Wednesday, September 07, 2011

Menyapih Diri dari Amarah


“Pada intinya dari semua amarah adalah sebuah kebutuhan yang tidak terpenuhi.” ~ Marshall B. Rosenberg


Yuk Evaluasi Diri!
Beberapa hari belakangan ini, saya mendapat pencerahan tentang kemarahan orang tua terhadap anak-anak. Sumbernya ini nggak lain dari pengalaman pribadi (memarahi anak) dan beberapa tulisan hebat yang saya baca. Saya terdorong untuk mengevaluasi dan melihat jauh ke dalam diri saya sendiri:
Kapan sih terakhir kali saya marah pada anak?
Apa yang biasanya menjadi sebab kemarahan saya?
Seberapa sering saya marah?
Apa saja yang saya katakan dan lakukan saat saya sedang marah?
Apa yang saya lakukan setelah saya marah?
Dan sayangnya, saya TIDAK BANGGA dengan hasilnya.
Saya ingin berusaha untuk melepaskan diri dari kebiasaan marah terhadap anak dan segala bentuk perilaku bawaannya yang negatif (sikap dan kata-kata yang tidak baik).

Memang menjadi orang tua itu tidak mudah (tidak pernah ada yang berani bilang begitu) dan ketidaksiapan fisik dan mental yang antara lain disebabkan oleh kelelahan dan kewalahan yang terus menerus setiap saat, memang kadang sungguh bisa memendekkan ‘urat’ sabar kita. Kemarahan kita bisa dari skala kecil hingga besar (mulai dari sekedar cemberut dan kernyit dahi pada anak, hingga berteriak dan menghukum anak). Namun satu hal yang saya sadari, meskipun awalnya kecil/remeh, jika kita terus memberi tempat untuk si amarah (misalnya dengan membiarkan diri terus mengomel), betapa mudahnya amarah itu berkembang menjadi besar. Kita tentu tahu bahwa amarah seringkali di analogikan dengan api, karena memang sifatnya sama, semakin dibiarkan, akan semakin ganas dan tentunya berakibat fatal.

Ekspresi kemarahan
Semua orang bisa marah. Itu adalah salah satu bentuk emosi terdasar manusia yang sulit diabaikan. Tapi bagaimana cara kita mengekspresikan rasa marah kita itu, terlebih lagi dalam hal ini terhadap buah hati kita sendiri, anak-anak yang (katanya) ingin kita didik menjadi pribadi yang lebih baik (dari kita!). Perilaku anak yang telah semakin besar, semakin mandiri, semakin pintar bicara, semakin banyak tahu tapi juga sering lupa (hehe), kadang terasa mengetes kesabaran kita dan sungguh memancing emosi. Belum lagi segala kecerobohan, kelalaian dan perilaku di luar aturan yang menyesakkan dada orang tua.
Seringkali bukan hanya perilaku (mata melotot, suara nyaring, membentak, tangan menunjuk, apalagi kalau sampai menyakiti anak secara fisik, seperti menjewer, mencubit, menarik/mendorong dengan kasar, memukul, menampar, dsb) MARAH kita saja yang tidak baik, tapi kata-kata kita yang sifatnya menuduh (”Ini kenapa airnya tumpah semua? Pasti kamu megang gelasnya nggak becus kan?”), menyalahkan (“kalo bukan karena kamu jatuhin, handphone mama kan pasti gak rusak gini!”), mengancam (“kalo sekali lagi mama liat kamu ngompol, awas ya! Kena jewer nanti.”), menghina (“Siapa lagi yang bisa ngeberantakin rumah ini selain kamu?!”), menyudutkan (“Memang dasar kamu aja yang nggak pernah mau dengerin mama, jadinya salah beli kan!”), mempermalukan (“Semua anak kelas 2 nggak ada lagi yang masih ditungguin orang tuanya, Cuma kamu doang! Tau nggak?”), memberi julukan/labelling (“Lagi-lagi mukul teman. Dasar anak nakal!”) dan banyak lagi.

Kenapa kita marah? 
Seperti yang jelas diungkapkan dalam kutipan di atas, adalah kemarahan muncul sesungguhnya dari sebuah kebutuhan yang tidak terpenuhi. Misalnya, di rumah kita memiliki kebutuhan untuk dapat memiliki rumah yang rapi dan bersih, jadi saat kebutuhan itu tidak bisa dipenuhi karena anak-anak kita menumpahkan minuman/makanannya di karpet kesayangan atau membiarkan mainannya berceceran di seluruh penjuru rumah, tentu dengan mudahnya kita akan marah kan? Sebagai orang tua kita juga punya kebutuhan untuk dihormati dan didengar oleh anak, jadi saat anak menolak untuk mendengarkan perkataan anda dan justru melawan, kemarahan menjadi respon otomatis kita.  

Memahami pentingnya mendewasakan diri sendiri
Satu fakta penting tentang kemarahan kita sebagai orang tua, adalah bahwa kita ini adalah role model bagi anak dalam mengatasi rasa marah dan mengendalikan emosi.  Hal ini sangat menginspirasi saya karena coba anda pikir, jika anda selalu menghadapi suatu setiap ketidaknyamanan emosional dengan marah-marah dan sikap yang lepas kendali, kira-kira akankah anak kita tumbuh memiliki pengendalian emosi yang baik? Rasanya nggak mungkin deh.
Jangan pernah lupa, dalam hubungan kita dengan anak, kitalah orang dewasanya. Hal ini berarti kita tidak bisa mengharapkan anak memahami segala keberadaan kita dan maklum. Dewasalah dan jadilah contoh.

Satu cara yang efektif untuk menempatkan diri di posisi anak anda saat anda sedang memarahinya adalah dengan mencoba membayangkan dirinya melihat anda sebagai orang tuanya (yang nota bene adalah satu-satunya SUMBER MAKANAN, TEMPAT BERTEDUH, RASA AMAN, PERLINDUNGAN, SUMBER SEGALA CINTA DAN KASIH SAYANG, SUMBER UTAMA AKAN INFORMASI TENTANG DUNIA INI DAN ORANG YANG PALING BERPERAN DALAM MEMBENTUK GAMBARAN DAN HARGA DIRINYA) berteriak-teriak dan mengatakan hal-hal yang tidak baik dan menyakitkan di depan wajah anda. Kalau menurut anda, bagaimana kira-kira perasaannya?

Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa sesungguhnya kita tidak perlu mengekspresikan kemarahan kita pada saat kita merasakannya. Karena penelitian tersebut membuktikan bahwa justru dengan mengekpresikan kemarahan pada saat itu juga, justru membuat kita lebih marah dari sebelumnya. Hal ini justru membahayakan hubungan kita karena akan membuat orang lain merasa takut, tersakiti dan bahkan merasa marah juga. Jadi adalah lebih baik untuk menyalurkan kemarahan kita secara fisik (misalnya memukul bantal, tanpa terlihat anak tentunya!) jika sangat perlu, tapi selanjutnya kita harus kembali menenangkan diri kita. Cara yang terbaik untuk mengahadapi kemarahan adalah dengan membatasi ekspresi kita seminimal mungkin dan pada saat kita sudah tenang, pelajari amarah itu dengan menanyakan pada diri kita sendiri; Apa yang membuatku begitu marah? Apa perasaan yang sebenarnya di balik kemarahanku; rasa takut atau sakit hati? Apa yang bisa kulakukan untuk memenuhi kebutuhanku yang tak terpenuhi dan apa yang bisa kulakukan untuk mengubahnya?

Saat kita marah, secara biologis, tubuh kita pun bereaksi. Jantung berdetak lebih cepat, pernafasan dan suhu tubuh meningkat, karena itulah kita cenderung ingin melepaskan ketegangan itu segera. Cara paling baik adalah dengan mengendalikan reaksi tubuh kita dan menarik nafas dalam-dalam, bila perlu hitung di dalam hati, jika masih belum hitung lagi lebih banyak, supaya kita bisa tetap mengendalikan diri. Jika benar-benar tak tertahankan, tinggalkan ruangan dan tenangkan diri. Lebih hebat lagi kalau bisa dibawa lucu, tertawa untuk melepaskan ketegangan dan mengubah mood kita.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengendalikan kemarahan, adalah bahwa kita harus menetapkan batasan pribadi bagi kita sendiri. Misalnya kita bisa menentukan, kalau kita benar-benar marah, kita mungkin akan menaikkan volume suara kita dan mengubah nada suara kita, tapi berkomitmenlah anda tidak akan memberlakukan hukuman fisik, menggunakan julukan, hinaan dan juga kata-kata yang sekiranya kasar dan menyakiti anak. Berikan juga batasan toleransi atas hal-hal apa yang sekiranya ‘layak’ membuat anda marah dan melakukan perilaku yang tidak dapat diterima, misalnya apabila perilaku anak sudah sampai membahayakan dirinya sendiri dan orang lain atau sangat merugikan dan berbahaya. Bisa juga berkaitan dengan nilai-nilai moral yang dianut keluarga (contoh: menghormati orang yang lebih tua, tidak boleh memukul orang lain, harus bermain bergantian/tidak boleh berebutan, tidak boleh mengejek/menghina orang lain, dst), dan anda hanya akan marah apabila terjadi pelanggaran terhadap nilai-nilai tersebut. Jadi kita bisa fokus pada banyak hal lain yang lebih penting daripada meributkan setiap hal kecil yang muncul.

Perlu juga untuk mengkaji kondisi emosi kita setiap saat, apakah selain dipicu oleh perilaku anak, apakah kemarahan kita itu dipengaruhi oleh, misalnya kita sedang bersitegang/berselisih dengan pasangan, teman, keluarga atau atasan. Apabila hari kita sedang berat, kondisi tidak fit/sakit, lelah bekerja atau karena penyebab lain, jangan ragu untuk menyampaikan dengan jujur pada anak tentang kondisi kita dan bahwa kita sangat mengharapkan mereka untuk bersikap dan berperilaku yang baik. Kejujuran kita adalah hal yang sangat penting dalam menjalin kedekatan dan rasa percaya kita dengan anak. Anak pun belajar bahwa orang tua hanya manusia dan memiliki keterbatasan, bagaimana pun ingat, andalah teladan baginya!

Last but not least, satu lagi yang teramat sangat PENTING untuk diingat adalah jangan pernah malu atau ragu untuk meminta maaf pada anak apabila anda terlanjur marah atau mengucapkan kata-kata yang tidak sepantaskan diucapkan, terlebih lagi bila kita melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan!  Betapa beruntungnya anak mendapat orang tua yang dewasa, berbesar hati dan mau mengakui kesalahannya. Tidak ada yang lebih baik daripada orang tua yang menjadi teladan manajemen kemarahan yang baik bagi anak-anaknya.

Saya ingin sekali berusaha mulai saat ini untuk menyapih diri dari kemarahan terhadap anak-anak saya. Saya tahu ini tidak akan mudah dan adalah proses belajar yang tentunya harus bertahap (persis seperti proses penyapihan pada umumnya) agar saya bisa fokus pada membangun kedekatan dan hubungan yang lebih baik lagi dengan kedua anak laki-lakiku tercinta. 

* Sebagian sumber dan inspirasi: www.ahaparenting.com
** gambar diambil dari sini
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...