Thursday, January 27, 2011

"Good Job!": Makna di balik pujian orang tua kepada anak

Semua orang tua pasti ingin selalu memuji anaknya. Selain karena cinta kita yang tiada tara pada mahluk-mahluk mungil buah hati kita itu dan juga karena memang hal itu penting bagi perkembangan mental anak. Pujian yang baik meningkatkan harga diri dan rasa percaya diri anak. Bahkan ada pepatah lama yang bunyinya: "Seorang anak diberi makan dengan susu dan pujian." menunjukkan bahwa sama seperti susu (makanan) yang penting untuk menutrisi dan menyehatkan tubuh, pujian atau penghargaan 'menyehatkan' jiwa anak. Kedudukannya setara, yang artinya sama penting dan saling melengkapi dalam keberadaannya.

Saya sendiri sejak membesarkan anak pertama sudah bertekad tidak akan pelit memberikan pujian dan berjanji apabila anak saya layak mendapat pujian, saya mau pastikan dia akan mendapatkannya! Setiap pencapaian, baik besar maupun kecil, saya berusaha menghargai dengan mengatakan, "Good job Arvin!" atau "Wuih, hebat!", atau "Wah bagus ya, keren!", tergantung situasi dan kasusnya, kemungkinan akan dilanjutkan dengan kata-kata seperti, "anak mama pinter banget deh!", atau "siapa dulu dong? Arvin!", atau "see I told ya, you can do it!", atau "Mama is so proud of you!". Kira-kira seputaran itulah. Saya merasa puas mengatakannya dan yang lebih penting lagi, Arvin selalu menyambut respon saya itu dengan senyum terindah di wajahnya, kadang tersipu, kadang dengan mata berkedip-kedip atau justru mengulangi lagi kata-kata yang saya ucapkan, hanya sekedar demi mengulangi kesengannya yang muncul dari pujian itu. Mungkin ini terdengar seperti hal yang bagus dan gambaran
yang indah. Benarkah?

Refleksi ini muncul waktu beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan memutar kembali rekaman-rekaman video Arvin dari bayi, batita, balita hingga yang lebih baru hingga yang terkini. Sebagian besar video tersebut menunjukkan dokumentasi saya tentang Arvin dan pencapaiannya. Ada yang menunjukkan Arvin di usia 1,5 tahun sedang membaca buku favoritnya bersama saya dan sudah turut 'membaca' kata-kata di buku tersebut karena memang sudah hafal (baca buku itu terus berulang-ulang). Saya dengan semangat memuji, "Good job Arvin!". Ada lagi video Arvin yang sudah bisa menunjukkan berbagai ekspresi wajah yang saya minta, kembali saya mendengar pujian yang kurang lebih sama. Sampai loncat beberapa tahun, video Arvin berusia 4 tahun dimana saya merekam pertama kali dia sukses membaca nob balok dan memainkan sebuah lagu dari buku pianonya, saya kembali mendengar pujian dari mulut saya yang bernada sama. Lalu saya mencoba memutar ingatan untuk pujian-pujian yang saya
berikan beberapa minggu atau justru hari belakangan ini, Ya ampun! Betapa membosankannya saya dan semua pujian "Good job, Arvin!" yang sudah saya katakan mungkin milyaran kali selama 5 tahun ini! Yikes! Salah satu faktor penting yang harus kita sadari sebagai orang tua adalah bahwa anak kita bertumbuh dan berkembang setiap harinya, begitu juga dengan kemampuan bahasa dan kognitifnya, anak mampu kok memahami kalimat yang lebih kompleks dari itu.

Dalam segala hal, kreativitas itu mutlak perlu. Begitu pula dengan pujian, seenggaknya itulah 'insight' yang baru saya pahami. Kalau dipikir lagi, kenapa sih saya memuji? Apa fungsinya dan apa yang harus saya lakukan agar pujian itu bermakna bagi anak saya bukannya seperti kata-kata klise yang cuma saya ulang-ulang?
Saya pikir, pujian diberikan karena kita ingin merayakan hal yang baik, positif, menyenangkan atau membanggakan dari anak kita. Kita memuji karena kita ingin anak tahu betapa kita turut bahagia atas apa yang dia lakukan, bahwa kita menghargai usahanya dan pada akhirnya kita jauh di dalam hati berharap ini akan membuat anak merasa senang, bangga, diterima dan yang lebih penting lagi, dicintai.

Saya pikir saya harus berusaha untuk lebih spesifik dalam memberikan pujian. Misalnya pada Arvin yang beberapa bulan belakangan mulai mandi sendiri, daripada sekedar bilang, "Good job kakak bisa mandi sendiri!", kita bisa bilang, "Mama bangga sekali lho kakak sudah mandi sendiri. Arvin sudah bisa pake shower puff, bisa buka sendiri pasta giginya, sikat gigi yang bersih, bagus banget kak!". Jadi anak dapat gambaran, apa sih sesungguhnya hal bagus yang kita puji itu. Contoh lain, anak menunjukkan PR menulis indah yang sudah dikerjakan, "Wow, tulisan kakak sekarang sudah tambah rapi ya? Sudah nggak miring-miring dan keluar garis lagi! Pasti kakak sering latihan ya..". Jadi nggak semata-mata memilih dari berbagai kata pujian saja (hebat, bagus, keren, oke, mantep dsb), tapi juga menunjukkan bahwa kita senantiasa memperhatikan perkembangannya.

Seringkali pujian juga dimaksudkan untuk memperkuat perilaku yang baik, berarti kita juga harus spesifik dalam pujian itu. Tekankan pada bentuk perilaku baik yang kita sukai itu. Misalnya anak berhasil mengangkat piring dan gelasnya sendiri, selain cuma berkata "good job", kita bisa katakan, "Wah, hebat ya Arvin sudah bisa angkat piring dan gelasnya sendiri ke dapur. Mejanya jadi rapi, nggak ada piring kotor, mama lihat juga hati-hati sekali pegangnya ya?". Pujian kita bisa memotivasi anak karena dalam pujian itu jelas bahwa kita menyukai 'perilaku membawa sendiri piring dan gelas ke dapur' karena 'meja jadi rapi' dan juga usaha anak yang 'memegang dengan hati-hati' disebutkan dengan jelas. Hanya segitu kok, kalimat yang sederhana, to the point dan jauh LEBIH BAIK dari pada sekedar "Good job" yang klise dan nggak jelas sebenernya 'job' mana yang 'good' itu, hehe.
Bentuk lain yang nggak kalah manis dan lebih sederhana adalah dengan mengucapkan terima kasih, terutama bila perilaku yang kita ingin puji adalah berupa bantuan dari anak. Misalnya, saat menggendong adik kita kesulitan membuka pintu dan si kakak membantu membuka pintu untuk kita. Katakan saja, "Terima kasih kakak sudah bukain pintu buat mama sama dedek ya.. Baik banget deh kakak." singkat dan selain memuji kita juga menunjukkan bahwa kita menghargai apa yang telah dilakukan oleh anak. Anak akan mengerti bahwa apa yang dia lakukan itu bagus dan sudah benar. Semua orang, tidak hanya anak-anak bereaksi lebih baik terhadap pujian dan kata-kata positif, jadi jangan ragu untuk mengatakannya.

Satu lagi 'dosa' saya dalam memuji anak yang saya sadari apalagi sejak anak kedua lahir dan hari-hari saya dipenuhi dengan tetek bengek urusan bayi, adalah pentingnya kontak mata saat memberikan pujian. Seringkali di saat saya sedang sibuk mengganti popok, menyusui atau menidurkan bayi, Arvin akan datang dan menunjukkan hasil gambarnya (hal ini bisa terjadi puluhan kali setiap harinya, karena Arvin SUKA SEKALI menggambar, sampai saya sendiri kadang ngeri dengan begitu banyaknya hasil karya yang bisa dihasilkan dalam seminggu! Bisa dijual kilo-an saking banyaknya!). Dia akan datang sambil memanggil saya, "Mama, mama, liat deh gambar Arvin!". Kadang di tengah kesibukan dan kerepotan, saya cuma menjawab sekenanya tanpa benar-benar memperhatikan 'masterpiece'nya itu. Pujian tetap keluar, tapi sepertinya di otak dan mulut saya sudah terinstall semacam software otomatis untuk mengatakan pujian-pujian dan memilihnya dari set direktori kata-kata pujian yang
sudah tersusun rapi. Memikirkan lagi hal ini membuat saya ngeri, kok mama jadi kayak robot ya?

Sedapat mungkin, dalam memberikan penghargaan atas usaha atau hasil kerja anak, berikan juga perhatian yang tak terbagi. Hal ini sangat berpengaruh pada harga diri anak, karena menunjukkan padanya bahwa dia adalah orang yang penting dan berharga untuk kita. Tidak harus menghabiskan waktu lama kok, paling hanya berarti meninggalkan handphone sejenak, beralih dari TV, menaruh setrikaan sebentar, berhenti melipat baju atau mematikan api di kompor sebentar! Pastikan kontak mata sehingga anak yakin kita sungguh-sungguh berminat dan memperhatikannya. Seringkali Arvin ingin menceritakan kisah menyenangkan atau lucu yang terjadi di sekolah, atau apa hal baik yang dia lakukan di sekolah tadi, apabila memang kita sedang dikejar waktu atau melakukan sesuatu yang sangat penting, kita bisa jawab, "Wah, pasti asyik banget ya ceritanya! Coba kamu ceritakan sedikit dulu, soalnya habis itu mama mau masak makan malem buat kita makan ya!". Biarkan anak tahu tentang kondisi
kita tanpa harus sama sekali mengacuhkan kebutuhannya.

Hal lain yang juga penting dalam memuji anak, adalah berikan pujian dengan melibatkan pihak ketiga dan PASTIKAN anak mendengarnya! Misalnya, saat papa pulang kerja, saat sedang mengobrol atau makan malam bersama, katakan "Pa, tadi siang kakak sudah selesaikan semua PRnya sendiri loh! Gak mama bantuin sama sekali, pas mama cek betul semua! Hebat kan pa kakak, anak rajin dia!". Pastikan anak mendengar dan janjian sama si papa kalau dia harus menimpali secara positif. Saya sering sekali melakukan ini, tidak hanya pada papanya, juga ke opa-oma, tante, om saat sedang bertelepon saya ceritakan pencapaian atau perilaku baik anak dan memastikan anak mendengar. Boleh juga saat sedang bertemu teman atau 'nenagga'. Yang ada, buntutnya, si anak malah merebut telepon dan ingin membagi ceritanya sendiri, atau ikut cerita tentang kejadiannya. Hehe. Anak perlu tahu bahwa bukan hanya kita yang menghargai, bangga dan mencintainya. Anak juga belajar bahwa perilaku baik
atau pencapaian yang membanggakan adalah hal yang disukai dan dihargai semua orang.

Jadi, marilah kita kreatif dengan pujian-pujian yang berbobot, bukan cuma kata-kata indah yang nggak jelas apa makna dan tujuannya. Selamat memuji!

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...