ciptakan jaringan dukungan, tetapkan tujuan yang realistis, dahulukan orang daripada benda dan tidak takut berkata 'tidak'. Kenali kebutuhan individual di dalam keluarga dan sedapat mungkin penuhi kebutuhan-kebutuhan itu tanpa mengorbankan kesehatan emosional dan fisik kita. Jadilah kreatif, bersenang-senanglah dengan pengasuhan anak dan sediakan waktu untuk diri sendiri.

Dr. Sears juga mengemukakan tentang 7 alat untuk membantu orang tua untuk menjalankan AP , yaitu:
1. Menjalin ikatan (bonding) sejak kelahiran
2. Menyusui
3. Menggendong bayi melekat pada tubuh (Babywearing)
4. Tidur bersama atau berdekatan dengan bayi
5. Percaya akan makna bahasa dari tangisan bayi
6. Waspada terhadap 'pelatihan' terhadap bayi
7. Keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan anak

Saya sendiri sebenarnya sebelum tahu tentang AP, sudah memutuskan membesarkan anak dengan cara-cara seperti itu. Motto-nya : orang tua bertanggungjawab penuh atas keselamatan, kebutuhan dan perkembangan anak. Tanpa tahu bahwa ada 'sebutan' untuk pilihan-pilihan ini. Karena rasanya tidak ada cara paling benar untuk membesarkan anak selain bertolak dari kondisi anak itu sendiri dan menjalani apa yang paling nyaman bagi anak maupun orang tua.

Ikatan bathin dengan bayi sangat penting dijalin bahkan sejak masih dalam kandungan. Memang, awalnya terasa aneh atau bicara dengan perut gendut kita ;p tapi yakinlah, janin mendengar kok. Apalagi sejak menit-menit awal kelahiran, bila mungkin melakukan IMD, awali hari-hari bersama bayi baru dengan menyusuinya, pastikan bayi mendapat kolostrum, membiasakan diri sendiri dan bayi dengan kegiatan menyusui. Syukuri keindahan mahluk yang sudah kita tunggu-tunggu 10 bulan belakangan ini, peluk, belai, beri kehangatan dan kenyamanan yang dia butuhkan. Habiskan waktu memberikan kasih sayang dan perhatian sepenuhnya pada bayi dan ikatan cinta diantara kita. Ini tidak berlebihan, inilah ARTI menjadi ORANG TUA.

Saya menyusui karena itulah yang terbaik dan benar untuk bayi. Tidak perlu dijelaskan lagi panjang lebar disini apa keunggulan ASI dan keuntungan dari menyusui. Yang terbaik adalah yang alami yang memang sudah disediakan Tuhan dan sudah dipersiapkan bahkan sejak bayi ada dalam kandungan. Menyusui juga mendorong saya berdekatan dengan bayi, karena memudahkan untuk menyusui tengah malam, sehingga nggak perlu bangun dan bolak-balik kamar. Sejak dulu saya tidak pernah merasa membutuhkan baby monitor dan meletakkan bayi tidur di ruangan yang berbeda. Awalnya lebih pada alasan praktis, tapi kalau ternyata dapat memperkuat ikatan saya dengan anak dan memenuhi kebutuhannya akan rasa aman, berarti lebih bagus lagi kan? ;)

Menuruti insting saya sebagai ibu, tidak pernah setuju dengan perkataan orang-orang "Biarin aja nangis, bagus kok buat paru-parunya!" I was like, "Really?!" Kok kayaknya nggak berperasaan sekali anak dibiarin nangis sampai serak dan mukanya merah begitu. Kejam ah. Bayi menangis karena ia ingin menyampaikan sesuatu, apa rasanya bila kita mengajak orang lain bicara dan tidak direspon? Jangan lakukan itu pada bayi, tolonglah.

Menggendong bayi kemanapun? Ya! Sejak anak pertama saya 'menjunjung tinggi' hal ini. Berapa kali mencoba jalan-jalan bawa stroller, tapi kok setelah bangun dari tidur si malah si bayi rewel dan merengek minta digendong? Akhirnya stroller malah buat ngangkut barang belanjaan! Ya, memang bayi lebih senang digendong dekat dengan kita, dia merasa aman di tempat asing sekalipun. Jadi, kenapa harus mempertaruhkan kenyamanan anak?

Pada akhirnya, orang tua AP tidak henti-hentinya belajar dan peduli akan tahapan perkembangan anak, bahkan sejak bayi masih dalam kandungan. Selalu mengusahakan dan memberikan terbaik dalam pemenuhan kebutuhan terdasar bayi, seperti makan-minum dan tidur.

Tidakkah ini normal? Ini bukan sesuatu yang berlebihan, mustahil atau orang bilang cara yang 'memanjakan'. AP fleksibel bagi tiap orang tua, tiap keluarga dalam penerapannya. Interpretasi tiap orang tentu unik akan AP itu sendiri dan disitulah keindahannya. Demikian dalam mengasuh anak, kita perlu menyelami, memahami, menikmati dan bertumbuh bersama anak-anak kita.

Referensi dan bacaan lebih lanjut tentang AP:
www.attachmentparentinginternational.com

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...